Henidar Amroe, Dipinang Pria dengan Syarat Membuka Jilbabnya

henidar-amroe-HONO
Bagi Henidar, target adalah kehendak Tuhan. Yang penting ikhlas. (Foto: HONO/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

PENANTIAN Henidar Amroe (49) terjawab. Nyaris satu tahun dia kehilangan job lantaran berhijrah (mengenakan jilbab-red). Buah kesabaran itu kini digenggamnya.

Sepanjang Ramadan tahun ini, Anda melihat Henidar di sinetron Para Pencari Tuhan jilid 5 (PPT 5), sebagai Widia, ibu Azzam.

Henidar bukan sekadar hadir, mengisi kekosongan porsi aktris pendukung. Melalui penghayatan naskah yang brilian, ia berhasil menjadikan jargon “sok sedap deh” identik dengan Widia, eh, Henidar.

Kami bertemu Henidar di kawasan Radio Dalam Raya, Jakarta. Sore itu, Henidar berbuka puasa sembari menunggu panggilan dari lokasi syuting PPT5.

“Ketika saya beribadah untuk menyenangkan hati Tuhan, tidak semua orang bisa menerima. Sebagian berpikir, mau ‘diapakan’ si Henidar setelah berjilbab,” begitu Henidar memulai obrolan.

“Sok Sedap, Deh!”

Beberapa kali sutradara kondang berujar, “Ayo dong Hen, buka jilbabnya. Nanti kamu aku beri pekerjaan.” Berkali-kali pula Henidar menolak. Pernah suatu ketika, peran yang diidamkannya datang dengan syarat, mengganti jilbab dengan wig. Sepuluh hari jelang syuting, Henidar melepas peran itu.

Karakter Widia dalam PPT5 sungguh sebuah berkah. Tawaran itu datang Januari 2011. Proses syutingnya unik. Jika sinetron harian syuting tujuh hari seminggu, PPT5 sebaliknya. Syuting hanya dua minggu sekali. Itu pun, satu episode dikerjakan satu-dua hari.

“Karena si penulis skneario, Mas Wahyu, sangat berhati-hati menulis naskah. Dia menggunakan asas agama dalam konteks yang tepat sehingga nuansa Islaminya terjalin manis tanpa terkesan menggurui,” imbuh Henidar.

Henidar menuturkan, apa yang terlontar dari mulut pemain PPT5 harus sama persis dengan naskah.

Menurutnya, penggunaan kata ganti menyebabkan taste dan chemistry berubah. Contohnya, jika dalam naskah tertera kata “misalnya”, lalu diganti dengan kata “contohnya”. Hal ini tidak diizinkan.

Totalitas Henidar dalam PPT5 menuai pujian. salah satu penggemar pernah menyenggol Henidar di situs jejaring sosial Twitter dengan status, “Aduh, mamanya Azzam sok sedap, deh.”

Beberapa hari yang lalu, ketika Henidar mengucapkan selamat berpuasa, sineas Hanung Bramantyo membalas ucapan dengan berujar, “Ah, sok sedap deh.”

Ya, Henidar telah kembali. PPT5 menambah panjang daftar karyanya setelah 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Love Story, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (versi layar kaca). Patah sudah anggapan orang bahwa karier Henidar akan mandek gara-gara berjilbab. Baginya, menutup aurat bukan sekadar ganti citra, tapi juga mengubah hasrat dalam memandang hidup.

“Dulu, nafsu saya masih nafsu model. Ada tiga item yang bikin saya kelimpungan: peralatan makeup, sepatu, dan tas. Kalau melihat itu di etalase mal, saya enggak tahan. Setelah berhijrah, nafsu terkekang dengan sendirinya. Kalau saya sudah hijrah, masih mau jadi korban mode rasanya kurang selaras. Hijrah itu sekadar berubah luar, berubah dalam saja, atau berubah luar dan dalam?” Henidar balik bertanya.

“Belum Tentu Dia Cinta Mati Saya”

Tantangan buat Henidar bukan sekadar sepi job. Anggap saja sepinya job “sekadar” pemanasan.

Faktanya akhir tahun lalu, cobaan besar mengguncang iman Henidar. Tentang jodoh. Akhir tahun lalu, seorang pria merapat ke hati bintang sinetron Bidadari Yang Terluka dan Seberkas Kasih Mama. Kala itu, ia bertanya, mau menjalin hubungan seperti apa? Untuk wanita seumur Henidar, sudah bukan saatnya lagi untuk pacaran.

Laki-laki ini berwacana kelak Henidar menjadi istrinya. Henidar hampir yakin. Keyakinan itu memudar ketika laki-laki ini berujar, “Kalau nanti kamu jadi milik saya, tolong jilbab kamu dibuka, ya”. Henidar tidak tahu harus menjawab apa. Sebagai muslimah, dia sadar mempunyai banyak koridor. Salah satunya, jika sudah menikah nanti, ia menjadi milik suami.

“Bahkan, orangtua sudah tidak berhak lagi karena status saya sudah jadi istri. Ketika itu saya berpikir, kalau nanti laki-laki ini jadi suami saya, dia berhak memerintah. Kewajiban saya mematuhi,” kenangnya.

Pinangan ini membuat Henidar bahagia. Namun, ia tak lantas silap mata. Tidak buru-buru mengiakan. Henidar bertanya kepada Allah.

Saat salat, peraih Citra Pemeran Pendukung Wanita Terbaik FFI 2008 ini berkata, “Ya Allah, kalau benar laki-laki ini Engkau ridai menjadi suami saya, saya akan ke sana. Kalau dia bukan jodoh tolong, tutupi jalan saya agar saya tidak selalu memikirkannya.”

Usai menghadap Sang Khalik, bintang Pocong 2 dan Eliana, Eliana membuat keputusan besar. Ia tidak akan membuka jilbab. Keputusan ini membuat sang pria menjauh. Henidar sedih. Menangis.

“Saya enggak malu menangis saat itu. Menangis cara meluapkan emosi negatif seperti amarah atau kecewa,” Henidar beralasan.

Menangis boleh. Kecewa boleh. Tapi jangan lama-lama. “Toh, belum tentu dia cinta mati saya. Bisa jadi, dia sekadar luapan emosi sesaat. Saya mencoba memaknai ini cinta atau cuma hasrat. Saya mencoba bertanya, mengapa saya jatuh hati kepadanya?” beri tahu Henidar.

Pertanyaan lain, apakah karena dia tampan? Apa karena postur tubuh tinggi? Apa karena pekerjaannya mapan? Cerdas, sempurna? Henidar mencoba menjawab deret tanya ini.

Lalu menyadari dirinya telah mengambil langkah tepat. “Saya mengalihkan perhatian dengan olahraga sampai lelah, makan apa yang saya suka. Kalau dia menyuruh saya buka jilbab setelah jadi istri, bukankah itu tidak baik buat saya? Seharusnya saya menyadarinya sejak awal,” simpulnya.

Setelah melewati ujian ini, Henidar tidak lagi memasang target. Baginya, target adalah kehendak Tuhan. Yang dilakukan Henidar kini, berupaya dan tetap ikhlas.

(wyn/gur)