Chemistry Paling Berkilau Dalam Sinema Indonesia

Sophan Sophian-Widyawati/Ist.
TABLOIDBINTANG.COM -

KATA Chemistry menurut kamus Inggris-Indonesia karangan John M Echols dan Hassan Shadily berarti ilmu kimia. Tapi sebagai istilah kata chemistry sangat populer. Sebagian besar mendiskripsikan keterkaitan  atau kecocokan hati antara dua orang atau lebih baik lawan jenis atau sesana jenis.

 Dalam dunia sinema chemistry berarti kecocokan antara aktor dan aktris dalam memerankan sepasang kekasih, sehingga menambah nilai  kekuatan sebuah film. Hollywood pernah melahirkan beberapa pasangan legendaris  dengan chemistry kuat. Clark Gable-Vivian Leigh lewat Gone with the Wind (1939), Richard Burton-Liz Taylor melalui film Cleopatra (1963), Ryan O'neal-Ali Macgraw dengan Love Story (1970) sampai Titanic (1997) yang melambungkan Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet.

Industri film dan sinetron Indonesia juga pernah melahirkan banyak pasangan yang memiliki chemistry   kuat. Kekuatan chemistry mereka di layar lebar tak hanya diperbincangkan publik, tapi juga dijadikan inspirasi dalam kehidupan nyata, terlebih ada di antara mereka yang menjadi pasangan yang sesungguhnya alias mengingatkan diri dalam pernikahan. Ini dia mereka.

1. Sophan Shopiaan -Widyawati
 Sophan Sophiaan telah tiada. Dia meninggalkan pasangan jiwanya, Widyawati, bersama dua anak plus 2 cucu.Tapi publik tak akan pernah kehilangan kenangan terhadap pasangan legendaris Indonesia ini. Inilah pasangan yang selalu dijadikan role model selebriti yang  pacaran atau  baru menikah. Pertautan 2 insan ini tak lepas dari jasa almarhum Win Umboh yang mempertemukan mereka lewat  film Pengantin Remaja (1971). Di film ini, Sophan berperan sebagai Romi, anak seorang diplomat. Dia menjalin cinta dengan teman sekolahnya, Juli, yang dilankonkan Widyawati, anak seorang petani kaya. Ayah Juli melarang keras hubungan merekan lantaran ragu dengan latar belakang keluarga Romi. Apalagi pada saat yang sama, Romi juga sudah dijodohkan oleh eyangnya dengan seorang gadis lain. Sebuah peristiwa -- Juli divonis mengindap kanker darah -- menyadarkan orangtua Juli yang kemudian memperbolehkan anaknya dinikahi Romi meski cuma 1 bulan karena pada akhirnya, Juli meninggal dunia. Pengantin Remaja diilhami film Love Story karya Arthur Hiller yang  meraih sukses besar di Amerika. Film  ini juga melambungkan 2 bintangnya, Ryan O'neal dan Ali Macgraw ke percaturan perfilman Hollywood. Sejak dipertemukan dalam Pengantin Remaja -- juga  karena chemistry-nya tentunya -- Sophan dan Widyawati sering dipasangkan di film yang lain, misalnya Cintaku Jauh di Pulau (1971), Jauh di Mata (1973), Romi dan Yuli (1974), dll.  Dua sosok yang sama-sama mengaku keras kepala, sombong dan teguh  pendirian ini, ternyata justru menemukan kecocokan. Pada  1972, karena chemistry yang begitu kuat, mereka sepakat menjadi suami istri.

