Andik Vermansyah, Balada Hidup Si Anak Kuli Batu (2)

andik-vermansyah-PANJI
Andik Vermansyah (Panji/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

PENGHASILAN yang sang ibu terima dari Andik saat ini jauh lebih besar jika dibandingkan dulu.

Kehidupan keluarga Andik dulu menurut penuturan Jumaiyah dan Saman sangat prihatin. Tinggal di rumah kontrakan. Bahkan selama 19 tahun mengadu nasib di Surabaya sampai empat kali pindah kontrakan. Tidurnya di lantai hanya beralaskan tikar. Dingin. Dempet-dempetan pula. OMG!

"Kontrakannya kecil-kecil. Pernah ngontrak rumah yang luasnya lebih kecil dari garasi mobil sekarang. Sekitar 9 meter persegi. Ditempati 6 orang. Masak di luar. Lokasinya kampung banget. Saya berangkat kerja pukul 7 pagi. Pulang pukul 5 sore. Kerjanya jauh pula. Diantar jemput pakai mobil box," cerita Jumaiyah lirih.

Punya rumah sendiri yang layak rasanya saat itu masih jauh panggang dari api. "Makan saja susah, mas. Penghasilan saya satu minggu 60 ribu. Bapak 75 ribu. Kalau lembur bisa 100 ribu per minggu. Cukup enggak cukup ya dicukup-cukupi. Kadang kalau uang enggak cukup buat makan, saya beli nasi yang sudah dijemur. Nasi aking. Yang penting anak-anak jangan sampai kelaparan," mata Jumaiyah pun berkaca-kaca.

Untuk membantu perekonomian keluarga, Andik jualan gorengan dari satu kampung ke kampung lain. Dia juga jualan koran, mengamen, dan jualan es keliling di Stadion Gelora 10 November. “Saya begitu buat saya sendiri juga. Kalau minta uang dikasihnya 200 rupiah. Beda sama anak-anak lain yang dikasih 1000 rupiah. Namanya anak kecil pastilah iri. Akhirnya saya cari cara. Dari ngamen, jual Koran, dan lainnya,” cerita Andik.

“Uangnya selalu dia kumpulkan terus sampai lama-lama dapat 25 ribu. Terus dikasihkan ke saya. Dia bilang, pengin beli sepatu sepak bola. Ya sudah akhirnya saya belikan di Rombengan (sebuah daerah di Surabaya). Buat saya yang penting Andik senang," Jumaiyah menceritakan.

Dibelikan sepatu bola, Andik senang bukan kepalang. "Bahkan sampai dipakai buat tidur. Bolanya juga dikelonin. Kakaknya sampai bilang: Kamu kayak orang gila, Ndik. Tidur pakai sepatu. Kata dia, biarkan saja. Yang penting saya senang," pungkas Jumaiyah.

Di sekolah Andik tergolong siswa biasa-biasa saja. “SD kelas 2 pernah enggak naik 1 tahun. Dia waktu itu sudah gila bola. Pagi pamitnya berangkat sekolah. Tapi jarang ke sekolah. Dia malah main bola di lapangan. Saya sampai dipanggil gurunya ke sekolah,” kenang Jumaiyah. SMP dan SMA Andik tidak pernah tinggal kelas. “Cuma waktu SMA jarang masuk juga. Untungnya lulus,” tandasnya.

Tinggal di tempat yang layak akhirnya bisa dirasakan juga oleh Andik sekeluarga. Sebuah rumah 2 lantai dengan 3 kamar tidur yang terletak di kawasan Kalijudan Taruna dibeli Andik awal tahun ini dengan harga 275 juta rupiah. “Rumah ini dibeli dari uang kontraknya dengan Persebaya. Dia sempat bilang begini ke saya, seandainya dia dikontrak agak banyak, nanti dia belikan rumah dulu. Daripada pindah kontrakkan terus, dia minta nilai kontraknya dinaikkan sedikit,” katanya.

Rumah saja tidak cukup. Untuk mengangkat derajat hidupnya, Andik juga beli mobil Honda Jazz warna hitam. “Dia sudah kursus nyetir dulu sebelumnya. Dia belajar satu bulan saja. Dia juga minta belajar menyetir sama kakaknya,” katanya. Dibanding pakai mobil Andik lebih senang naik motor. Katanya, cepat. Juga menghemat waktu. “Pakai mobil sih sering juga. Misalnya dibawa pulang ke Jember.

Andik tidak pakai manajer. Dia mengelola keuangannya sendiri. Dibilang boros, Andik tak menampik. “Pengeluaran saya memang banyak. Jutaanlah. Cuma enggak sampai 10 juta juga. Saya enggak dugem. Saya juga enggak minum-minum alkohol dan berfoya-foya. Belanja baju dan celana saja enggak bermerek. Harga 50 ribu asal cocok di badan saya beli. Saya enggak gengsian, mas,” jelas Andik mengaku selalu ingat asal-usulnya. “Sebenarnya saya sendiri juga enggak menyangka bisa beli rumah, motor, dan mobil. Apalagi saya berasal dari keluarga yang sangat bawah. Ini semua berkat Allah,” ujar Andik.

Yang bikin Jumaiyah terharu, baru-baru ini Andik memberangkatkan dirinya umrah ke tanah suci Mekkah. “Senang ya bisa berangkat umrah. Bapak enggak mau karena belum siap. Cuma lama-lama saya berpikir kalau saya kayak jadi anaknya Andik, hahaha. Semua kebutuhan saya dicukupi Andik,” katanya. Cita-cita Andik selanjutnya memberangkatkan haji orangtuanya dan membuatkan bisnis bakso orangtuanya. “Bukannya bakso dorong. Tapi ada depotnya. Nanti bisa pakai nama aku. Misalnya, ‘Bakso Andik’ hehehe. Kasihan juga orangtua di rumah saja,” beri tahu Andik.

Keinginan Andik lainnya, beli rumah lagi dan bangun masjid. “Rumah yang sekarang kan memang buat orangtua. Sertifikatnya saja atas nama orangtua. Walaupun belinya pakai uang saya,” kata Andik. “Untuk masjid, ini bukan nazar. Penginnya saya saja kalau saya sudah bisa membahagiakan orangtua saya,” ungkapnya.

(ind/gur)

bersambung