Kala Kami Ketemu Dian Sastrowardoyo & Nicholas Saputra 10 Tahun Lalu…

aadc-cover-bi2
Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo saat jadi cover Bintang, 10 tahun lalu. (foto:Panji Diksana/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

FILM Ada Apa dengan Cinta? (AAdC?) rilis ulang di bioskop dalam rangka 10 tahun ultah film itu.

Respon penonton ternyata bagus. Jadwal putar ulang yang tadinya 2 hari (Kamis-Jumat) diperpanjang hingga Minggu (12/2).  

Kehebohan di bioskop 21 Blok M Square Kamis (9/2) malam saat kami nonton lagi AAdC? mengingatkan pada fenomena serupa 10 tahun silam. Tabloid ni merekam kehebohan itu dengan mengangkat dua bintang utama AAdC? jadi berita utama edisi 565 yang terbit di minggu ktiga Februari 2002. Judul sampul muka tabloid ini (Judulnya: “Dian Sastrowardoyo – Nicholas Saputra: Ada Apa dengan Mereka? Ada Teman Biasa!”) seolah mengkonfirmasi tak ada hubungan asmara di antara keduanya.

Berikut laporan lengkap saat kami ketemu Dian dan Nico di kantor Bintang kala itu.  

aadc-cover-biDIAN SASTROWARDOYO - NICHOLAS SAPUTRA

TELAH lahir idola baru remaja. Mereka adalah pasangan Nicholas Saputra (18)-Dian Sastrowardoyo (20). Hanya selang sehari sejak film Ada Apa Dengan Cinta? (A2DC) diputar, Nico dan Dian, panggilan pemeran Rangga dan Cinta ini, langsung merebut perhatian. Lewat A2DC, mereka seperti melewati lorong waktu yang bisa mengubah segalanya. Wusss.

Tiba-tiba saja, para remaja berusaha sekuat tenaga untuk tampil seperti mereka. Akan merasa  ketinggalan  zaman kalau tak paham puisi Chairil Anwar. Juga dianggap kurang romantis kalau tidak berani menghadiahi ceweknya setangkai kembang dan coklat. Untuk meraih simpati cewek model Cinta, harus bersikap cool, suka puisi dan pekerja keras. Kehadiran Rangga mengingatkan pada tokoh Dylan dalam seri remaja Beverly Hills 90210. "Saya melihat di sekolahku banyak cowok yang menjadi pendiam. Mereka mengikuti gaya Rangga," ungkap Nicholas, pelajar kelas 3 IPA, SMUN 8 Jakarta, dengan gaya santun.  

Album OST (Original Sound Track) Ada Apa Dengan Cinta?, ciptaan pasangan Melly Goeslaw-Anto Hoed, diletakkan di rak paling atas. Pantas kiranya bila para remaja merasa sedih kalau belum sempat nonton A2DC. Walau untuk menyimak akting Nico dan Dian mesti bolos sekolah. Bayangkan. Untuk mendapat selembar tiket, penonton harus antre dari pukul 8 pagi. Sementara film baru diputar pukul 13.00 WIB. Dalam tempo 5 hari, film ini telah mengumpulkan sedikitnya 250 ribu penonton. Rasanya tak sia-sia dana 4 miliar yang telah dikeluarkan Miles Production, produsernya.  

Akting Nico dan Dian di A2DC memang pas. Lewat film ini, mereka berhasil memformulasikan sosok remaja yang keren. Tak heran kalau kehadiran pasangan ini diproyeksikan bisa menggantikan pasangan legendaris Yessy Gusman-Rano Karno. Janji Rudi Soedjarwo (sutradaranya) untuk membuat film yang penuh gelora, telah terbayar lunas. Pendeknya, A2DC telah melahirkan ikon baru di kalangan remaja.  Menawarkan pilihan tontonan yang menarik. Dan, para remaja agaknya sepakat, pasangan yang keren seperti Nicholas Saputra  dan Dian Sastrowardoyo.

Lantas bagaimana dengan Dian dan Nico, yang tiba-tiba menjadi idola dan simbol remaja masa kini? "Saya senang-senang saja. Asal mereka bisa mengambil sisi positif dari film ini," ujar Dian, kelahiran Jakarta, 16 Maret 1982. Kabarnya, sejak tampil di A2DC, handphone Nico tak pernah berhenti berdering. "Sebenarnya, saya tak keberatan mereka menelepon, asalkan jelas mau ngomong apa. Jangan cuma cekikikan. Kalau bertanya soal akting dan film, dengan senang hati akan saya layani," ujar cowok kelahiran Jakarta, 24 Februari, 18 tahun silam.

