Cerita Abimana Aryasatya Mencari Tukang Urut di Paris

abimana-edensor2
Abimana Aryasatya (Foto: Seno/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

ABIMANA Aryasatya dapat "kenang-kenangan" dari Coboy Junior The Movie berupa cedera kaki. Tulang telapak kakinya retak. Tak bisa berjalan berminggu-minggu.

Sampai tiket pesawat menuju Prancis untuk syuting Edensor ada dalam genggaman, kaki Abimana masih bengkak. Selama syuting, bengkak dan rasa sakit terus menggelayut di kaki. Ada pengalamanan menarik ketika Abimana libur syuting.

Tak tahan dengan bengkak dan sakit, Abimana nekat mencari tukang urut. "Saya berpikir, siapa tahu ada orang Indonesia yang buka jasa urut di Paris. Saya pikir, di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), ada fasilitas pengobatan tradisional di sana. Ternyata tidak. Tapi saya bertemu dokter Prancis yang istrinya orang Solo, Jawa Tengah. Dia bisa berbahasa Indonesia dan Jawa," serunya.

Pada akhirnya, painkiller dijadikan solusi sementara. Tantangan lain, sebagian syuting Edensor berlangsung di bulan Ramadan. Kondisi fisik menurun karena durasi berpuasa di Eropa lebih lama, dari jam 4 pagi dan baru buka puasa jam 22. "Itu pengalaman luar biasa. Hari pertama kami berpuasa. Pada hari berikutnya kami mulai pikir-pikir. Sebagian malah ada yang menyerah," akunya.

Itulah romantika syuting di negeri orang. Mesti beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan mesti menahan rindu lantaran jauh dari keluarga. Selama 28 hari Abimana pisah dari istri, Nidya Ayu (Inong). Jauh pula dari keempat buah hatinya: Abel, Satine, Bima, Langit. Teknologi komunikasi memudahkan segalanya. Komunikasi dijalin lewat ponsel cerdas dan aplikasi Skype.

Nyaris sebulan menghirup udara Prancis, Abimana menyimpulkan, tidak ada tempat senyaman rumah sendiri. Prancis tidak seindah yang dibayangkan. Angka kriminalitas cukup tinggi. Bau pesing seperti ibu kota republik. Mayoritas penduduknya kurang terampil berbahasa Inggris.

"Menonton film di televisi pun, dialognya di-dub dalam bahasa Prancis. Bahkan, saat saya menonton The Raid di televisi, di-dub ke bahasa Prancis. Menonton bioskop pun, di-dub ke bahasa Prancis. Itu bikin saya syok," urainya panjang. Menyinggung soal makanan, KBRI di Prancis mengobati kerinduan Abimana terhadap makanan lokal.

"Di kantin KBRI ada tahu, tempe, bahkan siomay dan pempek pun ada. Kecuali kalau tiba-tiba ingin kopi luwak, harus menunggu sebulan. Kopinya mesti dikirim dulu. Saya nyeruput kopi tubruk. Syaratnya, harus tiba di kantin KBRI sebelum jam 12 siang. Kalau sudah lewat jam 12 pastinya habis diserbu pembeli," katanya.

Yang pasti, Abimana tidak lupa membeli oleh-oleh. Selusin kaus dan celana buat si kecil sudah rapi mengisi koper sebelum terbang kembali ke Jakarta.    

(wyn/adm)