Rhoma Irama dan Revolusinya

rhoma_irama-7
Rhoma Irama sang raja dangdut (dok.Ist.)
TABLOIDBINTANG.COM -

MENONTON Dawai 2 Asmara, Anda pasti akan ketemu ungkapan “revolusi kedua” yang sedang digagas Rhoma Irama saat ini. Kedua? Dalam hitungan saya, setidaknya Rhoma sudah melakukan dua revolusi. Apa yang dilakukannya kini revolusi ketiga.

rhoma-74-dsRevolusi Pertama
Untuk menjelaskan revolusi pertama Rhoma, saya harus menjelaskan sedikit soal sejarah musik yang kita kemudian kenal sebagai dangdut. Menurut catatan William H. Frederick, orang Amerika yang membuat riset tentang dangdut, istilah dangdut baru mulai muncul awal 1970-an antara 1972-1973.

Nama dangdut lahir berdasarkan onomatopoeia alias pembentukan kata berdasarkan bunyi dan istilah yang menunjukkan ejekan—istilah yang diambil begitu saja dari bunyi gendang. Dalam penelitiannya, Frederick merujuk kelahiran dangdut berakar pada musik tanjidor dan keroncong yang lahir di masa kolonial. Kemudian pada 1950-an populer jenis musik melayu yang disebut Melayu Deli lewat film-film musikal aktor Malaysia P. Ramlee yang menjadi inspirasi musisi Said Effendi lewat film Serodja (1959). Di masa ini lahir pula Ellya (kita mengenalnya sebagai Ellya Khadam) yang menyanyi lagu melayu sambil menambahi dengan unsur irama dan tekstur bebunyian yang baru (khususnya suara gendang, suling, dan sitar yang diambil dari musik Arab dan India). Lagu Ellya "Boneka dari India" (1956) sering disebut sebagai lagu dangdut pertama meski saat itu istilah dangdut belum digunakan. ("Boneka dari India" pernah disebut sebagai salah satu tonggak penting musik Indonesia karena menjadikan musik melayu diimbuhi musik perkusi persis India. Konon, Boneka dari India aslinya memang lagu India Sama Hai Bahar Ka yang dinyanyikan Lata Mangeshkar.)

Kemudian pada akhir 1960-an, sejumlah musisi masa itu melakukan eksplorasi musik baru. Grup-grup band itu, catat Frederick, memadukan unsur-unsur tertentu dari tradisi keroncong dan Melayu Deli dalam karya-karyanya. Upaya itu menghasilkan musik kontemporer yang cukup apik dan penyanyi-penyanyi seperti Hetty Koes Endang, Titi Qadarsih, dan Emilia Contessa. Musik Melayu model ini mendapat sebutan “Melayu Mentengan” karena disukai kalangan menengah atas saja sanbil mengacu kawasan eluit Menteng di Jakarta Pusat.

rhoma-darah-muda-dsPada masa itu pula, di sudut Jakarta yang lain, Tebet, Jakarta Selatan, muncul pemuda bernama asli Irama—nama yang lahir begitu saja dari ibunya karena saat melahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat tahun 1946 sang ibu baru pulang dari pertunjukkan musik di lapangan terbuka—yang baru saja meninggalkan musik rock dan jatuh cinta pada musik melayu. Pria itu akhirnya memilih nama Oma Irama—yang kemudian menambahi gelar Raden (karena memang ia keturunan bangsawan, ayahnya kapten angkatan darat Raden Burga Anggawirya) dan Haji setelah naik haji dan melengkapinya jadi Rhoma Irama.

Pada 1971, Oma yang sudah menguasai musik melayu dan sebelumnya suka musik rock mendirikan Soneta Group. Di sini Oma melakukan revolusi pertamanya: menggabungkan unsur musik melayu (yang sudah dicampur antara Melayu Deli dan India) dengan musik rock. Orang kemudian menyebut musik itu sebagai dangdut. 

