Mengapa Chef Juna yang Jadi Idola MasterChef Indonesia, Bukan Pesertanya?

JUNA---PANJI-DIKSANA
Chef Juna (foto: Panji Diksana)
TABLOIDBINTANG.COM -

SAAT menonton sebuah kontes reality show umumnya kita mengidolai pesertanya.

Di Akademi Fantasi Indosiar (AFI) pertama, misalnya kita mengidolai Ferry. Di AFI 2 kita idolai Tia. Di Indonesian Idol kita mengidolakan Joy dan Delon.

Pada Indonesian Idol kemarin, kita mengidolakan Citra, sedang di Indonesia Mencari Bakat (IMB) kita gandrung dengan Klanting, Brandon dan Putri Ayu.

Maka dari itu, sukses sebuah kontes reality show sangat ditentukan apa para kontestannya mampu mengikat para penonton untuk terus menontonnya hingga final atau tidak. Saat tak ada kontestan yang dipuja penonton, praktis acara reality show itu juga ikut habis. Stasiun TV rugi karena rating terus melorot, sementara itu tak bisa main putus seperti sinetron karena punya kewajiban untuk menggelar sampai final.

Kebalikannya bila acaranya sukses. Kompetisi bisa berlangsung berpanjang-panjang.

Nah, lewat MasterChef Indonesia, kontes reality show seperti didefinisikan ulang. Acara ini justru tidak menampilkan kontestannya jadi idola (dalam arti jadi perbincangan di mana-mana dan diberitakan berbagai media), melainkan jurinya. Terutama Juna Rorimpandey.

Kontestan-15Memang sih, pada awalnya, seperti reality show lain, Masterchef Indonesia juga ingin mengedepankan para kontestannya untuk menikat emosi penonton. Ada Priscil si model cantik, juga Fero yang keras kepala; Sarwan office boy yang kocak dan ekspresif; serta Albie yang pernah menangis karena kangen anak.

Semuanya hilang dan jadi sensasi sambil lalu dikalahkan aura ketampanan dan sikap dingin nan cool Chef Juna.

Bagaimana bisa hal ini terjadi?

Tentu bisa. Juna memenuhi semua syarat untuk jadi idola. Melihat sosoknya yang dingin, galak, dan komentar-komentarnya yang pedas saya teringat pada sosok Rangga di Ada Apa dengan Cinta? yang diperankan Nicholas Saputra. Seperti Cinta (Dian Sastro) di film itu, banyak cewek menggemari Rangga karena attitude-nya yang dingin. Entah bagaimana, cewek rupanya lebih suka cowok yang dingin dan galak pada mereka.

Dengan Juna yang begitu mempesona, para peserta lain kemudian berada di bawah bayang-bayangnya. Walau tak dipungkiri acara MasterChef Indonesia semakin menegangkan dan seru untuk ditonton. Yang paling dinanti tetap komentar pedas Chef Juna.

Menengok American Idol, kehadiran Juna persis Simon Cowell  yang jadi tenar beserta para kontestan Idol macam Kelly Clarkson, Clay Aiken, Taylor Swift, dan lain-lain. Komentar pedas dan nyinyir Simon memberi warna tersendiri dan membuat American Idol makin digemari. Tidak banyak yang kenal Cowell sapai ia jadi juri Pop Idol (di Inggris) lalu American Idol.

Lalu, mengapa reality show lain tak melahirkan juri yang jadi idola? Nah, ini dia. Di reality show lain, para juri umumnya selebriti yang sudah terkenal lebih dulu. Di AFI, Indonesian Idol atau IMB tempo hari, para juri adalah sosok-sosok kawakan yang sudah bertahun-tahun menjalani profesi mereka. Komentar mereka diperlukan untuk memberi wejangan pada para amatir yang sedang mencoba peruntungan jadi terkenal.

RCTI sebetulnya membuat pertaruhan besar saat menggandeng 3 chef yang relatif belum dikenal sebagai juri. Mereka memilih untuk tidak menggaet para celebrity chef seperti Rudy Choirudin, Farah Quinn, atau ibu Sisca Soewitomo, atau Edwin Lau.

Di MasterChef Indonesia baik juri maupun pesertanya ibarat sedang melakukan kontes lain lewat acara ini: mencoba merebut perhatian pemirsa. Jadi idola baru. Hingga hadir di MasterChef Indonesia, nyaris tak banyak orang tahu sosok Juna, Rinrin Marinka, atau Vindex Tengker.

Dalam kontes merebut perhatian pemirsa, Chef Juna telah keluar sebagai pemenangnya...

(ade/ade)