Mario Irwinsyah, dari Film ke Musik, Kembali ke Film

MARIO-IRWINSYAH-PANJI
Mario Irwinsyah (Panji/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

MARIO Irwinsyah, mengawali kariernya di dunia hiburan saat masih anak-anak atau sejak tahun 1984 dengan film yang berjudul Sebening Kaca, disusul dengan film Dibalik Dinding Kelabu

Lalu di masa remajanya Mario, sempat memainkan film Sesaat Dalam Pelukan bersama dengan Sophan Sophiaan, Widyawati, dan Frans Tumbuan. Mario juga sempat memerankan film yang bertajuk Badut-Badut Kota yang diperankan oleh Dede Yusuf dan Sarah Azhari.

Lima belas tahun kemudian, pengagum Slamet Rahardjo dan Tio Pakusadewo ini muncul sebagai pendatang baru dalam Jagad Kali Code (JKC).

“JKC tidak meledak karena kurang promosi. Saya sempat  main band lalu vakum karena melanjutkan sekolah. Ayah saya Irwinsyah, dulu pernah terlibat proyek Sayekti dan Hanafi, Aksara Tanpa Kata dan menyutradarai Sebening Kaca,” tuturnya saat berkunjung ke kantor kami belum lama ini.

Kehidupan putra Ida Leman dan Irwinsyah ini tidak pernah jauh dari film. Ketika menyeberang ke jalur musik indie, lagu-lagu Mario masih menempel di beberapa film domestik. Kiprahnya yang paling kentara di dunia nada, mendirikan band Sajama Cut.

Satu singel Sajama Cut, “Less Afraid”, dicomot Joko Anwar untuk soundtrack Janji Joni. Tak lama kemudian, Mario membidani band baru, membawakan “Boy Who Founds Happiness On Himself” dan “Hello Girl” dalam horor Pocong 3.

Sebenarnya kiprah musikal Mario belum bubar. Karena masing-masing personel sibuk dengan pekerjaan, riwayat musik Mario terpaksa mengendap. Awalnya, ia percaya diri dengan keberadaan band indie ini.

“Rasa percaya diri itu menghilang setelah genre musik Indonesia semakin seragam. Harapan saya menipis. Tidak hanya musik, film layar lebar dan produksi layar kaca sama saja. Sejak lembaga surveyor marak, semua tayangan berkiblat pada rating dan share. Rating jeblok, tayangan langsung didrop. Tak peduli apa dampaknya pada tim produksi maupun penonton,” sambung cowok kelahiran 30 Oktober 1982. Melihat fakta ini, Mario kembali ke industri film yang kembali menggeliat.

Kembali ke Dunia Film
jagad-x-codePertimbangan Mario bukan semata masa depannya di dunia musik kurang menjanjikan.

“Saya berpikir dengan main film, peluang saya memproduksi musik yang dibutuhkan adegan-adegan semakin terbuka. Dengan kata lain, mencipta soundtrack tidak membuat saya terjerembap ke jalur mainstream. Musik ala Mario tetap akan didengar produser dan penonton,” papar sulung dari empat bersaudara ini. Obrolan ringan bersama Mario mengantar kami ke era ‘90-an.

Ia lalu mengenang sekaligus membandingkan proses kreatif sineas tempo dulu dan sekarang.

“Dulu saya pernah ikut soft opera (sinetron) anak-anak Fantasia di TVRI (1989-1990). Untuk sinetron semacam ini, saya disuruh reading. Mengenali karakter, mendalami naskah sampai benar-benar paham. Begitu saya kembali ke film (2003), reading jarang saya temui. Asal jadi. Serba instan. Itu yang saya sesali dari perfilman Indonesia masa kini. Skenario didapat di lokasi syuting. Untuk orang yang lama menghilang seperti saya, reading mutlak diperlukan. Saya butuh pemanasan,” keluhnya.

Dalam Fantasia, Mario berhadapan dengan Martin Manurung dan peraih Piala Kartini FFI 1989 dalam Si Badung, Sheren Regina Dau.

Jalan Mario untuk kembali ke dunia film tidak mudah. Dalam JKC misalnya, Mario kebagian dialog sedikit. “Sebenarnya, saya dikasting untuk karakter Jagad. Jagad tidak boleh melucu, mengingat problem yang dialami serius. Oleh Tio Pakusadewo, saya diubah jadi Bayu. Sementara Jagad diberikan kepada Ringgo Agus Rahman,” ungkap penyuka masakan Minang ini.

Mungkin, Tio ingin karakter Jagad lebih cair, lebih komedi. Ringgo dirasa tepat membawakan peran ini. Padahal, Mario sudah menjalani reading sebulan lamanya.

Pelajaran dari Christine Hakim dan Sujiwo Tejo
MARIO-IRWINSYA-bebek-belur2Sampai di sini, Mario belum merasakan keseriusan seperti yang dijalani belasan tahun silam. Ia terus menyelami peran, menjajal beberapa FTV. Agustus tahun lalu, Zaskia Adya Mecca memberi tahu Mario tentang proyek Ahmad Dahlan. Melalui manajemen, Zaskia mengkasting Mario sebagai Fahroedin, murid pertama Ahmad Dahlan.

“Ini film terserius yang pernah saya jalani. Mengingatkan saya pada film-film tempo dulu. Begitu pakai kostum, saya langsung menjadi orang lain,” begitu kesan Mario.

Cowok dengan tinggi 178 cm dan berat 65 kg dibuat tercengang dengan ulah beberapa artis senior demi mendalami peran.

“Sujiwo Tejo memerankan kyai yang sakit hati karena dicopot dari jabatannya. Untuk membangkitkan karakter yang penuh amarah dan dendam, Mas Tejo jalan kaki dari hotel menuju lokasi syuting. Padahal, jarak hotel ke lokasi sekitar 10 km. Kelelahan fisik itu digunakan untuk meluapkan emosi dalam adegan. Begitu melihat Mas Tejo, saya melihat kejengkelan yang terpendam. Gila!” ujarnya terkagum-kagum.

Ulah Tejo membuat Mario sadar, kiprahnya selama ini masih cetek. Mario minder.

Pelajaran lain, didapat bintang Bebek Belur ini dari Ratu Piala Citra, Christine Hakim.

“Saya diberi tahu Mas Slamet Rahardjo, dulu sewaktu main di film Tjoet Nja Dhien, Christine Hakim meminta kostum Tjoet Nja Dhien. Dua bulan sebelum syuting, dia tidur di lantai memakai kostum itu. Itulah kebiasaan Tjoet Nja Dhien dulu. Roh sang pahlawan benar-benar ‘merasuk’ ke dalam jiwa Christine. Dengan teladan sehebat ini, saya termotivasi mencontoh,” tutur Mario.

Begitulah seharusnya generasi muda memainkan karakter. Penuh penjiwaan, penuh perasaan.

(wyn/gur)