Sinetron “Candy” di Mata Sutradara dan Pemainnya

candy01
TABLOIDBINTANG.COM -

SINETRON Candy pernah amat populer di tahun 2007 silam. Masih ingat 'kan?

Terlepas kemiripannya dengan cerita komik Jepang, sinetron Candy mendapat sambutan hangat saat tayang perdana enam tahun silam.

Karakter Candy yang innocent dan menggemaskan dibawakan dengan apik oleh Rachel Amanda. Kehadiran aktor (yang waktu itu) pendatang baru seperti Bobby Joseph dan Lucky Perdana membuat sinetron ini dengan cepat digandrungi ABG dan ibu-ibu.

Mungkin ini juga faktor yang membuat Candy meraih Panasonic Awards 2007 untuk Drama Seri Terfavorit, mengalahkan Intan yang tak kalah happening pada masa itu. Saat ini, Candy tayang ulang di RCTI setiap Senin-Jumat pukul 15.30 WIB, dan mendapat sambutan cukup baik.

candy02Enam tahun silam, tabloid Bintang pernah mewawancara sutradara dan pemain-pemain sinetron produksi SinemArt ini.

Berikut petikannya:

Widi Wijaya (Sutradara): Kecil Kemungkinan Candy Dipanjang-panjangkan

Sinetron Candy lebih mengarah pada humanisme, di mana Candy tokoh yang suka menolong dan setia kawan. Dari komiknya, agak ada pergeseran cerita. Tapi kami tetap mengharapkan ia jadi ikon dan idola baru, cerminan anak baik dan smart yang manusiawi. Ia berani berbagi kebahagiaan. Seperti misalnya suatu kali ia sangat lapar, tapi ketika melihat orang tua, dia rela memberikan makanannya.

Hal-hal seperti itulah yang mengandung sisi edukasi. Soal penonton yang lebih antusias saat menonton Candy teraniaya, itu bisa jadi karena penonton tidak mau idolanya disakiti. Bisa dibilang itu juga menjadi salah satu bagian untuk meraup penonton. Tapi kalau episodenya dipanjang-panjangkan, kecil kemungkinannya. Nantinya ceritanya akan menjadi petualangan. Dari satu kota ke kota lain.

Menariknya, dari satu pengalaman akan tercipta pengalaman lain yang tidak berulang dengan emosi baru. Mengenai bahasa yang dianggap agak kasar untuk ukuran sinetron anak, saya bilang ada, tapi tidak banyak. Kadang ketika kami menggarap dengan waktu yang padat, pasti ada yang lolos, termasuk penyuntingan bahasa. Tapi kami selalu berusaha meminimalisir. .
 
Rachel Amanda (Pemeran Candy): Periang, Tapi Tidak Setomboi Candy

Begitu dapat tawaran main di sinetron Candy, aku nggak ragu sama sekali. Justru aku senang, 'kan banyak orang yang bilang cerita Candy Candy bagus. Aku sendiri sudah baca komiknya dan memang bagus. Di sini juga banyak teman-teman seumurku. Jadi, meskipun syuting non stop setiap hari, aku tetap merasa enjoy.

Mayoritas teman-teman cewek, aku sudah kenal. Apalagi Nimaz. Dia termaku dari kecil, jadi hubungan kami dekat banget. Kalau untuk yang cowok-cowok, aku lebih menganggap mereka kayak abangku, jadi adaptasinya juga nggak susah. Aku sih paling dekat sama Bobby, jadi kalau cerita atau curhat sama dia. Dia panggil aku adik, aku panggil dia abang. Walaupun kami semua dekat, jujur kalau untuk main di luar, jarang. Kami kebanyakan main di lokasi syuting. Tapi kadang-kadang menyempatkan jalan bareng. Kayak waktu itu jalan ke Citos. Sayangnya aku nggak bisa ikut karena ada syuting lain.

Soal peran Candy, aku nggak terlalu merasa susah, soalnya Candy periang, tomboi, jail. Nggak beda jauh sih sama aku, cuma bedanya aku nggak setomboi Candy. Tapi tetap saja aku belum puas dan memang nggak akan pernah puas dengan aktingku. Karena dengan begitu, aku jadi bisa terus meningkatkan lagi kualitas aktingku. Aku terus evaluasi dengan nonton dan melihat artis yang sudah senior kayak Tante Mer (Meriam Bellina).