Sebelum tampil di A2DC, Nico lebih dulu menekuni dunia model. Wajahnya kerap menghiasi majalah remaja. Mira Lesmana (produser A2DC) yang melihat tampangnya di sebuah majalah, lalu mengkastingnya. Saat ditawari, Nico mengaku surprais. Bukan apa-apa. Pertama kali main, langsung dipasangkan dengan Dian Sastrowardoyo. "Dian Sastro? Wow! Tapi saya harus profesional. Kami di sini semua dari awal. Saya tak boleh minder melihat reputasinya. Kami sama-sama pemain," ujar Nico. Sukses A2DC juga tak lepas dari kehebatan Rudi Soedjarwo. Berikut penuturan Nico dan Dian seputar A2DC dan adegan ciuman yang sempat membuat Moreno (pembalap, putra pembalap Tinton Suprapto - red), pacar Dian, menarik napas panjang.

nico-dian-PDNICHOLAS SAPUTRA: Gaya Rangga Dicontek Habis

SAYA mengawali karier lewat dunia modeling, pada Januari 2001. Kadang jalan di cat walk untuk memperagakan karya Biyan atau Oscar Lawalatta. Saya cukup menikmati. Orang-orangnya sangat profesional. Saya juga banyak mendapat pengalaman. Kadang-kadang  difoto untuk majalah remaja.

Suatu hari, Miles Production menawari saya kasting. Senang banget. Saya tidak berharap  jadi pemeran utama. Bisa ikutan muncul dalam film itu saja sudah senang. Begitu tahu lawan mainnya Dian Sastro, saya sempat kaget. Tapi saya nggak boleh minder. Kami akan bekerja bersama-sama.

Untungnya, Dian membuka diri. Dalam film itu kami sebagai sepasang kekasih. Jadi kami sama-sama berusaha supaya tidak kaku. Supaya penonton juga bisa ikut merasakan dan tidak melihatnya seperti sedang akting. Saat adegan ciuman, saya berusaha tidak membayangkan dia sebagai Dian. Tapi Cinta. Dan saya bukan Nico, tapi Rangga. Adegan itu diulang tiga kali. Untungnya, sejak awal syuting saya dan Dian punya komitmen  terbuka satu sama lain. Nggak lucu banget kalau kami harus dek-dekan lantaran adegan ciuman. Sama seperti adegan-adegan lain, yang mengharuskan kami tetap bersikap wajar.

Rangga itu tipe cowok romantis. Di sisi lain, kadang terlihat kuno. Dari adegan saat dia nendang pohon, misalnya, ketahuan kalau Rangga itu bukan tipe gaul. Lawakannya tidak lucu. Basi banget. Tapi dia berusaha menyenangkan hati Cinta. Karakter Rangga saya gabungkan dari beberapa orang. Sifat cueknya, saya ambil dari teman sekolah di SMP. Tidak terlalu dekat sih. Soalnya, dia lebih suka menyendiri. Tapi begitu dia bicara, langsung mengundang perhatian. Selain itu saya juga mengambil karakternya dari buku berjudul Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Untuk memperkaya karakter Rangga, saya juga mencampurnya dengan peran Ethan Hawke di film Reality Bites. Terutama aktingnya.

Sebenarnya, saya belum puas. Saya merasa masih kurang konsentrasi. Ada beberapa adegan yang sebenarnya ingin diulang. Tapi itulah hasil maksimal. Selesai syuting, saya merasa capek banget. Pikiran dan tenaga terkuras. Lebih capek lagi saat promosi. Saya harus bertemu banyak orang. Sementara saya juga harus sekolah. Konsentrasi terbagi dua. Jujur, sekolah sedikit terganggu. Tapi saya sudah menganggap, film itu sekolah kedua saya. Banyak ilmu yang saya peroleh.

Saya merasa ada perbedaan antara Nico sekarang dengan Nico yang dulu. Dulu, saya tidak suka sastra. Disuruh bikin puisi saja bingung. Berkat peran Rangga, saya mulai membuka diri untuk sastra. Saya banyak mendapat pengalaman dari tokoh Rangga. Mungkin bukan hanya saya. Banyak remaja yang mengikuti gaya Rangga. Mulai suka puisi, dan jadi pendiam. Di sekolah saya ada beberapa teman yang memakai jurus Rangga untuk mendekati ceweknya. Pokoknya gaya Rangga dicontek habis.

