Kisah Kholidi Asadil Alam dan Doa Seorang Nenek Sebelum Meninggal

Khalidi-Asadil-BB
Kholidi Asadil Alam (Bambang/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

RAMADHAN menyempurnakan hidup, memperbanyak pahala dalam setahun. Hal yang sama dialami bintang film dan sinetron Ketika Cinta Bertasbih (KCB), Kholidi Asadil Alam (21).

“Lagi senang, baru saja menerima rapor Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Alhamdulillah IPK saya tidak turun meski sibuk syuting, dapat 3,71. Saya berusaha semaksimal mungkin, selesai syuting jam empat pagi, jam 7 sudah harus bangun dan berangkat kuliah,” ucapnya.

Cowok yang biasa disapa Odi ini beberapa kali nyaris menabrak orang di jalan akibat kantuk. Sebagai siasat, selesai syuting Odi minta diantar di kampus, tidur di sana. Ia membawa dua tas. Satu berisi baju dan perlengkapan mandi. Satu lagi berisi buku-buku kuliah.

“Kalau IPK anjlok, Bunda Neno Warisman pasti kecewa karena beliau yang mengantar saya memperoleh bea siswa. Apalagi Lembaga Zakat Al-Azhar Peduli Umat mengangkat saya menjadi duta. Jangan sampai ada celetukan: sudah dapat bea siswa, jadi duta, kok nilainya jeblok? Keberadaan saya di kampus dipantau, apalagi dapat embel-embel artis. Apa otak artis ada isinya?” papar mahasiswa Universitas Al-Azhar Jakarta ini.

Dari enam mata kuliah yang ditempuh Odi, empat di antaranya mendapat nilai A. Sisanya, B. Di kampus, Odi dipilih menjadi ketua kelas sejak semester satu. Kalau sudah begini, urusan Odi makin rumit. Dosen yang absen atau memindah jadwal kuliah, selalu menghubunginya. Kabar ini harus diteruskan ke semua mahasiswa. Jangan sampai terjadi salah jadwal.

Memasuki semester dua, Odi mengambil jurusan broadcast. Tugas-tugas praktik mulai menyita perhatian. Di sinilah simpul rumit mengatur waktu antara kuliah dan syuting.

“Pada 15 episode pertama, kami syuting Senin sampai Minggu. Memasuki episode ke-16, cerita berkembang. Saya bersyukur jadwal syuting lebih longgar,” sambung si muda asal Pasuruan, Jawa Timur.

Stripping pertama bikin Odi syok. “Di film, pengerjaannya bisa sampai tiga bulan. Sebelum itu, ada reading untuk menguasai skenario. Di sinetron, hal seperti itu tidak ada. Begitu tiba di lokasi syuting, langsung disambut naskah. Kami dituntut serba cepat memahami dialog. Ada target satu hari 18 scene, misalnya,” demikian Odi membandingkan.

Bekerja di film lebih teratur. Syuting tuntas antara jam 10 sampai 12 malam. Kalau syuting malam, jam 5 subuh sudah selesai. Istirahatnya cukup.

Odi menceritakan bagaimana hinggap dari satu sukses ke sukses berikutnya. Salah satunya saat mengerjakan film pendek untuk mata kuliah Fotografi. Odi meraih predikat terbaik untuk kategori ide dan naskah.

Ia mencetuskan ide Suke (Susu Kesehatan-red). Lokasi syutingnya di Tebet, Jakarta Selatan. Di sana, ada warung susu sapi sejak 1962. Warung ini bertahan sampai sekarang dengan bangunan kayu. Sementara toko pesaing sudah sangat modern.

Yang menarik, ketika datang ke sana saat adzan Maghrib. Warung buka tapi tak berpenghuni. Si pemilik meninggalkan pesan di meja untuk para pelanggan. Bunyinya begini: Mau nyusu? Tunggu, saya shalat dulu.

“Saya analogikan, kalau mau yang enak-enak? Lebih baik ibadah dulu.” Odi menulis naskah, memegang kamera, dan merangkap sutradara. Proyek Suke dikerjakan di sela-sela syuting. Jika syuting Ketika Cinta Bertasbih dimulai jam 16, Suke digarap sejak jam 8 pagi.

Syuting sambil puasa bukan halangan. Odi terbiasa puasa Senin dan Kamis. Ketika agenda puasa Senin-Kamis diubah menjadi harian, Odi tidak kaget. Odi merasa tenaganya berlipat saat puasa. Sanggup menahan kantuk sehingga mata kuliah diserap maksimal.