Di majalah Rolling Stone Indonesia (Desember 2007), pengamat musik Denny Sakrie menulis, Oma melakukan “eksperimen menyelusupkan atmosfer hard-rock dan jelulur musik musik dangdutnya.” Denny memberi contoh, “raungan gitar elektrik yang dimainkannya jelas mengacu pada musik rock, terutama pengaruh Ritchie Blackmore, gitaris Deep Purple.”

Selama 1971-1975, Oma mengepakkan sayap dangdut ke level berikut. Revolusinya sempat dicibir. Pihak musik dangdut tak menganggapnya musik melayu murni karena diselipi musik rock. Oleh kalangan musik rock, eksperimennya ditolak mentah-mentah. Ia dicerca, dihina, hingga konon setiap tampil dilempari batu oleh penggemar musik rock. Tapi Oma tak gentar. Ia kemudian malah jadi pemenang. Musisi rock Achmad Albar merilis album dangdut “Zakia” (1979).


rhoma-1Revolusi Kedua
Revolusi jilid dua Oma Irama terjadi usai ia membintangi film Penasaran (1976). Kala itu, Oma--yang sukses mengawinkan dangdut dan rock—naik haji. Di periode ini ia mengganti namanya jadi Rhoma Irama.

Periode Oma sebagai Rhoma adalah periode ketertarikan sang biduan pada Islam. Ia sepertinya sadar musik (dan film) bisa jadi sarana dakwah efektif. Musik dangdut versinya bisa dipakainya melantunkan musik-musik bersyair islami. Lewat album dan film Gitar Tua (1977), Rhoma menyodorkan lagu Kiamat dan dari album dan film Raja Dangdut, Rhoma menyodorkan musik yang impresif berisi surat Al-Ikhlas dan syair yang kurang lebih adalah terjemahannya: Katakan Tuhan itu satu/ Tuhan tempat menyembah dan tempat meminta/ Katakan Tuhan itu satu/ Tuhan tidak beranak dan tak diperanakkan/ Lailaha ilallah, tiada Tuhan selain Allah.

Frederick menekankan, yang penting dicatat dari lagu itu, di samping temponya yang cepat dan kaya warna, lagu religi itu salah satu lagu favorit untuk berjoged. Ini tak pernah terjadi sebelumnya, lagu religi asyik dipakai berjoged.

Hal ini juga menandai bahwa dakwah Rhoma bukanlah dakwah kaum salaf melainkan dakwah populer. Lagu “Haram” misalnya, sangat asyik untuk direnungkan juga berjoged: “Kenapa e kenapa minuman itu haram/ Karena e karena merusak pikiran.”

Selain aktif menulis lagu religi, tema-tema lagu Rhoma kemudian juga berisi sentilan kritik sosial. Lagu “Hak Asasi” misalnya, memiliki syair seperti ini: Walaupun harus nyawa sebagai taruhan/ Banyak orang rela cuma karena rupiah.   

Di paruh kedua tahun 1970-an Rhoma adalah sang raja dangdut. Ia sadar akan status besarnya ini. Lewat pengaruhnya yang besar, Rhoma yang makin mempelajari Islam dan kemudian juga bergabung sebagai kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP)—satu-satunya partai Islam di era Orde Baru—mantap memilih jalur dakwah lewat musik dangdut. Tidak hanya di musik, film-film Rhoma yang lahir sejak akhir 1970-an hingga yang sekarang selalu dipenuhi unsur dakwah. Film Nada & Dakwah (1991) adalah contoh jelas kolaborasi dakwah (menampilkan kyai Zainuddin MZ) dan nada (Rhoma).


dawai2-1Revolusi Ketiga (?)
Syahdan, musik dangdut kemudian melahirkan berbagai cabang dan bintang-bintang baru. Dari Pasuruan, Jawa Timur tersebutlah seorang penyanyi dangdut yang kerjanya menyanyi dangdut di pesta kawainan dari kampung ke kampung bernama panggung Inul Daratista.