Banyak wartawan yang menanyakan hubungan saya dengan Dian (Dian Sastro - red) di luar syuting. Kalau pacaran, kami akan ngaku kok. Hubungan kami hanya sebatas teman. Bagi saya, Dian itu cantik dan menarik. Dia teman yang asyik untuk diajak bicara. (Saat Bintang bertanya, apakah Nico sempat naksir, Dian langsung memotong, "Sudah ngaku saja, lo naksir. Iya kan?").

Ngomong soal popularitas, jujur saya sedikit terganggu. Tapi juga menikmati. Saya bisa kenal banyak orang. Saya berharap, orang mengenal saya dari karya. Dari sekarang saya harus siap-siap mental. Sekarang banyak banget yang menelepon. Tidak berarti jelek. Ada juga yang memberi suport. Tapi yang paling nyebelin, kalau mereka menelepon terus ketawa cekikikan.

Harapan saya, setelah menonton film ini, pikiran orang mulai terbuka terhadap film-film  Indonesia.  Saya berharap bisa main film lagi.

Tapi untuk sementara saya akan konsentrasi pada ujian akhir. Saya ingin masuk (kuliah) arsitektur. (Saat ngomong soal rencana ikut UMPTN, Dian nimbrung dan menyarankan pada Nico untuk belajar padanya. "Nic, sini gue ajarin supaya bisa tembus di UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sudah terbukti hasilnya. Gue bisa lolos tiga kali masuk UMPTN," saran Dian, yang sekarang tercatat sebagai mahasiswa jurusan Filsafat Universitas Indonesia - red). Sebenarnya sudah ada produser yang menawari main sinetron. Tinggal cari waktunya saja.

Soal pacar? Saya baru jadian dua bulan terakhir ini. Dia pernah jadi pacar saat saya kelas 1 SMU. Tapi namanya jangan dulu.  Nah, sekarang ceritanya nyambung lagi. (Saat Bintang bertanya, apakah tipe cewek ideal Nico seperti Dian, Dian kembali menggoda Nico). Tipe cewek ideal saya, ya seperti pacar saya yang sekarang. Yang penting sama-sama merasa cocok. Pacar saya sudah nonton A2DC. Dia suka sekali. Menurutnya, film itu memberi gambaran tentang kehidupan remaja, khususnya anak-anak SMU sekarang.   

nico-dian-PD2DIAN SASTROWARDOYO: Saya Mulai Berani Menjadi Diri Sendiri di Mana Saja

WAKTU diajak kasting Ada Apa Dengan Cinta?, saya senang. Jadi figuran pun saya mau. Tapi jangan juga berpikiran saya anti sinetron. Kalau main sinetron berarti harus siap mengikuti jadwal syuting yang padat. Belum lagi kalau kejar tayang. Saya belum siap. Selain itu, belum ada cerita yang cocok.

Saya senang banyak yang nonton A2DC. Tapi alangkah senangnya kalau orang mau memetik nilai-nilai positif dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Bahwa puisi itu tidak kuno. Kalau generasi kita tidak dibuat demam puisi, lama-lama puisi akan hilang. Saya juga suka puisi. Kebetulan dari kecil sudah dicekoki novel karya NH Dini, Umar Khayam, Chairil Anwar dan Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohammad. Kebetulan lagi, Eyang saya kakak dari (penyair) Subagyo Sastrowardoyo.

Karakter Dian dan Cinta itu berbeda sekali. Cinta itu feminin. Kalau berada di lingkungan yang tidak terlalu akrab, merasa kurang nyaman. Tidak mudah menyesuaikan diri. Sementara saya, dari SMP, ke mana-mana naik bus. Ke sekolah, misalnya,  kadang harus naik turun angkutan  3 kali. Paling tidak butuh waktu 1 jam untuk sampai ke sekolah. Jadi, walau sekarang saya berada di sini (diwawancarai Bintang - red), pernah mengalami masa-masa susah. Kalau Cinta, dari kecil tak pernah mengalami seperti itu. Ke mana-mana diantar sopir. Selama ini, lingkungan Cinta hanyalah keluarganya, sekolah dan geng-nya.

