Wawancara Eksklusif Sutradara & Bintang "Total Recall": Len Wiseman & Colin Farrell

colin-len-ist
Colin Farrell dan Len Wiseman (dok.Sony Pictures)
TABLOIDBINTANG.COM -

Bagaimana sutradara dan pemain Total Recall menghadapi tekanan membuat film fiksi ilmiah yang sudah dianggap klasik?

PERBEDAAN waktu 14 jam dengan Los Angeles, AS memaksa kami, wartawan yang diundang wawancara via webchat bintang dan sutradara Total Recall, harus datang pagi-pagi sekali ke kantor Sony Pictures Indonesia, Senin (30/7) pekan lalu.

Maka, kami yang biasanya tidur lagi sehabis sahur, harus rela berangkat pagi agar sampai di tempat sesuai jadwal wawancara pukul 7 pagi.     

Bintang menjadi salah satu dari beberapa media di Indonesia yang diundang wawancara. Selain Indonesia, wawancara via webchat ini juga diikuti wartawan dari Singapura, Malaysia, dan Selandia Baru. Selewat pukul 7, setelah semua persiapan rampung, wawancara pun dimulai. Di layar monitor komputer, kami melihat dua pria duduk. Sebelah kanan adalah sutradara Total Recall Len Wiseman (39) di sampingnya Colin Farrell (36), bintang utamanya.        

Pertanyaan pertama dari wartawan adalah, “Kenapa membuat ulang film yang film aslinya belum lama dibuat? Bagamana kau membuat sesuatu yang beda dengan yang dulu?” Itu pertanyaan buat Wiseman.

Dijawabnya, “Cukup lama, kok. Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup lama, tapi yang mrmbuat saya tertarik memfilmkannya, jujur saja, adalah naskahnya.” Pun demikian saat hal yang sama ditanyakan pada Farrell. “Saya banyak ditawari film-film besar, film dengan banyak aksi, tapi tak ada yang menarik hati saya. Lalu datang (tawaran) film ini. This one did,” katanya. Farrell punya syarat sebelum memutuskan mengambil satu peran di film. “You have to love the script. That’s the one thing. Jatuh cinta dulu pada naskahnya.”

DSC 0002-1Well, rasanya susah untuk tidak jatuh cinta pada Total Recall. Aslinya, kisah ini adalah cerita pendek penulis fiksi ilmiah kawakan Philip K. Dick berjudul “We Can Remember It For You Wholesale”. Kisahnya tentang petualangan. Kabur dari rutinitas yang membosankan. Dan tentu, paranoia. Ijinkan mengutip awalan cerpennya di sini: “Dia terbangun—dan ingin ke Mars. Lembah-lembahnya, pkirnya. Bagaimana rasanya menjelajahinya … Dia hampir merasakan mengarungi isi lain dunia, yang mungkin hanya dilakukan agen pemerintahan dan pejabat tinggi. Pegawai rendahan sepertinya? Rasanya tak mungkin.”         

Yang sudah menonton film Total Recall versi sutradara Paul Verhoeven dua puluh tahun lalu yang dibintangi Arnold Schwarzenegger, pasti masih ingat petualangan Arnold menjelajahi Mars dengan identitas baru sebagai agen rahasia, didampingi gadis berambut coklat. Walau filmnya berhasil di mata pecinta fiksi ilmiah, Total Recall 1990-an dikenang orang awam sebagai sekadar “salah satu film Arnold.”

Dari situ kemudian menarik bertanya apa Total Recall versi 2012 akan dikenang sebagai sekadar “salah satu film Colin Farrell.” Tak dipungkiri, orang—terutama penyuka fiksi ilmiah yang jatuh cinta pada film aslinya—akan membandingkan versi 1990 dengan 2012. Apakah ada beban buat Wiseman dan Farrell menggarap ulang film yang dikultuskan macam Total Recall? Kami bertanya.

“Saya tak terlalu fokus pada tekanan itu,” jawab Wiseman. “Saya hanya berkonsentrasi membuat film yang bagus.” Pun Farrell, mengaku sebagai pecinta Total Recall versi Arnold, tak merasa tertekan. “Ada penonton di luar sana yang begitu menyukai Total Recall pertama dan merasa film ini tak seharusnya dibuat remake. Buat saya itu tak mengapa,” kata Farrell yang membintangi Minority Report (juga dari cerpen Philip K. Dick) bareng Tom Cruise.

Bagi Farrell, sebelum mengambil peran di Total Recall yang dipikirkannya adalah, “Seperti apa naskahnya? Saat filmnya nanti rilis, orang mengkritik dan membandingkan, apa mereka akan menyukainya?” Dan Farrell yakin, jawaban pertanyaan-pertanyaan itu adalah “Iya.” Ia berkesimpulan, “Filmnya berdiri sendiri. Meski filmnya punya inti cerita yang sama dan karakter-karakter yang sama, tapi punya nuansa yang beda. Dan beberapa orang bilang pada saya, seperti film yang beda.”

(ade/ade)