Seksolog Zoya Amirin: Melakukan Pendidikan Seks Lewat Web

zoya-amirin-bi
TABLOIDBINTANG.COM -

Nama Zoya Amirin mulai mencuri perhatian karena satu-satunya seksolog di Indonesia dengan latar belakang pendidikan psikologi. Lewat websitenya, Zoya ingin melakukan pendidikan seks pada masyarakat luas.

Saat ini Zoya Amirini sedang mengembangkan website pribadi miliknya www.zoyaamirin.com yang dirilis 7 September 2011 lalu, bertepatan dengan ulang tahunnya ke-36. Sesuai bidangnya, situs itu berisi segala hal yang menyangkut seks, terutama edukasi seks. “Akhirnya tercapai juga cita-cita membuat sex education online. Ini satu-satunya website di Indonesia yang memuat edukasi seks,” buka Zoya.

Tujuan situs ini untuk memberikan pendidikan seks secara lebih luas kepada masyarakat. Sebelumnya, edukasi seks hanya dilakukan melalui seminar. Dia juga sesekali road show bersama Komunitas Kajian Perilaku Seksual (KP2S) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ke sekolah-sekolah atau ke penjara anak-anak. Lewat situs ini, Zoya juga ingin memperkenalkan diri sebagai psikolog seksual “Supaya orang enggak bingung dengan deskripsi pekerjaan psikolog seksual. Kalau belum ada website, omongan saya tidak dianggap serius. Malah ada yang bilang lebih kayak bintang porno,” Zoya mengungkapkan.

Mungkin banyak yang belum paham profesi psikolog seksual. Menurut Zoya, psikolog seksual sama dengan seksolog. Sebelum mengambil pendidikan dan sertifikasi dalam bidang seksologi, Zoya psikolog dengan latar belakang psikologi industri dan mendirikan kantor konsultan sumber daya manusia. “Waktu kuliah, spesialisasi yang saya ambil psikologi industri dengan spesialisasi minor psikologi klinis. Namun setelah menjalani pekerjaan sebagai psikolog, saya memutuskan melanjutkan spesialisasi minor dengan mengambil pendidikan dan sertifikasi seksologi, yang saya ambil di Universitas Udayana Bali,” cerita wanita yang doyan belanja dan pencinta anjing jenis Golden Retriever ini.  

Bedanya dengan seksolog seperti Naek L. Tobing, Zoya satu-satunya seksolog berlatar belakang psikologi. Sedang lainnya berlatar belakang dokter. “Pak Sarlito Wirawan yang membuat saya ingin menjadi psikolog seksual. Tahun 1997 saya menjadi mahasiswi beliau di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tahun 2000, beliau mendapuk saya menjadi asisten pengajar mata kuliah perilaku seksual. Banyak sekali yang saya pelajari dari Pak Sarlito. Pikiran saya tentang banyak hal jadi terbuka. Bicara tentang seks bukan melulu tentang hubungan intim suami istri, tapi juga tentang reproduksi dan juga pengaruhnya terhadap perilaku kita,” terang pengagum berat Presiden Soekarno.

Impian terbesar Zoya, membuka pikiran masyarakat Indonesia soal seks, mengajar edukasi seks hingga ke pelosok-pelosok, dan memaksimalkan website-nya. “Sekarang website saya masih sulit dimengerti anak-anak 15 tahun ke bawah. Saya ingin website saya menjangkau segala usia. Itu penting buat saya agar edukasi seksnya tersampaikan dengan baik,” kata Zoya.

Dibesarkan dari keluarga yang menanamkan keterbukaan, sejak remaja Zoya telah mendapatkan edukasi seks dari orangtuanya. Apalagi ia satu-satunya anak perempuan dari tiga bersaudara. Di rumah ia kerap diajak oleh sang mama, Sylvia Rauw, mendiskusikan seks. “Segalanya saya komunikasikan kepada mama. Dari pertama kali menstruasi, pertama pacaran, sampai ciuman pertama. Mama sangat terbuka,” kata pemilik nama lengkap Zoya Dianaesthika Amirin ini.

Zoya pertama kali pacaran kelas 1 SMP dan ciuman pertama di bibir kelas 1 SMA dengan pacar ketiga. “Excited banget ciuman pertama dan saya merasakan keterangsangan yang cukup luar biasa. Kepala saya sampai pusing. French kiss-lah. Maklum, sebelumnya enggak pernah ciuman. Masih grogi. SMP gitu lho. Jadi, gandengan tangan doang,” kenang Zoya tersenyum.
Zoya pacaran tujuh kali. Zoya akui masih perawan hingga bertemu suaminya, pacarnya ketujuh. “Pernah saya bayangkan waktu masih pacaran-pacaran, ciuman saja sebegini enaknya, bagaimana make love ya? Pasti lebih enak. Nah, daripada keterusan, ketika saya sudah mulai terangsang, jangan berusaha membuka peluang yang lebih besar untuk berhubungan seks. Rem paling besar memang harus dari perempuan. Saya sih merasa beruntung tidak pernah punya pacar yang memaksa untuk berhubungan seksual,” ungkap blasteran Belanda, Manado, dan Semarang ini.

(Ind/yb)