Spesial Hari Kartini: 10 Film Tentang Perempuan Terbaik

RA Kartini (1982)/dok.Sinematek
TABLOIDBINTANG.COM -

BULAN April bulannya perempuan karena di bulan ini kita memperingati hari kelahiran Kartini setiap 21 April. Kami ingin ikut mengenangnya sambil menengok film-film bertema perempuan yang pernah dibuat anak negeri. Banyak, lho film-film kita yang bertema perempuan.

Kami berpikir keras untuk memilih sepuluh film di daftar ini. Cukup menyiksa, ternyata. Sebab ada begitu banyak pilihan sementara kami sudah menentukan hanya ingin memilih sepuluh saja. Tapi di situ justru asyiknya. Mengutip Hikmat Darmawan, seorang pengamat budaya pop, menyakiti otak untuk menimbang-nimbang mana yang terbaik di saat sebetulnya yang ditimbang-timbang itu baik dan setara semua itu seru, asyik.

Maka, jadilah daftar yang asyik ini. Selamat melanjutkan perjuangan Kartini. 

10 Pasir Berbisik (2001)

Tidak ada yang lebih tepat menggambarkan film ini selain ulasan singkat di versi tabloid situs ini yang pernah dimuat tahun 2001. Di situ ditulis: Delapan tahun lampau di Gunung Bromo tatkala mengerjakan film dokumenter, Nan Triveni Achnas tercenung melihat bagaimana seorang ibu menatap anak gadisnya dengan sorot mata tertentu. "Ah, ini bagus untuk dibuat cerita," gumam Nan. Baru 4 tahun, dengan bantuan Rayya Makarim, ia menuliskan sensasi visual itu dalam bentuk skenario. Pada medio 2000, Nan memboyong pemain dan kru ke Parang Tritis dan Bromo untuk memulai pengambilan gambar. Kebeningan gambar, kesamaran cerita, kelambanan tempo, dan kesederhanaan akting, membuat protes Nan atas kesewenang-wenangan tokoh pria dalam Pasir Berbisik terkesan lebih jinak dibanding yang ia maksudkan. Sebuah perlawanan diam-diam, rupanya, sebagaimana sosok Nan yang tak banyak cakap.

9  Berbagi Suami (2006)

Inilah film Indonesia yang paling terang benderang memperlihatkan konsekuensi dari praktek poligami. Di film ini, nyaris tak ada sosok pria yang bisa jadi panutan. Sedang perempuan lebih banyak menderita gara-gara praktek poligami. Sutradaranya, Nia DiNata—dengan gayanya bak seorang jurnalis yang membeberkan fakta—jelas-jelas telah membuat statement paling clear tentang isu ini.

8  Pertaruhan (2009)

Ada kisah tentang 2 TKW di Hong Kong. Yang satu ingin pulang untuk menikah, tapi sebuah operasi membuatnya kehilangan keperawanan. Ia was-was calon suaminya yang duda tak mau menerimanya. Satunya lagi ada TKW yang memilih menjadi lesbian karena tak lagi percaya pada sosok lelaki. Ada cerita tentang kontroversi sunat bagi perempuan. Ada cerita tentang niat memeriksakan kesehatan reporoduksi malah bertemu “polisi moral” berwujud dokter dan suster. Lalu ada pula perempuan yang karena kemiskinannya di sang hari jadi buruh pemecah batu dan malam hari jadi pelacur kelas Rp10 ribuan di pekuburan Cina. Sementara para preman di pekuburan mengambil keuntungan tanpa bekerja apa pun. Dengan 4 kisah nyata perempuan seperti itu, dokumenter ini menyembul jadi juru bicara kondisi perempuan Indonesia mutakhir. Bukan yang tampil necis di Senayan City atau Plaza Indonesia sambil ber-BBM ria, tapi mereka yang berada di pinggiran.

7  Perempuan Punya Cerita (2008)

Setiap perempuan punya cerita. Film ini, diberi judul Perempuan Punya Cerita, punya empat. Film ini menggabungkan 4 film pendek dalam satu tontonan dan merupakan kembaran sepadan dari film dokumenter Pertaruhan. Yang empat ini berlangsung di sebuah pulau di pinggir laut (Cerita Pulau), di Yogyakarta (Cerita Yogyakarta), di Cibinong (Cerita Cibinong), dan di Jakarta (Cerita Jakarta). Cerita Pulau mengangkat tema aborsi. Cerita Yogyakarta mengangkat tema pergaulan bebas di kalangan remaja. Cerita Cibinong bertema traficking. Sedang Cerita Jakarta mempersoalkan nasib perempuan yang menderita AIDS namun dikucilkan oleh lingkungan. Cerita-cerita ini sudah sering kita lihat di koran, majalah, atau tayangan berita teve. Namun, rasanya, baru kali ini tema-tema itu diangkat jadi sebuah film.

6  Eliana, Eliana (2002)

Riri Riza satu sedikit sutradara lelaki yang bisa berempati pada perempuan. Riri tak menjadikan perempuan sebagai objek seksual di mata pria. Ia justru menyorot perempuan Jakarta, meminjam tesis kritikus film Eric Sasono, ke “kawasan belakang.” Kawasan kumuh di balik jelujur gedung-gedung bertingkat. Ada persoalan seorang ibu yang ingin mengajak anaknya pulang, sementara si anak, Eliana (Rachel Maryam) ingin tetap menaklukkan Jakarta. Konflik ibu dan anak ini tak berujung jadi sandiwara sok dramatis, tapi kesaling-pengertian dan pencarian jati diri di antara perempuan.