Inul tak sekedar menyanyi. Tapi juga meliukkan badan mengundang decak dan berahi penonton. Inul kemudian ngetop hingga ke Jakarta dan seluruh Indonesia. Sang raja dangdut—yang tentu bertugas sebagai pengawal moral musik yang ikut diciptakannya—gerah. Rhoma, sang raja itu, menyampaikan titahnya mengecam Inul.

Inul yang kecil takluk dan mencium tangan sang raja. Tapi jika sang raja mengira kali ini sudah menang, salah besar. Publik kita yang terbiasa bersimpati pada yang lemah dan teraniaya memberi dukungan pada Inul. Lagipula, bahkan sang raja tak bisa membendung bahwa dangdut sudah berkembang sedemikian rupa dicampur tarian yang mengundang birahi. Goyang Inul bukan satu-satunya. Ada goyang patah-patah, goyang kayang, goyang gergaji, dan entah apa lagi. Dangdut gaya Rhoma dan penyanyi-penyanyi lain yang sopan tergusur.

Cobaan pada dangdut gaya santun tak cukup sampai di situ. Kemudian, dari musik pop lahir band-band yang mampu melego album lebih dari sejuta kopi seperti Sheila on 7, Padi, Peterpan, hingga Samsons. Orang kemudian ramai-ramai bikin band.

Kini adalah eranya musik pop, terutama musik-musik dari band pop. Televisi mengusir dangdut dan menggantinya dengan acara musik pop.     

Hingga kini Rhoma masih konsisten dengan langkahnya mencekal Inul dulu. Kepada Kompas (19/9/2010), Rhoma menuding salah satu penyebab menyurutnya dangdut karena maraknya erotisisme yang menyertai penampilan artis dangdut.

Maka, kini Rhoma menggagas revolusi dangdut lagi. Revolusi yang disebutnya yang kedua—tapi sebetulnya ketiga jika mengacu pada dua revolusi di atas.

Rhoma-Irama-Bambang-BIRevolusi itu dijalankannya dengan sang putra, Rhido Roma. Menonton Dawai 2 Asmara kita akan mengerti bahwa di balik kemunculan Rhido dan Sonet 2 band adalah jawaban Rhoma untuk kemunduran musik dangdut saat ini.

Jika pada 1970-an Rhoma mengawinkan musik melayu dengan rock, maka kali ini ia mengaawinkan dangdut dengan musik milik band-band musik pop. Rhido dan Sonet 2 band, kata Rhoma di film Dawai, pada hakikatnya adalah formasi band—ada vokalis, penabuh gitar, dan drum. Tapi yang membedakannya, musiknya dangdut. Lagu-lagu Rhoma didaur ulang dengan aransemen baru, diberi unsur musik pop kental seperti tabuhan drum dan bukan gendang atau suling.

Rhido, sang pangeran dangdut, berhasil mencuri perhatian lewat single “Menunggumu” dua tahun lalu. Sukses itu berlanjut dengan rilis film Dawai 2 Asmara kini. Memang, untuk film hasilnya belum kelihatan sukses. Dari 4 film yang rilis bersamaan di saat lebaran, Dawai ada di urutan ke-empat.

Revolusi paling anyar dari Rhoma belum kelihatan hasilnya kini. Tapi kita lihat saja nanti. Siapa tahu sang pangeran memang jadi putra mahkota yang tepat untuk meneruskan tongkat estafet musik dangdut dari sang raja.

Seperti kota Roma yang tidak dibangun dalam satu malam, revolusi dangdut ketiga pun takkan kelihatan hasilnya dalam sekali dobrak lewat single “Menunggumu” dan Dawai 2 Asmara. Yang diperlukan Rhoma dan Ridho adalah tetap konsisten dan berjuang terus. Rhoma sudah berhasil sebelumnya. Kali ini pun ia bisa berhasil lagi. Atau justru gagal?

(ade/ade)

{JaThumbnail off}