2. Slamet Rahardjo-Christine Hakim
Duo bereputasi hebat ini ditemukan sutradara legendaris Teguh Karya melalui film Cinta Pertama (1973). Hebatnya, lewat film ini pula, Christine Hakim yang berperan sebagai Ade, seorang gadis yang nekad kawin lari dengan pacarnya, Bastian (Slamet Rajardjo) langsung meraih  Piala   Citra aktris terbaik di FFI 1974. Keberhasilan Christine tentu juga berkat andil Slamet yang bermain maksimal.  Karena keklopannya juga, Christine Hakim dan Slamet lantas dipertemukan lagi dalam beberapa film lain, semisal Badai Pasti Berlalu (1977), Di Balik Kelambu, dll. Khusus di Balik Kelambu, permainan Christine dan Slamet sebagai suami istri yang frustrasi lantaran masih numpang di rumah mertua, sangat natural. Slamet memerankan Hasan sebagai suami yang tertekan lantaran sering dibanding-bandingkan dengan menantu lainnya, sementara Christine sebagai Nurlela, istri yang makan hati, juga dengan penuh penjiwaan. Latar belakang yang sama -- didikan Teguh di Teater Populer -- membuat Christine dan Slamet sudah saling mengenal luar dalam. Makanya, mereka selalu tampil maksimal dengan peran apa pun. Lewat film ini, untuk kedua kalinya, Slamet diganjar Piala Citra untuk Aktor Terbaik di FFI 1983, setelah sebelumnya  meraih Citra lewat kategori yang sama di FFI 1975 berbekal film Ranjang Pengantin. Setelah meraih Citra lewat Cinta Pertama, Christine juga menyabet Citra lagi lewat Tjoet Nja Dhien (1986). Dalam perjalanan, Slamet dan Christine bermetamorfosa menjadi sutradara dan produser. Slamet pernah menghasilkan sebuah karya mengharukan, Langitku Rumahku,  Christine dengan Daun di Atas Bantal. Kalau ada dua sosok senior yang patut dicontoh para aktor dan aktris muda, barangkali Slamet dan Christin-lah orangnya.

3. Benyamin Suaeb-Ida Royani
Benyamin S, begitu nama kerennya, dan Ida Royani  pernah menjadi pasangan suami istri selama bertahun-tahun karena memang mereka cocok satu sama lain. Tapi itu hanya di layar lebar di awal tahun 70-an.Mereka tampil di berbagai genre film. Ada yang berlatar  belakang cerita rakyat, berseting Betawi bahkan ala koboi. Penampilan Benyamin dan Ida selalu menggelitik. Celetukan khas Betawi selalu mewarnai dialog di film yang mereka bintangi. Maka, penampilan duet kompak ini  selalu penuh canda tawa. Mereka tampil di banyak film sebagai pasangan, seperti Biang Kerok (1972), Biang Kerok Beruntung (1973), Benyamin Si Abu Nawas (1974), Buaya Gile  (1974), Tarsan Kota (1975), dll. Kolaborasi Benyamin dan Ida tak hanya di layar kaca, tapi juga di panggung musik Indonesia. Pasangan ini pernah  menelurkan beberapa album yang cukup sukses, macam Ondel-Ondel (1970), Tukang Kredit (1972), Kompor Meledug (1973) dan Burung (1975). Bahkan pernah tampil di Australia dan Brunei untuk menunjukkan kehebatan suara kocaknya.

4. Roy Marten-Jenny Rachman
Roy Marten dan Jenny Rachman di tahun 70-an, sama-sama ditasbihkan  sebagai anggota  The Big Five, 5 bintang tenar dengan bayaran paling mahal. Tapi akting Roy dan Jenny memang sepadan dengan bayaran mahalnya. Duet ini membuktikan diri lewat film Kabut Sutra Ungu (1979) besutan sutradara  Sjuman Djaya yang membuat Jenny diganjar Piala Citra untuk Aktris Terbaik FFI 1980. Di  film berikutnya, Roy Marten kembali membantu Jenny Rachman meraih Piala Citra untuk kedua kalinya lewat duet apiknya di film Gadis Marathon (1981). Dua film itu membuktikan bahwa Jenny dan Roy memang punya ikatan kimiawi yang kuat. Roy dan Jenny tak hanya tampil di 2 film itu. Mereka juga pernah beradu adegan lewat Rahasia Gadis (1975).Selain dengan Jenny, Roy Marten sebenarnya juga sering berpasangan dengan anggota The Big Five lainnya, Yatie Octavia, seperti di Aula Cinta, Roda-Roda Gila, dll. Tapi memang chemistry Roy dengan Jenny lebih kuat. Dan Piala Citra adalah buktinya.

