Kris Biantoro, Pasrah Meski 38 Tahun Memiliki Ginjal Soak

kris-biantoro-ej
Kris Biantoro (EJ/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

 MERDEKA! Sapaan lantang dan penuh semangat diteriakkan Kris Biantoro saat Bintang menyambangi rumahnya yang asri di daerah Cibubur. Kami sempat terkejut melihat penampilannya yang tetap semangat.   

Kami langsung teringat dengan gaya khas MC kondang ini saat menjadi bintang iklan Rinso atau ketika tampil di TVRI tahun ‘80-an. Dari penampilan fisik, sekilas Kris tak tampak sedang sakit.

Padahal beberapa minggu sebelumnya dia sempat dirawat di rumah sakit. Tubuh kakek dua cucu ini masih tampak gagah, ucapannya lantang, pendengaran, dan memorinya masih bagus, bahkan untuk menulis dan membaca dia tidak menggunakan kacamata.

Namun bekas luka di lengan kiri dan cara minum Kris yang hanya beberapa tetes air saja menandakan kondisinya sedang tidak sehat.

“Saya hanya minum beberapa tetes saja. Jika terlalu banyak, paru-paru saya bisa penuh air. Padahal penderita batu ginjal harus banyak minum air putih. Fungsi ginjal yang hanya 30 persen membuat saya tidak boleh minum banyak,” ucapnya santai.

Kris pandai menyembunyikan penyakit. Selama 38 tahun, banyak sahabat dan rekan kerjanya yang tidak tahu jika dia sakit ginjal. Berbicara selama 1 jam lebih dengan suami Maria Nguyen Kim Dung ini sesekali napasnya tersengal-sengal.

“Kalau sudah sesak, saya pakai selang oksigen. Pagi ini luar biasa, napas saya masih bagus,” ucap Kris sambil berjalan menemani Bintang melihat foto-foto yang mendokumentasikan aktivitas Kris saat berjaya di dunia entertainment. Mulai dari MC, presenter, pemain film hingga penyanyi.

“Ini istri saya, yang selalu setia mendampingi dalam suka dan duka. Dia wanita paling hebat dan sabar di dunia,” ujar Kris sambil menatap mesra foto dirinya dengan sang istri.

Kris kini tinggal berdua dengan istri, ditemani pembantu dan tukang kebun di rumah megah nan asri itu.

“Tanaman yang ada di sekitar rumah, semua saya yang menanam,” ucapnya.

Kicauan berbagai jenis burung dan gemericik air, melahirkan alunan musik yang bisa menenteramkan pria yang memiliki nama asli Rahmat Riyadi ini. Mengelilingi halaman rumah sudah lama tidak dilakukannya.

“Saya sudah tidak kuat lagi. Bahkan untuk ke kamar saya yang berada di lantai 2, saya sudah tidak bisa. Dengan pertimbangan itu saya memutuskan tidur di ruang tamu,” ucapnya.

Ginjal Hanya Berfungsi 30 Persen

Bertahun-tahun melawan gagal ginjal tidak hanya mengharuskan ayah dua anak ini harus cuci darah selama 2 tahun terakhir tapi juga sempat dirawat beberapa kali di rumah sakit. Yang paling parah pada November 2009, dia mengalami simtom pra koma.

Kala itu ingatannya mulai memudar, bahkan tidak mengenali sahabatnya, Koes Hendratmo, yang sempat menjenguknya. Tubuh gagah itu pun terkulai lemas di atas kasur. Semangat hidup Kris yang kuat mampu melewati
fase tersebut.

Sejak kejadian itu, Kris rutin melakukan cuci darah, sehingga kondisinya membaik. Tak mau berdiam diri dan waktunya terbuang sia-sia, Kris kembali menyiapkan buku keduanya pada tahun 2010.

Buku pertama, Manisnya Ditolak, rilis pada 2004. Buku terbaru berjudul Belum Selesai, sudah beredar, mengisahkan 38 tahun perjuangan Kris untuk tetap hidup meski ginjalnya berfungsi 30 persen saja. Buku ini mengisahkan awal mula batu ginjal yang diderita Kris, upayanya berobat, operasi cangkok ginjal hingga akhirnya harus rutin cuci darah.

“Meski dalam kondisi terkulai lemas pun saya berusaha hidup saya ini bisa menjadi berkah bagi orang lain,” ucap Kris dengan suara terbata-bata menahan air mata. Kris sebisa mungkin tidak menangis selama diwawancara Bintang.

“Saya tidak mau air mata saya jatuh. Saya bukan cengeng, saya kuat menghadapi semua ini, namun kadang-kadang saya tidak kuasa menahan air mata ini saat bertemu dengan orang dekat atau terkenang perjalanan hidup saya,” ucapnya.

Buku kedua Kris Biantoro, sangat bermanfaat bagi siapapun, baik mereka yang sakit ginjal maupun tidak. Buku ini sangat inspiratif dan disajikan dengan ringan.

