Menengok Tutur Tinular Versi 1990-an Syuting Sampai ke China

tutur-tinular97
Lamting (berbaju biru) saat beradu akting dengan aktor Mongolia di Tutur Tinular tahun 1997. (foto: repro Markuat/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

ANDA mengikuti sinetron kolosal Tutur Tinular Versi 2011 yang tayang di Indosiar?

Saya tidak. Namun, saya mendengar serialnya sangat beda dengan kisah aslinya. Di sinetron Tutur Tinular versi sekarang, ada Mak Lampir dan Gerandong, Khrisna kecil, sampai Buto Ijo.

Selain banyak tokoh baru yang sebetulnya tak cocok masuk ke kisah Tutur Tinular, nyatanya serial ini disukai penonton. Rating sinetron ini kerap masuk 10 besar dan beberapa kali meraih puncak rating.

Tulisan ini tak hendak mengulas berbagai cross-over (istilah yang berarti tokoh-tokoh dari kisah berbeda muncul di satu cerita) ngawur Tutur Tinular versi sekarang.

Saya hendak mengajak Anda mengingat lagi lakon Tutur Tinular yang asli.

Tutur Tinular aslinya drama radio karya S. Tijab yang pernah disiarkan di 315 radio di seluruh Indonesia sejak 1 Januari 1989 sampai 31 Desember 1990.

tutur-tinular197Kisah Tutur Tinular dilatarbelakangi sejarah kerajaan Singosari (Tumapel) dan kejayaan Dinasti Yuan di bawah kekuasaan cucu Genghis Khan, Kubilai Khan pada abad ke 13 (1206-1292).

Alkisah, Kubilai Khan mengutus utusannya, Meng Chie, Wang Chao, dan Chen Pie ke Jawa. Meminta Singosari tunduk pada Dinasti Yuan. Raja Singosari kala itu, Sri Kertanegara--yang tengah melancarkan politik ekspansi Dwipantra, jelas sangat marah.Utusan Kubilai Khan, Meng Chie pun dilukainya.

Meng Chie tak terima. Sebelum kembali ke China, mereka menculik mpu Ranubhaya. Sang Empu kemudian dijebloskan ke penjara seraya menunggu hukuman mati. Untung Saja, Kao Shin, panglima berhati lembut, berhasil membujuk kaisar. Apalagi Kao Shin tahu, Ranubhaya ahli membuat pedang. Setelah membuatkan pedang sakti, Ranubhaya dibebaskan. Tapi seorang panglima ambisius, She Pie bermaksud merampas pedang dan membunuh Ranubhaya. 

Kao Shin mencium gelagat itu. Lou Shi Han seorang pendekar dari suku Han (harap diketahui Dinasti Yuan adalah bangsa penjajah dari Mongolia, suku Han adalah suku asli China), yang tengah berbulan madu dengan istrinya Mei Shin, diminta bantuan menyelamatkan Ranubhaya.

Pasukan She Pie mengejar Ranubhaya, Lou Shi Shan dan Mei Shin. Ranubhaya menghilang, Lou dan Mei Shin lari ke tanah Jawa.    

Begitulah bagian awal kisah sinetron Tutur Tinular versi 1990-an yang tayang di ANteve (nama ANTV dulu) mulai 25 Oktober 1997 setiap Sabtu, pukul 20.00 WIB.

Saat itu, rumah produksi yang membuatnya, PT Genta Buana Putaloka, sampai syuting ke Beijing, China termasuk ke Tembok Besar dan studio film di provinsi Hubei, sekitar 75 kilometer dari Beijing.

mei-shin97Tabloid ini diundang melihat ke lokasi syuting di China. Dalam laporannya, di Bintang edisi 347, minggu pertama November 1997, menulis ada lima aktor asal Indonesia yang terlibat syuting di China. Sisanya diperankan aktor asli China dan Mongolia. Termasuk tokoh Mei Shin yang diperankan Liu Yun Chien.

Syuting di China berlangsung dua pekan lebih untuk tayangan 2 episode (episode 7 dan 8). Sutradaranya bukan sembarangan. Yang menjadi sutradara bernama Profesor Muk Tuk Yeng, seorang perintis angkatan film generasi baru China awal 1990-an. Untuk penata kelahi, ditunjuk Chen Kaige, sineas yang melahirkan Farewell to My Concubine, film terbaik Festival Film Cannes tahun 1993 yang dibintani Gong Li dan Leslie Cheung. Muk Tuk Yeng dan Zhen Kaige satu angkatan sineas dengan Zhang Yimou.

Lebih dari 100 kru terlibat produksi di tengah cuaca musim gugur kala itu dengan suhu 15-22 derajat celcius, bejkerja selama 16 jam sehari. Aktor Chairil JM, pemeran Ranubhaya mesti menahan dingin karena diharuskan berkostum ala zaman Singosari yang minim baju di tengah cuaca dingin (yang lain pakai baju 3 lapis). Sementara itu, mantan atlet taekwondo Lamting kebagian peran jadi orang China, Lou Shi Han, suami Mei Shin.

Di Tutur Tinular versi 2011 tak ada tokoh Me Shin maupun kisah sampai ke negeri China segala. Yang ada malah mencampur aduk berbagai periode sejarah dan legenda (bagaimana bisa Mak Lampir bertemu dengan Khrisna?).

Well, nyatanya orang kini tak peduli dengan keotentikan cerita. Rating Tutur Tinular sekarang tetap tinggi. Mau bagaimana lagi.***

(ade/ade)