Mengenang White Snake Legend Era 1990-an (“Istriku... Suamiku”)

ladywhite090409_7
White Snake Legend, dua wanita berkasih-kasihan? Errr...
TABLOIDBINTANG.COM -

SUDAH menonton The Sorcerer and the White Snake? Jika belum, segeralah menonton mumpung filmnya masih tayang di bioskop.

Itulah versi baru dari dongeng siluman ular putih yang kisahnya sudah berkali-kali difilmkan dan diobuatkan serial TV-nya. Bagi penonton Indonesia, terutama yang tumbuh di tahun 1990-an, kisah siluman ular putih produksi China Taiwan Television Entrprise Ltd. pastilah yang paling dikenang.

Itu lho yang siluman ular putih dan suaminya saling sahut, “Istriku,” “Suamiku.”

Menengok ke arsip tabloid ini, saya menemukan ulasan serial White Snake Legend tahun 1990-an. Menurut arsip tabloid di edisi 160, Minggu ketiga Maret 1994, serialnya tayang mulai tayang 22Maret, setiap Selasa, pukul 19.30 WIB di SCTV. Totalnya berjumlah 50 episode, artinya hampir setahun serialnya menemani pemirsa TV. Pantas bila kita begitu mengenangnya.

Waktu itu, White Snake Legend tayang tak lama setelah versi layar lebar dengan judul White Snake and Green Snake yang dibintangi Joey Wong dan Maggie Cheung diputar di bioskop. Walau jalinan cerita garis besarnya sama, tentu versi serial TV lebih runut dan detil.

Serial White Snake Legend berkisah soal usaha balas budi seekor ular yang diselamatkan nyawanya oleh seorang bocah gembala. Melalui pertapaan keras disertai tekad baja selama 1700 tahun di gunung Go Bi (E Mei), akhirnya si ular menjadi manusia, sesosok wanita cantik jelita.

Namun ternyata hukumannya belum tuntas. Ia belum boleh meninggalkan kehidupan duniawi sebelum  memenuhi janjinya pada gembala yang dulu menyelamatkan nyawanya.

WhiteSnakeLegend2Dengan petunjuk Dewi Kwan Im (dewi welas asih), Pai Su Cen, nama sang siluman, turun ke dunia. Di dunia, ia bertemu siluman ular lain, Ular Hijau. Keduanya berduel. Karena kalah, Ular Hijau menetapi janjinya setia pada Pai Su Cen. Mereka akhirnya berikrar jadi kaka-adik. Ular Hijau bernama Ching Erl.

Bersama Ching Erl, Pai Su Cen menelusuri danau Si Hu mencari gembala yang dulu menolongnya. Sesuai petunjuk, pada hari Ceng Beng (hari membersihkan dan menziarahi makam keluarga) orang yang dicari akhirnya ditemukan. Melalui kesaktiannya, Pai Su Cen membuktikan kalau pemuda bernama Shi Han wen, seorang tabib di kota Su Chou, adalah reinkarnasi si bocah gembala.

Nah, yang terjadi kemudian, alih-alih membalas budi, Pai Su Cen dan Shi Han Wen malah saling jatuh cinta. Kduanya bahkan kemudian menikah. Han Wen tak tahu kalau istri dan adik iparnya sejatinya bukan manusia melainkan siluman ular.

Cerita makin seru karena istri dan adik iparnya kerap membuat onar dengan kekuatan ajaib mereka. Maksudnya sih baik, demi membahagiakan Han Wen yang terlalu baik dan jujur. Belum lagi ulah Ching Erl atau biasa dipanggil Siao Ching, yang cepat naik darah dan mudah tersingung, serta sikap usilnya nyaris membuka identitas mereka.

Tapi ujian cinta terberat Pai Su Cen dan Han Wen adalah bhiksu Fa Hai. Saat pertama melihat wajahnya, Fa Hai tahu Han Wen cocok jadi bhiksu. Bakat kemuliaan terpancar jelas dari paras wajah Han wen. Sayang Han wen menolak ajakannya, karena lebih tertarik hidup berkeluarga. Belakang bhiksu Fa Hai muncul lagi dengan tujuan yang sama, menarik Han Wen jadi muridnya.  Ia berusaha memisahkan Han Wen dengan Pai Su Cen. Apalagi setelah ia tahu Pai Su Cen bukan manusia biasa, melainkan siluman ular.

legenda-ular-putih-hijau***

Serial ini digarap sutradara Shia Chu Hai dan He Chi dengan gaya musikal seolah opera Cina. Banyak dialog yang dinyanyikan. Maka, selain dialog mesra “Istriku” “Suamiku”, serial ini juga punya lagu-laguyang diingat hingga kini.