Mengingat Lebaran tinggal hitungan hari, Odi menyiapkan langkah taktis agar bisa mudik. Tahun lalu, Odi pulang kampung sejak H-7. Tahun ini baru bisa libur H-2. Dua hari setelah Lebaran harus sudah kembali ke Ibu Kota.

“Saya sudah sampaikan ini kepada orangtua. Abah dan Umi memaklumi. Mereka bilang yang penting, saya syuting untuk dakwah dan membawa manfaat buat orang banyak,” akunya.

KCB-adeganMeski begitu, Odi tak menampik rasa rindunya pada masakan ala Pasuruan. Paling dirindukan, sayur kangkung kuah bening, ikan pindang bakar, dan sambal terasi. Menu lain yang langka ditemukan di Jakarta, sayur rebung bumbu kuning dan ikan tongkol goreng.

Ritual lain yang dirindukan Odi, tarawih berjamaah di rumah. Seminggu tiga kali pasti tarawih berjamaah. Kedekatan keluarga begitu terasa. “Ramadhan di kota dan di kampung sangat berbeda. Di kampung, habis tarawih saya tadarus sampai jam 11 malam. Setelah itu tidur di masjid lalu keliling kampung membangunkan orang sahur dengan ketongan kayu,” sambung cowok kelahiran 30 Maret.

Dibesarkan di lingkungan santri membuat Odi kuat dari sisi rohani. Meski sudah berkali-kali tamat baca Al-Quran, Odi masih ingin menuntaskan baca Al-Quran tahun ini.

“Target saya, khatam Al-Quran selama Ramadhan. Maunya, satu hari satu jus,” jawabnya ringkas. Target lain, berbagi pada yang kurang mampu.

“Saya suka bikin nasi bungkus. Kalau sekadar nasi bungkus, insya Allah saya bisa menanak nasi, bikin mi telur, tempe orek, dan ayam bakar bumbu cabai. Saya mengerjakan 200 bungkus, dimulai dengan belanja di pasar. Setelah itu saya berkeliling naik motor, dibagi-bagikan di jalanan di Cilandak, Warung Buncit, dan daerah sekitarnya,” ungkap Odi.

Kesuksesan dan ketenaran tak membuatnya pongah. Penyuka buku ini punya tradisi berbagi di tengah kumandang takbir. Jam 10 malam, diam-diam Odi dan teman kecilnya, Yudin menyusup ke kampung.

Sebelumnya, Yudin mendata beberapa nama yang perlu dibantu. Peristiwa mengharukan terjadi pada malam takbiran tahun lalu. Odi mengetuk pintu rumah sangat sederhana. Yang membuka seorang nenek, penjual sayur di pasar. Pandangannya mulai kabur, namun si nenek masih bisa mengingat dan mengenali siapa yang datang.

“Odi… Odi… kamu Odi, kan?” ucap si nenek.

“Iki Odi sing mbiyen cilikane isih umbelen. Senengane dolan neng pasar. Tak wenehi gereh malah dipakakne kucing. (Ini Odi yang dulu ingusan. Suka main-main di pasar. Dulu saya beri ikan asin malah diberikan pada kucing-red),” imbuh si nenek sambil menjabat tangan Odi. Namanya Paini. Umurnya hampir 80 tahun. Odi menyampaikan bantuan yang menurutnya tidak seberapa lalu bergegas pamit. Belum sempat beranjak dari pintu keluar, Mak Paini membuat Odi tercekat.

“Odi, kowe tak dongakne muga-muga dadi anak sing soleh. Selamet donya lan akherat. Eling sembahyange, selamet ibadahe. (Odi, saya doakan engkau menjadi anak yang soleh. Selamat di dunia dan akhirat. Ingatlah beribadah, tuntaskan ibadahmu-red).”

Setelah itu, Odi kembali ke Jakarta melanjutkan kariernya. Beberapa hari setelah bekerja, Odi menerima SMS dari Yudin. “Mas Odi, Mak Yu Paini wis ora ono. (Mas Odi, Nenek Paini meninggal dunia-red).” Bincang-bincang Odi dan Bintang yang semula penuh canda, ditutup kesimpulan serius.

“Saya merinding mendengar doa Mak Paini. Doa nenek sebatang kara ini membuat saya mengerti. Kita dibutuhkan orang-orang yang kurang mampu. Sama seperti kita membutuhkan orang lain saat tidak mampu melakukan sesuatu. Saat itulah saya ada, dan orang lain ada,” simpul Odi.

(wyn/gur)