Shita Destya: Presenter "Jam Malam" Ini Pernah Dikomplain Karena Kelewat Seksi

shita-destya-bambang
Shita Destya (Bambang/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

Perjalanan hidup presenter Jam Malam Trans 7 Shita Destya diwarnai jatuh bangun. Kiprahnya di ranah hiburan tanah air berawal saat masih duduk di bangku kelas 5 SD.

Berbagai kontes mode atau foto model dan kasting telah diikuti. Perlahan-lahan kariernya merangkak sejak bercerai dari sang suami. Belasan judul FTV, sinetron, dan film, pernah dibintanginya. Dia juga memandu acara Jam Malam (JM), yang sampai sekarang masih tayang di Trans 7. Menyandang status janda, dia tidak risih tampil seksi. Cita-citanya kini hanya satu, menjadi ibu yang baik buat anak-anaknya.

Menjadi presenter JM memberi pengalaman tersendiri buat Shita Destya (27). “Aku bukan hanya presenter, tapi juga terjun langsung meliput aktivitas kehidupan malam. Misalnya episode DJ, aku jadi DJ. Episode model, aku jadi model. Episode penyanyi, aku jadi penyanyi,” buka wanita bertinggi badan 165 cm dan berat 48 kg ini.

Tujuh puluh persen syuting JM dilakukan di malam hari. Selebihnya tergantung kondisi. “Syutingnya di luar kota melulu. Yang paling berat tema yang menuntut fisik aku prima, kayak naik motor trail. Padahal aku enggak bisa. Begitu mencoba, jadi ketagihan, hehehe,” kata Shita terkekeh.

Menemui banyak kendala saat syuting, namun Shita mengaku menikmati. Apalagi, penyuka warna merah ini, tetap menjadi diri sendiri. “Saat kasting, aku sempat bilang pada produsernya, kalau diterima jadi presenter, aku mau jadi diri sendiri. Aku sampaikan ide-ideku. Misalnya, harus sedikit lebih seksi, apalagi judulnya saja Jam Malam. Soalnya kemasan acara yang dipandu presenter sebelumnya, kurang menarik. Maka itu, aku enjoy karena memang aku suka dengan timnya. Seru,” ungkap Shita.

Ia pernah mendapat komplain karena kelewat seksi. “Aku bilang saja, kalau memang yang begitu tidak bisa diterima, aku lebih baik mundur saja. Aku enggak bisa jadi presenter, tapi enggak dapat soul-nya. Alhamdulillah aku tetap dipertahankan,” bilang Shita.

Mengenai stigma negatif yang sudah telanjur menempel pada pelaku kehidupan malam, apalagi kalau lakonnya perempuan, Shita punya pandangan sendiri. “Kebanyakan orang melihat kehidupan malam dari sisi negatif. Apalagi, banyak orang memanfaatkan kehidupan malam dengan cara yang salah. Misalnya, lari dari masalah, terus teradiksi dengan dunia malam yang setiap hari harus minum (alkohol). Kalau aku sih lebih melihat kehidupan malam dari sisi positif,” terangnya.

Positifnya, lanjut Shita, misalnya untuk bersosialisasi, bergaul, dan memperluas koneksi. “Nah itu bagusnya dunia malam. Ada yang hanya dengan mendengar suara musik yang keras, bisa jadi lebih fresh. Ada yang stres dengan pekerjaannya, begitu datang ke dunia malam, akhirnya lebih rileks,” Shita menukas.     

(ind/adm)

Foto-foto: Bambang/BI