Aiko Sarwosri: Menolak Skandal, Terjebak di Pulau Hantu

AIKO-SARWOSKI-markuat
Aiko Sarwosri (Markuat/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

APA hebatnya pendatang baru Aiko Sarwosri (22), hingga dua kali Jose Purnomo menghubungi dan mengajaknya terlibat dalam produksi film?

Aiko sebenarnya tidak baru. Pengagum Angelina Jolie ini menggeluti modeling dari kecil, saat masih tinggal di Medan. Karena tuntutan profesi orangtua, cewek setinggi 167 cm ini berpindah-pindah tempat. Mama yang mengarahkannya ikut lomba catwalk sejak kelas 2 SD.

“Waktu itu saya juara kedua. Menang lagi juara kedua lomba fotogenik kelas 6 SD,” ungkapnya saat bermain ke kantor Bintang pekan lalu.

Setelah lusinan kemenangan, cewek kelahiran 6 Mei ini tidak mendalami modeling dengan kursus. Ia belajar secara otodidak. Sampai sebuah tragedi menimpa keluarganya. Pada 26 Desember 2004, gempa dan tsunami menerjang Serambi Mekkah.

Getarannya terasa hingga ke Medan. Saat itu, tangan Tuhan masih menyelamatkan keluarganya. Hanya, tepat pada hari terakhir tahun itu, Sang Khalik “menjemput” Titiek Dyah Sarwosri, mamanya akibat serang penyakit darah tinggi. Tanpa jeda panjang, papanya, Eye Warja Isra, menghadap Tuhan pada 8 Juli 2005. Inilah pukulan batin bagi Aiko yang saat itu masih pelajar SMA. Ia drop.

“Tante menemani dua bulan, lalu mengajak saya pindah ke Jakarta. Saya iyakan ajakan Tante karena tidak ada lagi keluarga yang tersisa di Medan,” Aiko menukas.

Hanya kakak kedua, Iqbal R Isra, yang masih di Sumatera karena memiliki perkebunan jeruk. Sementara kakak sulung, Andre Kauzi Isra, bekerja di Angkatan Udara dan ditempatkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Kiprah Aiko di Ibu Kota dimulai dengan kuliah D-1 public relations di salah satu universitas swasta. Pada 2009, keberuntungan menghampiri. Penyuka Lady Gaga ini diajak temannya, Aang, bikin demo rekaman. Suara Aiko dites.

“Ketika suara itu didengar Lulu, personal manager The Titans dan Five Minutes, mereka suka. Proses di studio rekaman 30 hari,” paparnya.

Aiko tidak sendiri. Ia dipertemukan dengan Muthia. Duet ini disebut Wonder Woman. Singel pertama mereka, “Tak Mungkin”, karya gitaris Five Minutes, Irul.

Sayangnya, karier duet ini hanya bertahan setahun. Butuh waktu dan pengertian mendalam untuk memahami rekan kerja. Aiko baru tahu bagaimana rekannya kalau sedang bad mood dan marah. Begitu pun sebaliknya. Mood jadi faktor penentu.

Padahal sepanjang 2009, Wonder Woman gencar promo di radio. Aiko berpikir, menyenangkan menyanyi berdua. Kalau yang satu luput, personel lain menyokong. “Yang saya alami dalam Wonder Woman tidak begitu. Akhirnya, saya mundur dan mencoba berkarier solo tahun ini,” imbuhnya.

Dua Kali Ditelepon Jose Purnomo

Aiko melanjutkan impian menjadi model di Jakarta. Seorang teman membuka butik di Kemang. Aiko diminta memperagakan beberapa busana di depan para undangan. Lalu difoto untuk materi katalog dan etalase butik. Dari sini, jaringan ke beberapa fotografer terbuka. Salah satunya, sutradara Jelangkung, Jose Purnomo. Jose menyimpan nomor ponsel Aiko.