5  Inem Pelayan Sexy (1977)

Mudah mencap film ini hanya menjual sensualitas wanita. Lihat saja gaya busana Inem (Dorris Calebout), sang babu, yang kelewat seksi. Tapi di situlah cerdasnya Nya Abbas Akup, film yang dibalut keseksian wanita jadi tontonan itu bisa diselipkan pesan moral tentang wanita yang bisa menjadi sosok dominan, tak menyerah lalu hanya berpangku tangan pada lelaki, dan jadi pembela kaum miskin.

4  Ponirah Terpidana (1983)

Seperti judulnya, sosok Ponirah (Nani Vidia) terpidana oleh label yang disematkan ayahnya sendiri.Ia dianggap anak pembawa sial karena kata bapaknya jadi penyebab kematian ibu dan kakak kandungnya. Label ini membuat Ponirah merasa bersalah sepanjang hidupnya. Makanya ia pergi ke Jakarta, menuntaskan rasa bersalahnya dengan jadi pelacur. Tapi, Ponirah, dan juga pengasuhnya Trindil (Christine Hakim), tak jadi perempuan yang menyerah pada nasib dengan jadi pelacur sambil berharap suatu saat ada pria ganteng meminang. Ponirah gambaran Slamet Rahardjo (sutradaranya) atas sosok perempuan perkasa yang telah dilabeli pembawa sial namun berjuang dari label yang memidananya. Atau, ini sebentuk mikrokosmos Slamet pada pemidanaan budaya patriarki yang membelenggu perempuan.

3  R.A. Kartini (1982)

Bukan lantaran filmnya mengisahkan cerita hidup Kartini lantas mesti masuk daftar film tentang perempuan ini. Di tangan Syumandjaya, sosok Kartini (diperankan Jenny Rachman) tak sekadar pejuang emansipasi wanita seperti kita mengenangnya sekarang. Namun, dalam kompleksitas pemikirannya, Kartini juga menggagas isu kemerdekaan. Andai ia hidup sezaman dengan Soekarno atau Hatta, kita tentu mengenangnya sebagai pahlawan pergerakan nasional. Film berdurasi 3 jam beralur lambat mengikuti pola kehidupan ningrat Jawa ini, seolah jadi metafora tepat bagi pemenjaraan Kartini dalam lingkungan kehidupan feodal, patriarkis, dan terjajah bangsa asing.

2  Ibunda (1986)

Menjadi perempuan perkasa tak harus jadi pelacur lalu mengutuki pria, atau menuliskan pena menggagas pemikiran-pemikiran revolusioner, atau bahkan mengangkat senjata dan jadi pemimpin di antara pria. Mampu menyatukan keluarga yang berantakan juga hebat, sangat hebat. Film ini mengisahkan sebuah drama keluarga. Seorang ibu (Tuti Indra Malaon) melihat bagaimana anak-anaknya punya masalah masing-masing dan ia ikut menyelesaikannya. Sang ibu menjadi pusat yang kemudian menyatukan keluarga yang nyaris tercerai berai itu. Di akhir film, Teguh Karya menutup film dengan manis. Keluarga berfoto bersama di luar rumah, lalu sang ibu memandang anak-anaknya satu per satu masuk, dengan senyuman. Ia tak pernah menyerah. 

1  Tjoet Nja’ Dhien (1986)

Tak seperti daerah lain, Nanggroe Aceh Darussalam sudah tamat dengan persoalan tuntutan kesetaraan gender sejak berabad lampau. Dalam sejarahnya, Aceh pernah dipimpin seorang ratu. Maka, seorang perempuan memimpin sepasukan lelaki melawan penjajah Belanda tidaklah istimewa. Namun, keperkasaan dan kegigihan Tjoet Nja’ Dhien (Christine Hakim) memimpin perang tiada duanya. Saat ditangkap Belanda gara-gara pengkhianatan panglimanya yang merasa kasihan karena sudah nyaris buta, Tjoet Nja’ masih mengibaskan rencong. Inilah bentuk keperkasaan paling puncak. Tidak menyerah hingga akhir.  

Untuk daftar di atas kami terpaksa meminggirkan film-film yang sama baiknya seperti Suci Sang Primadona, Rini Tomboy, atau Ca Bau Kan, Arisan!, bahkan Ada Apa dengan Cinta? (Hei, itu tentang gang remaja cewek yang saling support dalam suka-duka. Jadi tergolong film perempuan juga, dong!) dan Rumah Dara (Ibu Dara adalah perempuan yang begitu piawai menebar teror!). Film-film era 1970-an dan ‘80-an sudah susah dicari kecuali Anda mau berlelah-lelah ke lapak DVD/VCD di Glodok, Jakarta Barat. Paling baik menunggu ada komunitas film memutarnya, menunggunya tayang di TV, atau menghubungi pusat dokumentasi film Sinematek Indonesia di Kuningan, Jakarta Selatan minta diputar di sana.***