Nonton "Ibunda" untuk Mengenang Tuti Indra Malaon

ibunda_2
Tuti Indra Malaon di film "Ibunda" (dok.ist.)
TABLOIDBINTANG.COM -

PENGANTAR: Pada malam puncak FFI 2010 lalu, mendiang Tuti Indra Malaon mendapat penghargaan seumur hidup.

Tuti adalah aktris legendaris yang pernah mendapat dua piala Citra berkat kehebatan aktingnya di Ibunda (1986) dan Pacar Ketinggalan Kereta (1989). Selain sebagai bintang film, Tuti juga aktris teater jempolan dari kelompok Teater Populer pimpinan mendiang Teguh Karya. Tuti juga aktris kepercayaan Teguh saat membuat film. Ia meninggal dunia tahun 1989 di usia 49 tahun karena penyakit liver.

Untuk mengenang Teguh, kami munculkan ulasan salah satu film Tuti, Ibunda yang pernah ditulis wartawan situs ini di blognya.     

FILM, dalam salah satu definisinya sebagai karya seni, adalah imitasi kehidupan. Artinya, apa yang terjadi di dunia nyata dihidupkan kembali lewat film. Film model begitu disebut film realis. Belakangan memang muncul pula film neo-realis dan macam-macam lagi. Tapi, bukan itu yang ingin saya bicarakan di sini. Dan saya juga tak hendak berpanjang-panjang bercerita soal film realis.

Saya menyinggung film realis dalam kaitannya dengan Ibunda yang baru saya tonton tahun 2007—atau telat 21 tahun setelah filmnya resmi dirilis. Ibunda di mata saya adalah film realis sesungguhnya. Inilah, saya rasa, puncak pencapaian Teguh Karya, pembesutnya.

Realisme dimaksud yaitu, film ini mampu menerjemahkan apa yang terjadi di kehidupan nyata senyata-nyatanya. Tak ada tuh adegan mirip sinetron yang serba berlebihan. Saat seorang tokohnya, Zulfikar (Alex Komang) memberitahu ibunya ingin bercerai dari istrinya. Sang Ibu (Tuti Indra Malaon) tak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Kamera George Kamarullah tak juga menyorot matanya dengan close-up seperti halnya sinetron-sinetron kita yang meniru dari film India. Lihat pula saat Zulfikar bertengkar dengan istrinya (diperani Ayu Azhari saat masih menggemaskan).

Dialog yang keluar bernas. Penuh makna.

Zulfikar: Di film itu kamu mesti bisa jadi segala macam. Banyak peranan yang aku mainkan.

Istrinya: Jadi dirimu satu saja nggak bisa, kok mau jadi macam-macam. Tanggung jawabmu. Suamiku. Bapak dari si Bambang. Jadi orang itu saja nggak becus, mau jadi peranan. Jadi aku coba kalau bisa. Mainin peranan aku.

Zulfikar: Jangan menghina, tarik lagi perkataanmu!

Tuh, kan?

ibunda-posterDi filmnya memang dikisahkan, Zulfikar, yang tengah merintis karier dari aktor teater jadi bintang film, jatuh ke pelukan ”tante girang”. Dari tante girang itu pula kariernya melesat. Namun, hal itu membuatnya melupakan keluarganya. Istri dan anaknya, Bambang yang masih bayi, ia tinggal. Hingga si tante girang mendapat ”piaraan” baru. Zulfikar ditendang. Merasa kalah dan tak punya tujuan, Zulfikar pulang ke rumah. Dan tejadilah pertengkaran yang dialognya dicuplik di atas.

Film ini bukan cuma berkisah tentang carut-marut hidup Zulfikar. Ia hanya sub-plot di antara sub-plot lain. Kisah utamanya tentang kegundahan sang ibu bernama Rahim. Ibu Rahim beranak 5. Tiga sudah kawin, dua masih tinggal bersama ibu. Sehari-hari biaya Ibu Rahim ditanggung Gatot (Galeb Husin), suami dari anak tertuanya, Farida (Niniek L. Karim). Dan dengan demikian Farida (bareng Gatot) merasa bisa mengatur adik-adiknya. Fitri (Ria Irawan), adik bungsunya, dilarang berpacaran dengan Luke. Cuma lantaran Luke orang Papua (di film masih disebut Irian). Hal ini membuat Fitri berontak, kabur dari rumah. Anak Farida sendiri dilarang kursus komputer, sampai berontak pula dengan mabuk-mabukkan. Segala persoalan itu mengisi hari-hari Ibu Rahim.

Tuh, lihat, betapa dekatnya persoalan mereka dengan kita, penonton kebanyakan. Tema film ini bukan aksi yang menggedor jantung. Atau ditakut-takuti hantu. Film ini hanya bercerita tentang persoalan hidup manusia biasa. Yang hebat dari Teguh Karya, persoalan hidup yang sederhana itu justru tetap tampil memikat. Kamera yang melulu medium shoot juga tak membuat jemu. Jika dibuat orang lain, bisa jadi filmnya bakal lamban membosankan. Tapi simak, nyaris tak ada adegan mubazir di film (kecuali adegan film dalam film yang menurut saya terlalu panjang). Farida yang terinjak kakinya pun seakan punya makna.

Di akhir film, Teguh Karya menutup semua konflik dengan manis. Masalah anak-anaknya terpecahkan dan mereka berfoto bersama. Ibu Rahim menatap anak-anaknya masuk rumah usai berfoto. Kita, dari kejauhan, menginsyafi kalau hidup, meski tak pernah luput dari cobaan, tetaplah indah.

IBUNDA (1986)
Sutradara: Teguh Karya
Skenario: Teguh Karya
Pemeran: Tuti Indra Malaon, Alex Komang, Ayu Azhari, Niniek L. Karim, Ria Irawan
Durasi: 103 menit

Image credit: Rumah Buku/Kineruku Webzine
Ulasan ini sebelumnya sudah muncul di blog penulis.

(ade/ade) {JaThumbnail off}