“Saya sedang promo tur ke luar kota, Surabaya, Bang Jose menghubungi. Dia bilang, ‘Aku lagi bikin film Skandal, dengan Mario Lawalata dan Uli Auliani, kamu mau ikut?’ Tawaran yang menggiurkan, tapi jadwal tur masih rapat,” kenang Aiko yang hobi memasak, membaca, juga traveling. Begitu Jose tahu Aiko hengkang dari Wonder Woman, lagi-lagi ia menghubungi Aiko.

“Hei, saya sedang menggarap film baru, Pulau Hantu 3. Kamu ikut kasting gih. Siapa tahu peran ini cocok,” sapa Jose dari ujung telepon.

Aiko datang. Ini yang namanya jodoh. Aiko langsung diterima. Ia mendampingi Boy Hamzah dan Shinta Bachir. Sebelum proyek Pulau Hantu 3 dieksekusi, Aiko sudah dibekali akting dari beberapa proyek FTV.

Ceritanya, Aiko jalan-jalan ke mal. Ia iseng menghubungi teman, menanyakan kabar. “Aku lagi break syuting. Kamu ke sini saja,” jawab si teman. Aiko menyambangi lokasi syuting. Di sana, ia diminta kru balik ke lokasi syuting besok pagi untuk menjajal peran. Akhirnya, Aiko mendapat peran pendukung di produksi FTV. “Honor pertama saya ingat sekali, 700 ribu,” ujarnya terus terang.

Sejak itu, Aiko rutin membintangi beberapa FTV seperti Dayang Sumbi, Kembang Gunung Lawu, dan Cinta Anak Belasan. Aiko menyimpulkan, profesi model menghubungkannya ke banyak orang penting di industri hiburan.

“Profesi model bisa dibilang batu loncatan, tapi tidak semua model bisa memanfaatkannya untuk meloncat,” simpul bintang FTV Demi Cinta dan Waktu Keysha.

Biasanya model diundang untuk sesi foto majalah. Lalu, majalah beredar, dan sang model dikenal khalayak luas. Mulai dari publisis, awam, orang film, agensi, dan lain-lain. Tawaran demi tawaran berdatangan. Salah satunya, pemotretan untuk majalah pria dewasa.

Menolak Lima Tawaran Foto Majalah Pria Dewasa

Beberapa kali tawaran itu menghampiri Aiko. Ia menolak. “Ada lima tawaran, saya tidak mau karena terlalu berisiko. Saya belum berani. Apalagi kalau pemotretan untuk lingerie. Anda tahu, lingerie zaman sekarang bentuknya aneh-aneh,” elaknya.

Meski demikian, Aiko berani berbikini dalam Pulau Hantu 3. Jose berhasil meyakinkan, ini akan baik-baik saja.

“Kalau ditanya apa lebihnya saya, sampai dilirik sineas sebesar Bang Jose, saya kurang tahu. Tapi, kesempatan tidak datang dua kali. Kalau merasa punya kapasitas dan kesempatan itu datang, sebaiknya dijawab dengan memberi kemampuan terbaik,” Aiko berpendapat.

Aiko menjalani syuting di pesisir Jawa Barat. Syuting terbagi dalam beberapa segmen. Syuting pertama makan waktu 11 hari. Setelah jeda, balik lagi ke tempat yang sama empat hari dan syuting di studio alam tiga hari. Syuting di pesisir menjadi pengalaman tidak terlupakan. Ia ingat ketika ingin ke toilet di belakang lokasi. Ada dua pemain yang hendak buang air kecil. Pertama, Shinta Bachir.

Setelah buang air kecil, Shinta baik-baik saja. Giliran Aiko, ia merasa punggung merinding. Toilet itu berbentuk kotak, terbuat dari kayu dengan atap terbuka serta pancuran air di salah satu sudut.

“Ketika mendekati toilet saya melihat kepala dengan rambut acak-acakan. Matanya merah. Tangannya memanjang, mengarah ke saya. Tiba-tiba pergelangan tangan saya dicengkeram dua telapak tangan. Saya menjerit sekenanya. Bang Jose yang sedang mengarahkan pemain lain membentak: ‘Heh, Diam! Berisik!’ Saya tidak tahu namanya makhluk itu,” paparnya panjang.

(wyn/gur)