Hardy Hartono: Seminggu Syuting di Hutan, Seminggu Syuting di London

HARDY-HARTONO-markuat
Hardy Hartono (Markuat/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

PADA  pekan pertama 2012, sinetron Fathiyah menyodok ke peringkat keenam dalam daftar rating program televisi paling banyak ditonton.

Sebuah pencapaian ciamik bagi MD Entertainment, rumah produksi yang belakangan agak jarang mendominasi rating. Duet Aryani Fitriyana dan Teuku Wisnu barangkali faktor yang membuat program harian ini enak dilihat.

Tapi jangan lupakan karakter Tantra, scene stealer yang segera memikat pemirsa layar kaca. Di tangan Hardy Hartono (28), karakter ini mudah dicintai. Siapa Hardy?

Wajahnya sangat familier lantaran membintangi iklan rokok. Sebelum syuting di Singapura untuk iklan rokok, para penikmat film Indonesia telah mengenalnya dalam horor berdarah karya Awi Suryadi.

“Debut saya di layar lebar dimulai dengan peran Randy, kekasih Alexa (diperankan Masayu Anastasia-red) di film Pengantin Topeng (2010),” begitu Hardy memperkenalkan diri, di kantor Bintang belum lama ini.

Ditegur Karena Badan Terlalu Tegap

Pada tahun yang sama, Hardy diarahkan Nayato Fio Nuala dalam drama kelam Not For Sale. Artinya, akting bukan hal baru bagi cowok setinggi 180 cm ini. Omong-omong soal tingginya yang di atas rata-rata, bisa ditebak bagaimana dia memulai karier. Badan tinggi tegap, salah satu modal dasar menjadi model. Perjalanan Hardy dari atas catwalk ke lokasi syuting tidak bisa dibilang instan.

“Dulu, saya main basket. Saya pernah ikut Liga Basket Kobatama. Saya membela klub Bogor Raya. Dari umur 10 tahun, saya menaruh minat pada basket. Makanya ketika kuliah, saya ikut klub lalu ditarik ke Bogor,” kenang lawan main Nikita Willy dalam sinetron Nikita. Sayang, umur karier Hardy di klub tidak sampai setahun.

Cowok kelahiran London, 16 November, ini menetap di Jepang dua tahun (2005-2006). Tidak banyak cerita yang bisa didapat di Negeri Matahari Terbit. Hardy merangkum suasana Negeri Sakura dalam dua kalimat: “Ada kesempatan tinggal di sana, karena pacar kuliah di sana. Dan saya pulang ke Indonesia karena rindu orangtua.”

Tak lama setelah kembali ke Nusantara, pengagum Russell Crowe dan Maxwell ini menerima tawaran menjadi model. Catwalk yang dititi selama beberapa bulan ternyata menghubungkan Hardy dengan rumah produksi Sinemart. Sinetron pertama yang dijajal, Aqso Dan Madina. Di situ, ia diadu dengan Marshanda dan Winky Wiryawan. Hardy tidak kaget kali pertama di depan kamera.

Yang ada, gugup karena berhadapan dengan nama-nama tenar. Hari pertama di lokasi dimulai dengan menunggu berjam-jam.

“Sejak awal saya menanamkan pengertian pada diri sendiri. Menunggu itu bagian dari akting. Kalau menyadari itu, keluhan waktu yang terbuang tidak perlu ada,” ucapnya.

Setelah merampungkan sinetron pertama, Hardy sampai kepada satu kesimpulan: ia perlu pelatih akting.

“Saya ingat pernah ditegur sutradara karena postur yang terlalu tegap. Bahkan, pernah diminta mengurangi gym, agar tidak terlihat kaku di depan kamera. Lalu saya berguru dengan Norman, yang notabene memiliki dasar-dasar teater. Saya belajar setahun. Intinya, nge-gym tidak haram bagi bintang sinetron. Yang penting, melatih body language agar tidak kaku,” dia menyimpulkan. Body language bukan lagi masalah ketika tampil dalam Fathiyah.

Serasa Syuting Indiana Jones

Bicara soal perannya sebagai Tantra, Hardy tampak antusias.

“Karena peran Tantra esensial, dekat dengan Fathiyah. Karakter-karakter lain cenderung menjauhi Fathiyah. Saya satu-satunya yang memercayai, membela, dan bersikap baik padanya,” demikian Hardy mengomentari perannya.

Bagian paling berkesan ketika syuting Fathiyah, justru di episode awal. Hardy dan Aryani hidup di hutan.

“Syuting di studio alam TVRI, di sana ada hutan-hutan. Lalu syuting di Bumi Perkemahan Cibubur. Saya tinggal di hutan itu seminggu. Jarang sekali sinetron masa kini mengambil syuting di alam, untuk episode-episode awal. Biasanya, langsung menyuguhkan set rumah dan intrik keluarga. Seminggu di hutan serasa syuting Indiana Jones,” lanjutnya.

Perlu dicatat, Fathiyah baru permulaan. Pada kuartal pertama 2012, Hardy menyiapkan karya lain yang tidak kalah hebat. Penyuka warna hitam ini dipercaya Affandi Abdul Rachman (sutradara The Perfect House dan HeartBreak.Com-red) memainkan karakter Raja dalam film Negeri 5 Menara. Awalnya, peran yang ditawarkan untuknya adalah ustadz.

“Saya diberi tahu kalau jadi ustadz, saya hanya tampil di jilid pertama. Padahal ada tiga novel yang kabarnya akan difilmkan. Makanya, saya memilih karakter Raja, orang Batak yang lumayan lama menetap di Inggris. Sangat menantang menggabungkan logat Sumatera Utara dengan aksen Inggris. Moga-moga jadi tampil di tiga filmnya. Peran Raja mengantar saya syuting sepekan di London, kota kelahiran saya,” papar cowok blasteran Jawa dan Belanda ini.

Di London, Hardy beradu akting dengan Ariyo Wahab dan Udjo “Project Pop”.


(wyn/gur)