Begitu melihat Rangga, dia seperti menemukan dunia baru. Rangga gambaran atau simbol dunia yang belum dipahami. Yakni dunia puisi dan dunia hidup susah.  Rangga tidak tahan hidup di keluarga yang kurang harmonis. Bagi Cinta, itu sangat eksotis. Membuatnya makin penasaran. Jadi saya rasa, Cinta itu belum tahu apa-apa dan sedang mencari tahu.  Untuk menyelami karakter Cinta, saya bergaul dengan teman-teman yang setipe dengan Cinta. Pikiran saya tak boleh melampaui dunia teman, sekolah dan pelajaran. Saya terus berpikir tiga hal saja. Saya lebih giat bergaul dengan teman yang hobi pergi ke mal atau ke salon. Jadi Cinta kadang ada senangnya juga. Hahaha.

Saya sudah nonton A2DC 7 kali. Mudah-mudahan fenomena ini (sukses besar A2DC) makin memperbaki kondisi perfilman Indonesia. Soal akting, saya merasa banyak yang harus diperbaiki. Tapi saya juga tak perlu menyesali. Soalnya, saat syuting, saya merasa sudah maksimal. Sebenarnya selain bisa mengekspresikan diri, akting juga bisa dijadikan sarana mengenal diri sendiri. Seperti apa kalau saya sedih, sekuat apa mental saya. Saya bisa lebih jujur pada diri sendiri. Tak perlu pakai topeng.  Memang saya begini adanya. Kalau marah, ya begini. Kalau sedih, tampak culun. Saya lagi menikmati proses ini. Saya mulai berani menjadi diri sendiri di mana saja. Misalnya begini, saya berani ngupil di depan orang. Orang lain juga ngupil. Saya berani mengakui saya kentut. Semua orang juga kentut. Ngapain basa-basi? Di depan orang yang baru saya kenal, tidak jaga imej. Nyantai saja. Kalau jaga imej, akan lebih banyak diam.

Saya pemaaf buat diri sendiri dan orang lain.  Saya tidak menuntut apa-apa dari orang lain. Saya tidak boleh egois. Tampang saya itu kalau lagi capek jutek banget. Saya nggak takut. Saya yakin, suatu saat kalau ngobrol dengan saya, orang yang menyangka saya sombong, akan berubah pikiran.

Padahal, saya sendiri yakin saya nggak sombong. Hidup yang indah dan menjadi bahagia, adalah menerima. Apapun yang terjadi pada kita, dan ambil hikmah indahnya. Saat Bapak meninggal, saya mendapat pukulan. Itu membuat saya jadi lebih kuat. Kemarin nenek saya bermimpi bertemu almarhum Bapak. Katanya, Bapak saya lagi senang-senangnya.

Saya merasa, akting menangis itu  paling  susah. Orang lain, untuk akting nangis mungkin gampang. Soalnya di dalam hati ada unek-unek.  Saya susah. Saya tak ada beban. Mau nangisin apa? Semua sudah saya terima dengan ikhlas. Pas adegan nangis paling saya mikirin kalau terjadi sesuatu pada pacar saya. Jahat, ya? Baru langsung nangis. Dan, itu saya ceritakan pada Reno (Moreno, pacarnya - red). Dia kaget. Kok begitu sih?

Saya dengan Nico banyak kesamaan. Sama-sama anak tunggal. Sama-sama berbintang Pisces. Kebetulan kalau ngobrol nyambung. Untuk syuting film ini, saya banyak melakukan pendekatan. Jalan dan makan bersama.  Saat ketemu yang dilakukan dialog. Ini kami lakukan untuk memancing karakter Rangga dan Cinta. Jadi pas syuting sudah merasa rileks. Saat adegan ciuman, Reno sepertinya tidak cemburu. Dia lebih dewasa dari yang saya kira. Sebelum syuting, saya sudah bilang duluan. Saya bilang, begini, ada ciumannya, tapi sebentar. Setelah dia nonton filmnya, dia lihat, adegan ciumannya kok lama? Begitu adegan ciumannya berakhir, dia menarik napas lega. Dia sempat protes. Saya bilang, saat melakukan adegan itu saya tidak mikir siapa-siapa kok. (Teguh Yuswanto/Dwi Hapsari)

Semula dimuat BINTANG INDONESIA, No.565, Th-XII, Minggu Ketiga Februari 2002

(ade/ade)