“Buku ini tentang penderitaan saya selama 38 tahun sakit ginjal. Namun pembaca juga terhibur dengan humor saya. Hasil penjualan buku saya sumbangkan untuk anak-anak dan pemuda Indonesia yang mengalami gagal ginjal, seperti saya,” urainya.

Kris memiliki selera humor tinggi, bahkan dalam kondisi terbaring lemas, dia berhasil membuat Koes Hendratmo tertawa. Kris menceritakan betapa bahagianya menyambut kelahiran cucu pertama.

“Begitu cucu pertama lahir, saya dan istri selalu bergantian menggendongnya. Namun pada malam harinya, saya sedih karena harus tidur dengan nenek-nenek, hehehe,” guyon Kris.

Gaya Hidup dan Pola Makan Memicu Batu Ginjal

Pola makan dan gaya hidup pria kelahiran 17 Maret 1938 ini diduga menjadi penyebab penyakit yang kini dideritanya.

Saat muda Kris suka berwisata kuliner. Jeroan, makanan bersantan, daging, susu, cokelat, kacang-kacangan hingga daun singkong menjadi makanan favoritnya.

“Hampir setiap hari saya makan makanan Padang. Enak dan sulit dihindari,” ujarnya. 

Gaya hidup tidak sehat berubah menjadi malapetaka bagi Kris pada 1972 saat itu usianya masih 34 tahun. Pukul 2 pagi Kris tiba-tiba terjaga. 

Perut nyeri, sakitnya merambat ke pinggang. Ia berkeringat dingin dan mual-mual. Saking sakitnya Kris sampai membenturkan kepalanya ke dinding.

“Saya panik, istri dan anak pertama saya sedang pulang kampung ke Vietnam, saya sendiri di rumah.

Sakitnya luar biasa. Saya sampai meraung-raung menahan sakit,” ujar Kris.

Baru pagi harinya dia ke dokter dan diberi tahu ada batu di ginjalnya.

Kegiatan superpadat membuat Kris melupakan penyakit ini. Pola makan tak teratur, diet tanpa konsultasi ke dokter, berdampak batu ginjalnya makin parah.

Pada 1977 Kris ambruk dan dilarikan ke rumah sakit. “Saya pikir, hidup saya akan berakhir. Namun setelah treatment saya kembali sehat,” ucapnya.

Saat itu belum ada teknik laser untuk menghancurkan batu yang ada di ginjal. Kris kembali sibuk bekerja dan lupa dengan batu yang bersemayam di ginjalnya.

Nyaris Jadi Korban Transplantasi Ginjal di China

Meski yakin ada jalan keluar, semangat Kris perlahan-lahan memudar. 

“Wajah dan badan saya jadi bengkak dan jika kulit saya ditekan tidak elastis,” bebernya.

Berbekal informasi minim, Kris dan istri nekat berangkat ke Guang Zhou, China, untuk melakukan transplantasi ginjal. Di negeri Tirai Bambu, hidup Kris tak menentu.

“Melihat kondisi saya, salah satu rumah sakit tidak memberikan rekomendasi untuk menjalani transplantasi. Namun rumah sakit lain malah menyarankan. Masalahnya, tidak ada ginjal yang cocok buat saya,” ucap Kris.

Terlunta-lunta, Kris akhirnya pulang. “Seandainya tetap memaksa, mungkin nyawa saya melayang. Tuhan masih sayang sama saya. Teman saya yang menjalani transplantasi, meninggal 3 bulan kemudian,” katanya.

1000 MC Untuk Kris Biantoro

Sakit selama 38 tahun, Kris masih mampu bersyukur. Sepanjang kariernya, setiap honor yang didapat dia serahkan kepada sang istri. Istrinyalah yang mengatur semua keuangan Kris.

“Beruntung sekali saya memiliki istri yang pandai menabung. Jika tidak, mungkin saat ini saya sudah jatuh miskin karena biaya penyakit yang sangat mahal. Hitung saja, sekali cuci darah 700 ribu rupiah, seminggu tiga kali,” kata Kris.

Semangat Kris kembali berkobar ketika sekompok anak muda berniat menggalang dana pada 2 Juli di Kelapa Gading, Jakarta.

“Saya terharu. Saya tidak kenal secara pribadi namun mereka rela membuat acara amal untuk saya. Saya sangat menghargai upaya mereka,” ucap Kris bersyukur.

Malam penggalangan dana itu bertajuk “1000 MC Untuk Kris Biantoro”. Tidak hanya MC, tapi juga melibatkan musisi dan komedian tanah air.

“Berapa pun jumlah uang yang terkumpul, saya sangat menghargai. Semoga uang itu berguna bagi saya dan orang lain,” ujar penembang lagu “Jangan Ditanya Kemana”, “Juwita Malam”, dan “Mungkinkah” ini.

Cepat sembuh, Om. Merdeka!

(ej/gur)