5. Barry Prima-Eva Arnaz
Kalau ada pasangan serasi untuk film laga, Barry Prima dan Eva Arnaz-lah orangnya. Dipertemukan pertama kali dalam selamatan film Lima Cewek Jagoan Beraksi Kembali  (1981), Eva dan Barry lantas menjadi pasangan tetap dalam berbagai film laga, seperti Membakar Matahari (1981), Perempuan Bergairah (1982), Pasukan Berani Mati (1982), dll. Dalam tempo setahun, sejak dipertemukan pertama kali, Eva dan Barry sudah tampil dalam 10 buah film laga. Dan selalu jadi pasangan, baik sepasang kekasih maupun suami istri. Dari film itu pula benih-benih cinta mereka mulai bersemi.  Chemistry yang kuat di layar lebar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Tanggal 7 Oktober 1983, Eva dan Barry melangsungkan pernikahan. Tapi pernikahan mereka hanya bertahan selama 5 tahun. Meski sudah berpisah, nama mereka tetap terpatri di hati penggemar film laga dan tercatat dalam sejarah film nasional. Sampai sekarang sulit dicari penggantinya.

6. Rano Karno-Yessy Gusman
Menyebut pasangan ini otomatis teringat film remaja legendaris tahun 1979. Ya, Gita Cinta Dari  SMA yang disutradarai oleh Arizal inilah yang menjadikan dua bintang muda ini sebagai idola remaja di seantero negeri. Rano dan Yessy representasi dari sebagian besar anak muda waktu itu. Apalagi kisah cinta mereka begitu menyentuh. Ratna (Yessy) dari keluarga kaya dan  Galih (Rano) yang berperan sebagai pemuda dari keluarga pas -pasan menambah kekuatan cerita Gita Cinta dari SMA. Makanya, ketika film ini usai, publik penasaran. Pemuja Rano dan Yessy meminta  kelanjutan kisah cinta mereka. Maka di tahun yang sama dibuatlah Puspa Indah Taman Hati dengan bintang dan sutradara yang sama. Selama bertahun-tahun, Rano dan Yessy menjelma menjadi idola remaja. Saking kuatnya pengaruh mereka di kancah film nasional, kalau ada cowok atau cewek yang mirip salah satu di antara mereka, pasti jadi incaran lawan jenis. Selain 2 film di atas, Rano dan Yessy juga pernah dipertemukan di film Buah Terlarang (1979) dan Sumpah Pocong (1988).

7. Herman Felani-Muthia Datau
Pasangan ini mengikuti jejak seniornya, Sophan Sophiaan-Widyawati, melanjutkan duet di layar lebat ke pelaminan. Bedanya, jika Sophan dan Widyawati sempat main beberapa  film, Herman-Muthia cukup satu film. Mereka hanya sekali main film bareng, film Sirkuit Kemelut (1980). Uniknya, di film yang disutradarai Lukman Hakim Naim itu, Herman yang memainkan tokoh Alex justru memperkosa Joice (diperankan Muthia) yang tak lain pacarnya sendiri. Tapi dalam perjalanan, hubungan Alex dan Joice membaik. Sayang nasib Alex berakhir tragis. Dia tewas karena peluru nyasar dalam sebuah kerusuhan massal. Meski tewas di film, hubungan mereka justru makin hidup di kehidupan nyata. Pada  8 September 1985, Herman yang kala itu jadi idola remaja bersama Rano Karno, Yessy Gusman, Lydia Kandou, Ita Mustafa dan Anota Carolina, resmi menyunting Muthia Datau dan hidup bahagia sampai sekarang.

