Agnes Monica Bicara Politik

Agnes Monica (foto: Panji/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

DIAM-diam Agnes Monica ternyata punya ketertarikan khusus pada dunia politik. Tapi bukan berarti mau mencalonkan diri menjadi kepala daerah atau menjadi anggota legislatif seperti banyak dilakukan oleh selebriti lain.

Berawal dari kepindahannya ke Oregon State University, mengambil jurusan Ilmu Politik. Tadinya sih, mau kuliah hukum, ilmu yang sudah dipelajari selama di Universitas Pelita Harapan (UPH).

“Tapi, di Amerika itu enggak ada S1 Hukum, adanya S2. Orang yang ngambil Hukum itu harus sudah menguasai ilmu-ilmu yang lain dulu,” cerita Agnes.

Yang membuat Agnes lebih ribet, kuliahnya ini distance education, dilakukan secara online.

“Kata siapa distance education lebih gampang? Distance education ternyata lebih keras. Enggak ada profesor yang mengajari langsung. Pada saat punya pertanyaan, enggak bisa bertanya langsung. Harus cari di internet atau buku, terus e-mail ke profesornya, terus profesornya balas lagi ke kita. Terus kita e-mail lagi. Jadi makan waktu. Sementara tugasnya, oh my god, gila!," ungkapnya. 

Belum lagi bukunya tebal-tebal, dan semua dalam bahasa Inggris. Belajarnya sudah pasti tidak main-main, mengingat Agnes perfeksionis.

“Saya baru dapat GPA terakhir 3,4. Aduh sebal banget. Dari dulu saya selalu membuat standar GPA at least 3,7. Cuma karena capek, banyak kegiatan, turun deh,” keluhnya.

Ketertarikannya pada ilmu politik dilatarbelakangi kekagumannya pada sosok Barack Obama.

“Kebetulan saya penggemar berat Barack Obama. Saya lihat S1-nya dia apa, ternyata ilmu politik. Saya lihat apa saja sih yang dipelajari dalam ilmu politik? Ternyata memang seru banget. Tentang international politics, termasuk hukumnya juga dipelajari, environmental law, comparative poloitics, pemikiran plolitik, analisa politik, masih banyak lagi. Jadi saya merasa bisa mengetahui dunia ini secara luas,” paparnya

Bagaimana Agnes akan mengimplementasikan pengetahuannya soal ilmu politik? Menurutnya, tidak perlu ikut berbondong-bondong jadi anggota DPR, mengikuti pencalonan walikota, atau bupati.

“Ilmu politik itu sangat luas. Saya suka dengan segala sesuatu yang berbau itu. Apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini sih? Pertama, itu harus masuk dulu dalam kepala saya. Bahwa segala sesuatu yang kita pikir benar, belum tentu benar. Kalau dalam diri kita enggak ada ruang untuk pertanyaan, opini, kita akan hancur. Makanya saya makin lama makin tertarik. Bukan apa yang saya pelajari, tapi apa yang bisa saya pikirkan setelah belajar ini. Baru apa yang bisa aku berikan?” katanya panjang.

Menulis, menurutnya cara paling efektif berbagi wawasan dan memberikan pandangan. Semua tugas makalah yang pernah ia buat, tidak hanya sekadar makalah. Ia pun mulai menjalin hubungan dekat dengan beberapa tokoh politik, salah satunya Dino Patti Djalal (staf khusus Presiden SBY) dan bergabung dalam Generation 21 -- perkumpulan anak muda yang dibentuk Dino bagi mereka yang tertarik membuat perubahan di abad 21.

“Waktu Mas Dino tawarkan, saya tertarik. Generation 21 ‘kan enggak hanya di sini, tapi juga se-Asia. Ruang saya berbagi opini dan pandangan makin luas. Makalah saya menjadi salah satu bentuk kontribusi,” cerita Nez.

Yang senang merampingkan tugas critical review-nya dalam bentuk artikel, dan mengirimkan ke surat kabar harian. Sekali-kali tengok deh ulasan Agnes.

“Saya menulis dan mengirimnya ke Jakarta Post, dan Globe Asia,” tegas pelantun Tak Ada Logika ini.

(wyn/gur)