Ust. M. Nur Maulana (bag.2): Jemaah Protes, Ban Motor Digembosi

ustadz-muhammad-nur-maulana-panji
Ustadz Muhammad Nur Maulana (Panji/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

SEJAK kecil Nur Maulana sudah bercita-cita menjadi seorang ustadz. Namun keinginan itu sempat pudar ketika ayahnya meninggal dunia, saat ia berusia 7 tahun. Pada usia 9 tahun pria asli Bugis ini hidup mandiri dan tidak pernah minta uang kepada ibunya.

“Tidak tega saya minta uang kepada ibu, kondisinya sangat memprihatinkan. Bahkan untuk beli buku paket saja saya tidak mampu,” urainya.

Nur Maulana kecil lalu belajar ilmu agama di Pesantren An-Nahdlah, Makassar. Menimba ilmu di pesantren ini membangkitkan kembali cita-citanya untuk menjadi pendakwah.

“Saya belajar agama, dari pagi hingga malam. Saya menjalaninya dengan senang,” ucapnya.

Saat duduk di kelas 1 SMP, Nur Maulana memberanikan diri ceramah. Gaya berdakwahnya seperti itu sempat dipandang sebelah mata teman-temannya. Awalnya ceramah di lingkungan pesantren, kemudian merambah ke acara syukuran, bahkan dari desa ke desa terpencil.

“Dari dulu, gaya ceramah saya seperti ini. Suka memperagakan suatu cerita dengan gerakan-gerakan lucu. Saat mengajar di TK, SD, dan SMP, gaya saya seperti sedang ceramah. Makanya anak-anak senang kalau saya mempraktikkan sesuatu dengan gerakan. Misalnya gerakan nenek tua yang jalan atau cara ibu memberi perhatian pada anakanaknya,” urainya.

Gaya berceramah Nur Maulana ini saat itu juga sudah mengundang protes. Saat ceramah di suatu masjid, dia dihampiri seseorang yang melontarkan protes.

“Saya jelaskan kepadanya, gaya saya memang seperti itu. Tapi saya senang, akhirnya mereka bisa menerima materi ceramah saya, bahkan sempat tertawa,” ucapnya.

ustadz-muhammad-nur-maulana-panji3

Bentuk protes lain berupa pengempisan ban motor dan busi motornya diambil. Dia terpaksa mendorong motor hingga puluhan kilometer. Itu belum seberapa dibanding pengalamannya saat masih SMA. Usai sekolah, sorenya dia mengajar anak-anak SMP. Setelah maghrib, dia lanjut berdakwah ke pelosok desa-desa terpencil, yang hanya bisa ditempuh dengan bersepeda atau jalan kaki.

“Saya pernah ceramah, jaraknya jauh sekali dan harus jalan kaki. Makin sedih saat musim hujan. Walau sudah pakai payung, tetap saja baju basah,” kenangnya.

Untuk menempuh jarak puluhan kilometer itu, dia juga pernah menumpang truk terbuka. Sering kali, dia tidak mendapat uang transportasi. Namun itu bukan tujuan utamanya; dia senang berbagi ilmu. Kalaupun dipaksa menerima bayaran atau amplop usai ceramah, akan diberikan kepada ibunya. Hal itu berlaku hingga kini.

“Dari tahun 1988 hingga 2000, semua amplop yang saya terima saya serahkan kepada Ibu. Tahun 2000 hingga 2008, uang yang ada di dalam amplop dibagi dua, untuk ibu dan cicilan motor saya. Dari 2008 hingga kini dibagi 3, untuk Ibu, istri saya, dan saya. Saya juga tidak mau tahu nominalnya. Saya lakukan hal itu karena saya ikhlas dalam mensyiarkan agama,” urai Nur Maulana, yang juga menyelingi wawancara ini dengan gurauan.

bersambung...

(ej/gur)