8. Onky Alexander-Meriam Bellina
 Film Catatan Si Boy (1987) menandai munculnya idola remaja baru pada sosok Onky Alexander. Jika sosok Galih -- diperankan  Rano -- dipuja  karena kesederhanaannya, Boy -- dilakonkan Onky Alexander -- dengan segala kemewahannya. Boy digambarkan sebagai pemuda ganteng, suka olahraga, suka menulis buku harian dan taat beribadah. Dia anak seorang pengusaha kaya yang ke mana-mana mengendarai BMW. Kurang apa lagi? Tadinya, dia pacaran dengan Nuke (Ayu Azhari), tapi Nuke diungsikan ayahnya ke London lantaran tersinggung dengan ulah Boy yang  menyuapnya. Boy lantas berkenalan dengan Vera (Meriam Bellina). Karakter Vera yang keras hati -- diperankan  Meriam Bellina, magma perfilman nasional kala  itu -- membuat hubungan Boy dan Vera selalu diwarnai bentrokan, tak hanya kata-kata tapi juga fisik. Meski berbeda karakter, percintaan Onky dan Mer tetap “dapat”. Kolaborasi Onky-Mer terus berlangsung sampai Catatan Si Boy  IV. Di film ini pula muncul Paramitha Rusady yang berperan sebagai Cindy sampai Catatan Si Boy V. Dalam kehidupan nyata, Onky sempat pacaran dengan Mitha  selama beberapa saat lamanya. Mereka putus, dan Onky memilih Paula Saroinsong sebagai istrinya sampai sekarang.

9. Ari Wibowo-Lulu Tobing
Ketika industri film nasional masih megap-megap, Ari Wibowo dan Lulu Tobing menghangatkan layar kaca  lewat peran mendayu-dayu dalam sinetron Tersanjung, sebuah sinetron yang sampai sekarang tercatat sebagai yang terpanjang, 360 episode, (1998-2002).  Sosok  Ari yang waktu itu memang sangat diidolakan para remaja, menjadi  nilai lebih sinetron ini. Apalagi dia memainkan peran Rama, seorang pemuda baik hati dan bertanggung jawab. Lulu Tobing yang di kalangan penggemar ABG -- waktu itu -- cukup populer menjadi pasangan yang sangat pas. Lulu memainkan tokoh Indah  yang menderita dengan sangat  baik. Singkatnya, Ari dan Lulu poros cerita  di sinetron yang yang dibesut Vasant R Patel asal India ini. Meski sudah dihentikan penayangannya, publik masih mengingat peran Ari dan Lulu di sinetron itu.

10. Nicholas Saputra-Dian Sastro
Setelah lebih dari 15 tahun, jagad perfilman nasional kembali memiliki idola baru  lewat Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Dua anak muda ini dipertemukan dalam film percintaan gaya 2000-an  lewat Ada Ada dengan Cinta? (2001) yang dibesut Rudi Soedjarwo. Film ini ternyata  menggugah minat penonton -- terutama anak-anak muda -- untuk berbondong-bondong ke gedung bioskop sekaligus menyaksikan jalinan cinta Rangga (Nico) dan Cinta (Dian). Di hari pemutaran, film ini ditonton 62.217 penonton. Jalinan cinta Rangga yang cuek, dan Cinta yang manja justru dianggap sangat pas. Seiring dengan kesuksean film ini, media dan  penggemar juga memimpikan agar pasangan ini berpacaran. Sayang, Dian dan Nico sudah punya tambatan hati masing-masing. Tapi pasti chemistry Nico dan Dian akan dicatat sebagai pasangan yang mendobrak kelesuhan film nasional setelah kosong idola lebih dari 10 tahun.

11. Shandy Aulia-Samuel Rizal
Setelah Ada Apa dengan Cinta?, ada Eiffel I'm In Love disaksikan 3 juta  penonton. Nasry Cheppy, sang sutradara yang pernah melambungkan Onky Alexander lewat Catatan Si Boy,  mengarahkan Shandy Aulia dan Samuel Rizal menjadi sepasang kekasih. Gaya pacaran acuh tak acuh plus cemburu yang mewarnai kehidupan Tita (Shandy) dan Adit (Samuel), membius jutaan penonton. Saking suksesnya film ini lantas dilanjutkan dengan edisi extended version dengan durasi 195 menit. Kemesraan yang terjalin antara Shandy dan Samuel begitu terlihat baik di luar maupun saat syuting. Maklum, mereka sering curhat satu sama lain. “Kartu mati dia semua ada pada saya,” kata Sammy menggoda Shandy. Percintaan Shandy dan Sammy dilanjutkan lagi di film Apa Artinya Cinta. Sayang, tak sesukses Eiffel I'm In Love.

