Ghaida Tsuraya (Putri Tertua Aa Gym): Sekarang Ayah Lebih Tenang

aa-gym-ghaida
Aa Gym dan Ghaida
TABLOIDBINTANG.COM -

Ghaida Tsuraya membenarkan, setelah ayahnya berpoligami, kunjungan jemaah ke Daarut Tauhid berkurang. Tapi bersatunya kembali kedua orangtuanya tak ada hubungan dengan itu. Bagaimana sikap Ghaida soal poligami?

Tak lama setelah Aa Gym menikah lagi, Ghaida membenarkan PT Manajemen Qolbu mengalami kerugian karena banyak jemaah yang enggan memakai produk yang dikeluarkan Manajemen Qolbu. Salah satunya, masyarakat enggan meminum air mineral MQ, yang diproduksi Manajemen Qolbu. Kondisi perusahaan yang tidak sehat itulah yang membuat Aa Gym menjual beberapa asetnya. “Sekarang tinggal MQTV dan usaha travel yang masih jalan. Alhamdulillah MQTV sudah untung,” ucap Ghaida.

Tapi Ghaida membantah, bersatunya kembali orangtuanya karena bangkrutnya beberapa usaha. Justru, banyak hikmah setelah beberapa bisnis milik ayahnya lesu. Ayahnya sekarang tidak lagi supersibuk, Aa Gym kini lebih memperhatikan anak-anaknya. Bahkan Ghaida merasa hidup ayahnya lebih tenang. “Dulu, ayah selalu menargetkan karyawannya harus mencapai target. Target inilah, itulah. Sekarang, alhamdulillah, ayah lebih tenang,” ucapnya.

Ghaida sebenarnya juga menentang poligami. Bahkan saat tahu Aa Gym menikah lagi dengan Teh Rini, Ghaida yang emosional. Wajar emosi, karena dia seorang perempuan, seorang istri dan seorang ibu. Sama seperti wanita lainnya, Ghaida tidak mau jika suaminya berpoligami.

Saking emosionalnya, Ghaida menanyakan sikap ayahnya, jika anaknya dipoligami. Mendapat pertanyaan itu dari putri kesayangannya, Aa Gym terdiam beberapa saat. “Ayah menjelaskan kepada saya, takdir setiap orang berbeda-beda. Ayah juga bilang, semua ini sudah takdirnya. Saya dan adik-adik diminta mengikhlaskan. Kini, saya sudah mengikhlaskan takdir orangtua saya,” tegas Ghaida.

Sepengetahuan Ghaida, adik-adiknya tidak terganggu keputusan ayahnya untuk menikah lagi. Justru pemberitaan media yang menyudutkan kedua orangtuanya yang mengganggu aktivitas mereka. “Awalnya, saya yang tidak bisa menerima Ayah berpoligami, sedangkan adik-adik saya tenang-tenang saja. Mungkin juga karena mereka masih kecil,” ucapnya.

(ej/yb)