Yang membuat penonton suka sama sinetron Candy, menurutku sih pertama segi pemainnya. Pemainnya oke-oke, lho, hehehe. Dan yang pasti dari segi cerita. Ya, mungkin banyak orang yang bilang 'Ih, ngikut-ngikutin, ih ngebosenin', tapi kami buat lebih nyata. Bagaimana caranya cerita lama kami kemas lagi biar jadi nggak membosankan dan jadi versi baru. Dan sampai saat ini tanggapan sebagian besar penonton bagus. Alhamdulillah banget.
 
Gisela Cindy (Pemeran Lisa): Kalau Nggak Ada Peran Antagonis, Kurang Seru

Untuk menerima tawaran atau nggak, semua urusan Mama sebagai manajer, tapi aku senang banget bisa main di sinetron Candy. Toh menurutku kami nggak jiplak banget-banget. Lagi pula banyak orang yang ngomong, suka baca komik Candy Candy. Biasanya aku tanya, bagusan mana sama sinetronnya. Ternyata banyak juga yang bilang lebih suka sinetronnya.
Wah, kalau dengar itu, aku senang banget. Soal peranku yang lagi-lagi antagonis, dibilang bosan nggak. Karena banyak orang bilang, kalau di dalam satu sinetron nggak ada peran antagonisnya, kurang seru. Kalau ada yang bilang, 'ih, kamu jahat banget sih', aku selalu bilang terima kasih dan berusaha meyakinkan itu cuma akting.

Pernah waktu aku sama keluarga jalan-jalan ke mal, ada ibu hamil tanya 'kamu artis, ya?' terus dia cubitin aku sambil  bilang amit-amit punya anak kayak aku. Aku cuma ketawa-ketawa saja dan malah senang, karena berarti aktingku cukup memuaskan. Dan soal kenapa sinetron Candy banyak disukai, menurutku karena ceritanya sama seperti yang dialami anak-anak beranjak remaja di kehidupan sehari-hari. Nggak dibuat-buat. Makanya sama kayak pemain lain, aku juga berharap penonton semakin suka, jadi episodenya diperpanjang.


 
Lucky Perdana (Pemeran Alfa/ Antony/ Topan): Baru Baca Komiknya di Hari Pertama Syuting

Sebelum main di sini, aku sempat melalui beberapa kali kasting. Barulah kemudian aku memerankan tiga tokoh sekaligus, Alfa, Antony, dan Topan. Tapi yang lebih dominan Alfa dan Antony, karena Topan 'kan Alfa yang lagi menyamar. Tiga-tiganya punya karakter yang beda.
Awalnya aku sempat ragu, bias nggak memerankan tokoh yang berbeda karakter, karena artinya aku menanggung beban berat. Apalagi Antony sosok yang sangat disukai. Setelah sempat deg-degan, aku merasa berhasil karena aku menemui banyak orang yang suka peran Antony karena kelembutannya dan Alfa karena jiwa sosialnya tinggi.

Aku sebenarnya baru baca komiknya di hari pertama syuting, soalnya aku lebih suka baca komik kayak Doraemon atau Hattori yang lebih fresh. Setelah baca Candy Candy, aku terharu sama perjuangan Candy.  Temanya juga menyentuh, tentang persahabatan.

Soal karakter yang aku mainkan, otomatis sama dengan di komik. Aku nggak bisa ubah seenaknya. Kalau penonton nggak suka, berabe dong. Tantangannya kalau lagi adegan dengan dua peran sekaligus. Misalnya Antony dan Alfa. Ketika di kamera aku berhadapan dengan Alfa, aslinya aku berakting sendiri dengan hanya membayangkan ekspresi lawan main. Itu yang paling susah.
 
Nimaz Dewantary (Pemeran Rani): Sering Minta Take Ulang

Aku senang bisa main di sinetron Candy. Selain ceritanya bagus, aku main bareng sama temanku, Amanda. Aku nggak melalui proses kasting lagi. Dulu kan aku juga pernah kasting, jadi SinemArt masih punya file-nya. Waktu ditelepon, mamaku sempat nggak percaya. Baru malamnya ditelepon lagi, percaya.

Peranku juga banyak tantangan, karena banyak adegan berbahaya. Ada adegan jatuh dari kuda, nyebur ke danau, dan juga adegan bunuh diri dari tempat yang lumayan tinggi. Sempat ragu, sih, tapi aku yakin pasti banyak yang mendukung. Aku percaya diri saja, karena kalau ragu terus malah nggak dapat feel-nya. Aku juga berusaha terus memperbaiki akting. Kalau misalnya merasa ada yang kurang, bisa minta take lagi sama sutradara. Kalau bisa lebih bagus, kenapa nggak diulang.

 
(Ditulis Tubagus Guritno, pernah dimuat di Tabloid Bintang Indonesia No. 848, Minggu Keempat Juli 2007)

(ray/yb)