50 TAHUN TVRI: Mengenang “Ria Jenaka”

ria-jenaka1
"Ria Jenaka" tetap dkenang hingga kini. (dok.BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

AGUSTUS 2012 TVRI genap berusia 50 tahun. Kami merayakannya dengan mengulas acara-acara favoritnya. Ria Jenaka ini yang pertama.

Jauh sebelum generasi sekarang dibuat terbahak-bahak oleh wayang Opera van Java (OVJ), generasi 1980-an punya Ria Jenaka. Tapi terus terang, sedikit gegabah membandingkan OVJ dengan Ria Jenaka. Zaman saat dua acara itu lahir berbeda 180 derajat.

Tahun 1981 Ria Jenaka pertama kali mengudara. Dengan jatah 10 sampai 15 menit, Ateng, Iskak, Suroto dan Sampan beraksi. Mereka pelawak dan pemain wayang orang beken masa itu. Ateng dan Iskak selalu berhasil mengundang gelak dalam setiap lawakan mereka di luar Ria Jenaka. Setahun kemudian, Suroto mengundurkan diri, karena tak mungkin ia ulang-alik tiap bulan Surabaya-Jakarta. Beruntung, pemeran Gareng segera menemukan pengganti yang pas, Slamet Harto.

Generasi 1980-an tentu mengenang masa-masa saat Ria Jenaka tampil saban Minggu siang pukul 11.15 WIB. Setiap pekan, pelawak Ateng, memerankan Bagong, bersama kawan-kawannya menjadi punakawan dengan wajah dipupur putih.  

Sungguh merupakan keputusan jitu sejak semula Ria Jenaka mengambil bentuk punawakan—yang diambil dadri karakter pewayangan—untuk tampil di TV. Sebab, betapa tokoh Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sudah dikenal di hampir dikenal di setiap pelosok Nusantara, tidak hanya Jawa saja. Dan karena di masa itu stasiun TV ya cuma TVRI saja, Ria Jenaka, dengan segala polahnya, tetap menjadi kenangan tersendiri. Setidaknya, acara lawak jadoel lawakannya masih sehat, tidak main toyor, main pukul dengan gabus, didorong hingga jatuh, apalagi celaan kasar melecehkan.

Dalam tulisannya “Ria Jenaka: Masyarakat Selalu Menjadi Objek Penderita” di taboid Monitor edisi 230 (1990), penulis Herry Gendut Janarto mengungkapkan, Ateng—sebagai motor penggerak Ria Jenaka—pernah berujar Ria Jenaka adalah komedi yang berpakaian wayang. Artinya, “berpakaian wayang” di sini terbatas pada “bungkus” atau “kemasan” atau “bentuk luar.”         

Hal ini juga menjelaskan, meski berpakaia punakawan, komedia Ria Jenaka sejatinya tak memainkan peran sebagai punakawan sesuai pakemnya. Punakawan adalah tokoh-tokoh yang selalu ada di sekeliling raja-raja, yang siap menghibur majikan mereka di kala duka dan mengawani dalam kegembiraan. Sering mereka, terutama Semar, yang konon merupakan titisan dewa paling sakti, juga memberikan masukan, saran-pendapat, bahkan nasihat kepada sang majikan, baik diminta maupun tidak.

ria-jenaka2Lantas, sudahkah “punakawan” di Ria Jenaka melakukan hal di atas?

Seingat saya sih tidak. Terus terang, waku kecil dulu, Ria Jenaka bukan acara favorit saya. Buat saya, acara ini tak lucu. Walau tokoh-tokohnya sudah tampil maksimal persis badut, aksi merka tak kocak dan mengundang tawa. Yang paling saya ingat, Ria Jenaka lebih sering berisi penyuluhan pesan-pesan pemerintah. Pada suatu ketika mereka bicara soal program KB, kali lain soal transmigrasi, banjir, soal kecintaan pada produk Indonesia, dan macam-macam, seperti dikatakan blog lapanpuluhan, “tergantung departemen atau lembaga atau instansi terkait mana yang memesannya.”  

Hal ini, bukannya tak disadari dan dikritik. Artikel di tabloid Monitor edisi 224 (Rabu, 4 Juli 1990) diberi judul “Ria Jenaka: Ketika Penonton Tak Mau Tertawa”. Kalimat pembuka artikelnya begini: “Acara yang seyogyanya untuk mengisi hari libur sekaligus menghibur, akhir-akhir ini nyaris diemohi penonton, karena tak lagi mampu menggelitik.”

Kenapa gagal menghibur? Dalam keterangan foto di artikel itu ada tulisan yang merupakan kesimpulan artikelnya. Isinya begini: “Meski sudah berusaha menampilkan berita aktual, mereka (maksudnya “punakawan” Ria Jenakared) nyaris gagal menyodorkan hiburan, karena mereka tak cuma sekadar menghibur, tapi cuma memberi penyuluhan. Jadinya, keerbatasan ruang, gerak, menjadikan Ria Jenaka monoton dan terasa kaku.”

Jika ditelisik, pangkal soalnya adalah pada beban yang ditaruh di pundak acara ini. Sejak awal, Ria Jenaka memang tak dimaksudkan sebagai acara komedi semisal OVJ di masa kini. Ia tak lebih dari kendaraan yang digunakan rezim saat itu untuk menyampaiakan pesan-pesan mereka agar lebih mudah diterima oleh rakyat. Selain meyampaikan pesan lewat siaran berita yang dikontrol pemerintah, acara komedi pun dipakai rezm sebagai alat propaganda di masa itu.

Makanya, seperti dicatat Monitor, Ria Jenaka sejak awal datang dengan formula begini: 30 persen komedi, 30 persen informasi (dari rezim—red), 30 persen cerita, plus sisanya menyanyi dan menari.      

Masalahnya kemudian, ya itu tadi, unsur penyuluhan dan propagandanya terlalu kental, hingga lama-lama masyarakat pun jadi emoh nonton. Herry Gendut Janarto memberi contoh tayangan Ria Jenaka tanggal 15 Juli 1990 yang isinya Bagong dan Semar silih berganti berucap: “Jangan main hakim sendiri”; “Kita harus kembangkan pengetahuan tentang hukum”; “Kita peringati hari kejaksaan pada tanggal 22 Juli.”

Bayangkan bila Sule, Andre, Azis Gagap, atau Parto mengucapkan kalimat-kalimat itu di tengah acara OVJ. Bisa-bisa penonton pingsan karena mengira rezim Orde Baru bangkit lagi.***

(ade/ade)