Tokoh Pai Su Cen dibintangi Chao Ya Che, sedang Ching Erl atau Siao Ching diperankan Chen Mei Chi. Namun, yang paling kita kenang tentu tokoh Shi Han Wen yang ternyata diperankan seorang wanita, bukan pria, yakni Caecelia Ye Thung.

Saat mengulas tokoh cowok tapi diperankan cewek ini, tabloid Bintang mengatakan hal itu cukup mengganjal. Tabloid ini menulis, “Si pemeran Han Wen yang sepintas wajahnya mirip Dewi Yull, memang telah berusaha menampilkan bahasa tubuh laki-laki.Tapi tetap saja kurang sreg. Agak tak enak melihat dua wanita berkasih-kasihan.”

Dikatakan pula, keputusan memilih bintang wanita memerankan tokoh pria ini ada dasarnya. Tokoh Han Wen digambarkan lugu, kutu buku, naïf, dan sedikit penakut. Mungkin lebih pas bila dibawakan wanita.

Well, terlepas dari setuju atau tidak “dua wanita” berkasih-kasihan di layar, buat saya, bagian Han Wen yang aslinya cewek malah membuat kisahnya semakin dikenang.

Walau ada beragam kisah siluman ular putih, versi 1990-an rasanya takkan pernah ilupa oleh generasi 1990-an.

Untuk mengenangya mari nyanyikan lagi lagunya sambil lihat videonya di bawah. Lirik di bawah, saya salin dari tabloid Bintang edisi 165, minggu ketiga April 1994.

white-snake-legendChen Nien Teng I Hui
(Lagu Pembuka)
Chien nien teng i hui, teng i hui aa..
Chen nien teng i hui, wo wu hui aa…
She Shei cai erl pien
Shuo, ai wo yung pu pien
Ce we ice i ci
Aaa… tuan chang ye wu yuen
Yi sin sui, fung liu lei
Mung chan mien, ching yu yuen
Si hu te shui, wo te lei
Wo ching yuen he ni hua chuo i thuan
huo yen, aaa… aaa…

SERIBU TAHUN MENANTI
Seribu tahun menanti, menanti
Seribu tahun menanti, ku tak menyesal
Siapa yang sedang berbisik di telingaku
Mengatakan cintanya padaku selamanya tak berubah
Hanya demi satu kalimat ini
Patah hatku pun tak mengapa
Hujan membuat hatiku berkeping-keping, angin
Membuatku menderaikan air mata
Impian senantiasa menusik tidurku, cinta kian sulit diraih
Air danau Si Hu, tetesan air mataku
Daku rela lebur bersamamu dalam kobaran api asmara

Si Hu Mei Ching
(Lagu Penutup)
Si hu mei ching sa yue thien nei
Chun i ru ciu liu ru yen
You yuen chien li lai siang hui
Wu yuen tui mien shou nan chien
She nien siu te khung chuan tu
Pai nien siu te kung chen mien
Ruo she cien ya nien ya you cao hua
Pai shou thung sin cai yen chien
Ruo she cien ya nien ya you cao hua
Pai shou thung sin cai yen chien

KEINDAHAN DANAU SI HU
Keindahan danau Si Hu di bulan tiga
Hujan di waktu musim semi trasa indah, daun yang
liu bagaikan asap
Jika ada jodoh, terpisah ribuan li pun bisa bersatu
Jika tak berjodoh, bertemu pun tiada guna
Karena memang jodoh bar kita bisa bersatu dalam
satu perahu
Ratusan tahun hidup bersama dalam suka dan duka
Jika dalam waktu seribu tahun ada reinkarnasi
Jodoh sehati ada di depan mata

Silakan lihat video yang kami unggah dari You Tube.

Bagi yang ingin lebih mengenang era 1990-an silakan buka di sini.

(ade/ade)