Ratu Tika Bravani: Main Film Lagi Boleh, Main Sinetron Jangan!

TABLOIDBINTANG.COM -

FILM-film buatan Deddy Mizwar kerap melahirkan bintang-bintang baru yang tak hanya memesona secara fisik tapi juga kualitas kerja. Dalam film Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Deddy memasang wajah baru None Jakarta Barat 2009, Ratu Tika Bravani (20), untuk memainkan peran Pipit. Hasilnya, Tika yang tercatat sebagai mahasiswi semester 2 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tampil bak pemain berpengalaman, hingga menuai pujian dari Deddy sendiri.

Main di film garapan Deddy Mizwar bagi Tika ibarat rezeki nomplok. Saat libur kuliah Januari lalu, putri Deddy yang juga rekan Tika saat dikarantina dalam pemilihan Abang None Jakarta tahun lalu, Senandung Nacita, menelepon Tika dan memintanya untuk mengikuti audisi.

“Katanya karakter Pipit mirip Tika Bravani yang asli. Tomboi dan lincah. Jadi dicoba saja deh. Padahal sudah mendekati seminggu sebelum syuting dan belum ada pemeran Pipit yang pas,” kata Tika.

Tika datang ke kantor Deddy dan diuji langsung Deddy. Tika grogi bukan main. Maklum, itu kali pertama bertemu dengan Deddy, idolanya dalam film Naga Bonar Jadi Dua. Keringat dinginnya makin membasahi sekujur tubuhnya setelah mendapati pemain-pemain film senior, macam Slamet Rahardjo, Rina Hasyim, Jaja Miharja, dan Tio Pakusadewo juga ikut bermain di film ini.

Setelah membaca skenario berulang-ulang hingga memahami karakter Pipit, pada H-2 Tika diputuskan menjadi Pipit.

“Syok banget. Bagaimana enggak. Dari mahasiswi biasa yang kebetulan lagi libur langsung dapat tawaran film,” ceplos dia.

Tika kemudian berbagi kebahagiaan bersama ibu dan neneknya. Awalnya, keduanya khawatir karena dinilai bisa mengganggu pendidikannya. Tapi, cewek kelahiran Denpasar, 17 Februari 1990 ini mencoba meluluhkan. Salah satu caranya dengan memberikan skenario film kepada ibunya.

"Keluarga saya basic-nya akademis. Setelah membaca naskahnya dan tahu lawan mainnya siapa saja, baru Ibu membolehkan. Lagi pula waktu syutingnya juga enggak lama," kata Tika lega.

Giliran Tika yang dilanda cemas. Dia takut penampilannya mengecewakan. “Jangan sampai nanti Om Deddy menyesal memilih saya," ucap Tika yang banyak mendapat pelajaran akting dari Deddy.

“Beliau sosok pemimpin yang baik, tidak pernah memarahi saya secara frontal, dan selalu mendidik serta memotivasi saya supaya bagus. Contohnya, dia sering bilang, akting itu bukan pura-pura. Akting itu pikiran dan perasaan yang elahirkan suatu perbuatan,” sambung pengagum berat Al Pacino.

Lambat laun, rasa percaya dirinya muncul. Terlebih setelah melihat anak-anak jalanan berperan sebagai pencopet -- awalnya Tika pikir mereka pemain teater. "Ternyata mereka baru main (film) juga," kata dia, sempat kaget karena harus syuting di kawasan yang kumuh, berdebu, dan panas.

“Suasananya sangat meneror deh. Tapi saking kami ingin menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang sebenarnya, jadi dibuat enjoy saja,” tambah Tika seru. Dia akhirnya mampu menuntaskan tugasnya. Bahkan saat melihat hasilnya, dia menitikkan air mata.

“Sedih banget deh. Apalagi terakhir lagunya, ‘Tanah airku tidak kulupakan/ Kan terkenang selama hidupku...,’” aku Tika sambil menyenandungkan sepenggal bait lagu wajib nasional berjudul “Tanah Airku”.

Tika agak miris dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Misalnya, sarjana susah dapat pekerjaan, orang berebut kekuasaan hanya demi ego masing-masing. Ada yang salah dong di negeri ini?

“Ada dong. Pada pasal 34 disebutkan, fakir miskin dan anak telantar dipelihara negara. Tapi ternyata malah meributkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Saya enggak tahu salah di mananya, bingung,” Tika mengutarakan kegelisahannya.

Untuk membenahi kondisi itu, lanjut Tika, dibutuhkan waktu cukup lama dan kesadaran semua pihak. “Saya dan teman-teman pengin bikin sekolah nonformal. Tapi belum tahu cara merealisasikannya. Jadi mending saya belajar dululah,” kata dia.


Lahir sebagai anak pertama dari orangtua yang akar pendidikannya sangat kuat, sejak kecil Tika dididik mandiri dan isiplin. Terbukti dengan cara itu, potensi terpendam Tika keluar.

“Orangtua mendidik saya dengan memberi keleluasaan seluas-luasnya. Enggak pernah mengatur macam-macam. Demokrasi yang bertanggung jawablah. Tapi yang jelas harus jadi seseorang. Enggak berat juga, karena dari diri juga pengin jadi seseorang,” kata Tika yang waktu kecil bercita-cita jadi dokter ini.

“Orangtua setuju, asal semua kegiatan yang saya lakukan berada di jalur yang positif,” lanjut dia. Rasa ingin tahu yang besar membuat Tika yang menilai sistem pendidikan di Indonesia sedang dalam tahap “coba-coba” ini tertantang mencoba hal-hal baru.

Terjun ke dunia hiburan buat Tika sebatas hobi. Bukan profesi.

“Saya suka seni peran karena pernah ikut ekskul teater di SMP dan SMA. Tapi kalau untuk menjadi tujuan hidup saya, sepertinya tidak. Kalaupun harus masuk lebih dalam, saya penginnya jadi aktris, bukan artis. Bukan sensasi juga yang ditinggikan, tapi prestasinya. Kalau lifestyle, insya Allah saya masih sesederhana ini,” ungkap pemilik tinggi badan 165 cm dan berat 50 kg ini.

Ya, kesederhanaan Tika terlihat jelas. Ketika datang ke kantor Bintang, dia hanya mengenakan pakaian santai. Bicaranya ceplas-ceplos. Tidak jaim.

Tika diwanti-wanti oleh orangtuanya agar menyelesaikan kuliah tepat waktu. “Kalau ada tawaran main lagi, saya akan mempertimbangkan. Kalau waktunya pas, ceritanya bagus, enggak picisan, dan lawan mainnya mendukung, ya mau. Insya Allah saya enggak mengejar honor, tapi apresiasi seninya,” jelas Tika.

Lain film, lain lagi sinetron. Di mata Tika, cerita sinetron kadang berlebihan. Itu sebabnya, dia benar-benar tidak suka sinetron. Bagaimana kalau nanti ada yang menawari dengan honor yang menggiurkan?

“Amit-amit deh jangan sampai! Masa saya enggak sesuai omongan sih. Sekali enggak suka, ya enggak suka,” tegas alumnus SMA Negeri 70 Jakarta.

(ind/gur)

 

{JaThumbnail off}