Susahnya Hidup Keluarga Dicky Chandra Pasca Mundur Jadi Wakil Bupati Garut

Dicky Chandra, Rani Permata
Dicky Chandra & Rani Permata (Foto:Dok. BintangOnline)
TABLOIDBINTANG.COM -

RANI Permata pernah merasakan kesulitan ekonomi.

Dialaminya setelah Dicky Chandra mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Bupati Garut. Beban Rani makin berat karena harus hidup terpisah dengan 2 anaknya.

Ketika Dicky Chandra (38) meletakkan jabatan Wakil Bupati Garut, Rani Permata (35) selalu menguatkan hati sang suami agar tetap bersemangat menatap masa depan. Namun, saat meninggalkan rumah dinas Wakil Bupati Garut pada 11 November 2011, Rani tak kuasa membendung air matanya. Apalagi pendukung Dicky meratapi kepergian mereka.

Kesedihan Rani berlipat-lipat. Pertama, harus berpisah dengan masyarakat Garut yang dia cintai; kedua harus berpisah dengan dua anaknya yang tetap tinggal di Garut karena alasan sekolah; dan terakhir kesulitan ekonomi. Rani makin miris setibanya di rumah mereka di Cileungsi, Bogor.

Dua tahun kosong, rumah itu tidak layak huni. Anak bungsu mereka, Dzikra Fitri Chandra (5), tidak mau masuk ke dalam rumah dan menangis. Dzikra yang pada Rabu (6/3) lalu dirawat di rumah sakit karena tifus, ingin kembali ke rumah dinas.

"Kondisi rumah yang tidak layak huni, berpisah dengan anak-anak, dan kondisi Dzikra yang terus menangis ingin balik ke rumah dinas Wakil Bupati Garut membuat cobaan ini terasa berat. Saya dan Kang Dicky menangis, ungkap Rani.

Masalah Anak-anak Lebih Besar Daripada Masalah Ekonomi
Dzikra, yang belum terbiasa tinggal di rumah itu, jatuh sakit. Kondisinya makin parah karena berpisah dengan kakak-kakaknya yang masih tinggal di Garut. Sudah dibawa berobat, kondisi Dzikra masih lemah. Rani-Dicky pun membawa Dzikra ke psikiater anak. Ternyata, Dzikra butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

"Persoalan seperti ini sebelumnya tidak pernah kami duga. Awalnya, kami hanya fokus pada masalah ekonomi. Ternyata masalah anak-anak justru lebih besar daripada masalah ekonomi. Berpisah dengan dua anak, membuat hidup kami kurang sempurna," ucap Ketua B2TPAA Garut.

Rani perlahan-lahan memberi penjelasan perihal kepindahan mereka pada Dzikra. Ibu Cindy Arlinda (17) dan Diffa Mahachandranegara (12) ini juga mengajak Dzikra untuk mengenal lingkungan sekitar rumah. Rani berusaha mencari hal-hal yang bisa menarik perhatian Dzikra. Lambat laun, Dzikra betah dengan rumah dan lingkungan baru.

Masalah lainnya datang dari anak-anak pasangan ini yang masih tinggal di Garut. Di Garut, Diffa dititipkan di rumah saudara Dicky, sedangkan Cindy kos di dekat sekolahnya. Bukan hal mudah tiba-tiba mereka terpisah dari orang tua. Sejatinya, kehilangan fasilitas sebagai anak Wakil Bupati Garut saja sudah jadi beban bagi anak-anak.

"Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah saya. Saat Kang Dicky memutuskan mundur dari jabatannya, saya sudah memberi pengertian kepada anak-anak, terutama dampaknya. Yang besar bisa mengerti dan memahami keputusan ayahnya, tapi sulit bagi anak-anak kami yang masih kecil," ucap peraih Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden RI tahun 2011.

Rani menasihati anak-anaknya dengan pendekatan agama; dia memberi contoh tentang perjuangan Rasul dalam mengatasi setiap kesulitan. "Kami ajak anak-anak untuk makin mendekatkan diri pada Allah SWT dan hidup mandiri," ujarnya. Rani juga berpesan, jabatan yang pernah dipangku ayah mereka jangan sampai membuat mereka besar kepala.

"Saya selalu tekankan kepada anak-anak agar membaur dengan masyarakat dan selalu menjaga nama baik keluarga," jelas Rani.

(ej/adm)