Tina Talisa: Ada Yang Mengira Saya Masih Hidup Dengan (mantan) Suami

tina-talisa-markuat
TABLOIDBINTANG.COM -

YANG berbeda dari Tina Talisa (31) sebulan terakhir adalah postur tubuhnya yang makin kurus dan hilangnya eksistensinya di dunia Twitter. Apa kabar presenter Apa Kabar Indonesia Malam?

Pada dasarnya, cewek kelahiran 24 Desember ini tidak terlalu suka menimbang berat badan. Terakhir menimbang di Kuala Lumpur November lalu, ketika mewawancarai putra mantan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Waktu itu angka menunjuk 51,9 kg.

“Tidak suka menimbang, takut terteror fluktuasi bobot. Saya tidak tahu 51,9 kg itu kenaikan atau penurunan,” katanya di Hotel Nikko Jakarta.

Jauh sebelum itu, berat badannya sempat berada di kisaran 53 kg dan 55 kg.

Artinya, Tina hanya turun 2 kg. Tidak ada masalah pribadi yang membuatnya stres lalu berpengaruh pada penampilan fisik.

“Kalau stres, saya banyak makan. Kurus artinya saya happy,” ucap Tina. Ia tidak mengubah pola makan atau menambah durasi olahraga. Belakangan, Tina keranjingan camilan buah. Di dalam mobil, dalam perjalanan menuju lokasi, Tina sangu anggur merah.

Pertanyaan publik soal perubahan Tina bukan sekadar penampilannya yang makin sintal. Dua pekan terakhir, pengguna Twitter mempertanyakan absennya Tina di Twitterland.

Terakhir, Duta Corporate Social Responsibility Jawa Barat berkicau tentang penampilan timnas dengan pita hitam di putaran Piala AFF 26 Desember silam.

“Main Twitter atau tidak itu hak saya. Hahaha,” candanya mencairkan suasana.

Belakangan, ia mengaku asyik dengan mainan baru, plasma screen dari vendor ternama. Dugaan yang mencuat, Tina absen lantaran dicerca, terkait pertanyaan-pertanyaan tajamnya terhadap narasumber. Tina tidak membantah dugaan itu.

“Kalau mau dikait-kaitkan, silakan. Tapi kalau dipikir lebih jauh, saya dulu menghilang dari Facebook, kenapa? Saya hilang dari Twitter tidak merugikan orang lain. Beda halnya, kalau saya menghilang karena tidak bayar listrik atau menghilang setelah mengemplang pajak. Nah, itu menimbulkan tanda tanya besar,” demikian Tina beralasan.

tina-talisa-twitterAda untungnya memakai situs jejaring sosial. Dulu, Tina kerap menulis topik dan narasumber yang akan hadir dalam AKIM di Twitter. Banyak yang titip pertanyaan atau ide. Namun tidak jarang, ada yang menanyakan pertanyaan pribadi. Di bagian ini, Tina tidak nyaman.

“Situs jejaring sosial punya keterbatasan karakter. Seratus empat puluh karakter tidak dapat mewakili jawaban saya sepenuhnya. Kalau berdialog lewat Twitter, saya tidak bisa melihat ekspresi wajah lawan bicara, mendengar intonasinya. Saya khawatir, tulisan saya diartikan lain. Lebih baik bicara langsung face to face,” kelit lulusan fakultas kedokteran gigi itu.

Ketidaknyamanan di dunia maya sudah ada sebelum Twitter menjadi tren. Di Facebook, seseorang menampilkan cewek bugil dengan wajah mirip Tina. Foto itu dipajang di akun Facebook Tina.

“Itu lebih tidak nyaman lagi. Saya memilih diam. Yang penting orang-orang terdekat tahu bahwa wanita bugil di akun Tina Talisa itu bukan saya,” Tina menukas.

Alasan Tina diam kala itu, ia merasa bukan artis. Jadi tidak perlu menjelaskan apa pun.

Seperti halnya Facebook, di Twitter Tina menerima puja dan cerca. Sebenarnya, Tina tidak antikritik. Ia senang menerima kritik, asal disampaikan dengan alasan kuat. Yang bikin tak nyaman, ketika orang-orang mulai menanyakan hal pribadi. Soal suami misalnya.

“Beberapa kali orang bertanya tentang mantan suami. ‘Hai, gimana kabar mantan suami?’ Untuk apa dijawab. Kalau saya jawab, seolah membuat pengumuman di ruang publik. Karena selama ini ada yang mengira saya masih hidup dengan (mantan) suami. Ada yang sebenarnya sudah tahu, tapi tetap ingin bertanya tentang mantan suami,” begitu Tina berpendapat.

Ia menambahkan, “Bukan berarti saya berhenti berkicau di Twitter karena pertanyaan itu. Saya sedang fokus pada hal lain. Banyak disorientasi tahun ini,” akunya. Ada beberapa target yang dikejar Tina tahun ini.

“Tesis harus selesai. Sudah nyaris drop out nih. Tesis harus selesai sebelum April. Target berikutnya, merilis buku anak-anak. Kalau tidak ada perubahan, judul bukunya Aku Ingin Menjadi Presenter,” ujarnya menyudahi perbincangan.

(wyn/gur)