Kenapa Ustadz Solmed Dituding Sombong dan Lebay?

solmed-april-arieBI
Ustad Solmed didampingi April yang kini sudah jadi tunangannya. (foto: Ari/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

USTAZ Solmed jangan lebay dan sombong, kata ketua FPI DPD DKI Habib Salim. Tak seperti biasanya, kali ini saya setuju dengan himbauan FPI.

Seorang berpredikat ustadz (entah karena klaimnya sendiri seperti Ustadz Samingan di sinetron Ketika Cinta Bertasbih (KCB), atau bentuk pengakuan yang didapat dari umat), dituntut berperilaku seperti identitas yang disandangnya. Kalau tidak, akan jadi bahan cibiran.

Apakah Soleh Machmoed (yang oleh ketua FPI DKI diminta tidak sombong dan lebay) seorang ustadz atau pemain sinetron?

Bisa jadi dua-duanya. Di TV kadang dia tampil berceramah seperti layaknya ustaz, tapi juga rutin muncul sebagai pemain sinetron Pesantren & Rock n Roll. Sampai di sini tak ada komplain. Ustadz juga manusia, perlu uang untuk membiayai hidup. Tapi sebagai ustaz yang sedang naik daun (ini istilah yang absurd untuk disematkan pada seorang ustadz), Solmed tak hanya muncul di TV berceramah atau main sinetron, tapi juga jadi berita di infotainment. Persis seperti selebriti.

Rencana pernikahannya dengan seorang pemain sinetron, yang didahului dengan proses ta'aruf (pendekatan), jadi gosip. Di infotainment, ini yang kemudian jadi gunjingan, Solmed katanya sudah memberi hadiah rumah dan mobil pada calon istrinya. Perlukah itu diceritakan? Bahkan kalau yang mengatakan bukan ustadz sekali pun. Agama akan menganggap riya, pergaulan sosial mencibir sombong, pamer, dan lebay. Dalam proses ta'aruf itu Solmed dan calon istri pergi nonton konser berdua.

Apa salahnya? Kalau saja nama Solmed tak didahului kata ustadz, dan dia tak menggunakan kata ta'aruf, tak ada yang mempermasalahkan. Pergi berdua pacar nonton konser, hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sebagai orang yang ilmu agamanya masih cetek, saya tak ingin ikut menghimbau Ustadz Solmed. Apalagi mengajarkan bagaimana berperilaku.

Saya ingin bicara soal lain, ustadz di era industri TV. Dulu, sebelum TV berkembang menjadi industri besar melibatkan banyak uang, sosok ustadz yang ditampilkan biasanya sudah berusia tua.

Mungkin ketika itu pengelola TV sengaja mencari ustaz yang ilmunya memadai. Sudah bertahun-tahun mempelajari dan bahkan mengamalkan ajaran agama. Bukan sekadar pandai berpidato, melucu, atau mengajak orang lain menangis.

Era ustaz berusia matang dengan penampilan bersahaja tampaknya sudah berlalu, setidaknya di TV. Kini ustaddz yang muncul di TV rata-rata berusia muda dengan penampilan necis. Sesuai mekanisme yang berlaku di TV, siapa pun yang tampil di TV, termasuk para ustaz, akan diperlakukan tak ubahnya pengisi acara lain, seperti pemain sinetron, presenter atau penyanyi. Konsekuensinya, TV cenderung memilih menampilkan ustaz-ustaz populer yang disukai banyak orang, yang penampilannya bisa mendongkrak rating.

Semakin populer, semakin tinggi rating acaranya, dan (bukan mau nyinyir) nilai kontraknya juga kian besar. Popularitas (bukan ilmu agama atau kesholehan) yang menjadi tolok ukur memilih ustadz untuk ditampilkan di TV.

TV dengan jangkauan luas, di satu sisi, memang efektif sebagai media dakwah. Sekali seorang ulama besar seperti Quraish Shihab yang saya kagumi atau (alm) Zainuddin MZ dan Mamah Dede yang saya idolakan ceramah di TV, jutaan orang menyaksikan. Dengan bantuan TV, syiar agama jadi mudah dan meluas. Tapi dampak sebaliknya juga bisa terjadi. Menyadari betapa besar pengaruhnya, (baik atau buruk) mestinya TV selektif mengemas acara keagamaan dan memilih ustadz.

Seorang selebriti atau politisi berlagak seperti orang sholeh berilmu agama cukup, akan mendapat apresiasi publik. Tapi ustaddz bersikap dan menjalankan profesi (ini bukan istilah yang tepat, karena ustadz bukan profesi) seperti selebriti, menjadikan popularitas dan materi sebagai tujuan, kita tahu bagaimana ujungnya.

Selain ustaz yang benar-benar ustadz, di TV juga ada sosok ustadz Samingan (KCB) yang sering membuat saya terpingkal. Sebagai orang yang menyebut diri ustadz, Samingan sungguh menggelikan. Ilmu agamanya secuil, belum pergi pergi haji tapi ingin disebut kyai haji. Sehari-hari yang ada di pikirannya cuma mencari keuntungan pribadi. Selain matre, juga gila pengakuan. Bukannya memperbanyak amal dan memburu berkah serta ridho Allah, tapi sibuk mengejar urusan perut.

Sepertinya Kang Abik yang menulis skenario KCB ingin menyindir banyak orang di kehidupan nyata yang kelakuannya seperti Samingan. Padahal kita semua tahu, ustadz itu tugas yang sangat mulia. Begitu mulianya, sedikit saja terselip hasrat mengejar popularitas dan materi akan membuat umat kecewa.

Jadi, kalau masih gampang tergoda gemerlap dunia, seperti saya, atau hanya pintar menceramahi orang lain tapi tak bisa menjaga kelakuan, ya apa bedanya dengan Samingan?

(yb/ade)