12. Acha-Irwansyah
Chesmistry  yang terjalin antara Acha dan Irwansyah di layar lebar terbawa  dalam kehidupan nyata. Ya, pasangan kekasih -- kini sudah pisah -- ini  terlibat cinta lokasi saat main bareng di film Heart  arahan Hanny R Saputra yang sukses besar. Berperan sebagai Luna yang mengidap penyakit sorosis (kanker hati), Acha tampil menggigit dan habis-habisan beradu akting dengan Irwansyah yang berperan sebagai Farel. Bahkan dalam sebuah adegan mereka mesti berciuman bibir. Getar-getar inilah yang membuat mereka sepakat menjadi sepasang kekasih.  Apalagi selain di layar kaca, Acha dan Irwansyah juga berduet lewat lagu. Salah satunya, soundtrack film Heart di bawah arahan Melly Goeslaw. Lebih dari 2 tahun mereka menjalin cinta, sebelum bubar lantaran tinggal berjauhan -- Acha menuntut ilmu ke Kuala Lumpur -- sementara Irwansyah di Jakarta. 

13. Dude Harlino-Naysilla Mirdad
Percintaan Rado (Dude Harlino) dan Intan (Naysilla Mirdad) di sinetron yang diadaptasi dari drama Korea berjudul Be Strong Geum Soon, pernah  merajai rating. Di masa puncaknya, permainan Dude dan Intan yang menghayutkan penonton mampu meraih  rating 9,9 dengan share 33,0. Efeknya, jam tayangan sinetron produksi Sinemart ini rebutan pengiklan. Di luar ceritanya yang  penuh air mata karena  Intan ditelantarkan oleh ibunya, saat remaja terlibat pergaulan bebas dan lalu hamil, ditinggal mati suaminya, disia-siakan mertuanya -- roda penggerak memang ada pada kedua tokoh utamanya, Rado dan Intan. Karena permainan apik Dude dan Naysilla pulalah, sinetron ini begitu bergigi. Dude pernah dipasangkan dengan  beberapa bintang muda lainnya, Ririn Dwi Ariyanti di Cincin, lalu dengan Carissa Puteri, Marshanda dan Alyssa Soebandhono. Tapi hanya dengan  dengan Naysilla, chemistry-nya kuat banget. Pun begitu dengan rating-nya, tentunya.

14. Shireen Sungkar-Teuku Wisnu
Kisah sinetron Cinta Fitri terpusat pada sosok Fitri, gadis asal Wonogiri yang lugu, pasrah dan tak pernah punya prasangka buruk terhadap orang lain. Sosok welas asih ini diperankan dengan apik oleh Shireen Sungkar. Nah, sosok polos Fitri berbanding terbalik dengan Farel (Teuku Wisnu), anak seorang pengusaha kaya yang jatuh cinta pada Fitri. Permainan Wisnu  yang apik makin memunculkan sosok Farel yang simpatik. Pada akhirnya Fitri dan Farel yang berbeda latar belakang menyatu dalam ikatan pernikahan. Kecanggungan mereka sebagai pasangan baru bisa mereka ungkapkan lewat akting natural. Penonton pun jatuh cinta pada dua sosok ini. Efeknya, rating sinetron garapan MD Entertainment ini pun menjadi nomor satu selama berminggu-minggu.
Cinta Fitri  kini memasuki session ketiga dan tetap mengandalkan Shireen dan Wisnu sebagai bintang utama. Apa pun hasilnya nanti, nama Shireen dan Teuku Wisnu akan terpatri di benak para pecinta sinetron Cinta Fitri.

(Dimuat BINTANG INDONESIA EDISI ISTIMEWA BINTANG PALING BERKILAU 2008, No.914, TH-XVII, Minggu Kedua November 2008.)