KALEIDOSKOP: Buku-buku Terpilih Tahun 2012, Lama dan Baru (IMHO)

best-books-grid
TABLOIDBINTANG.COM -

BUKU apa yang Anda baca tahun ini dan begitu berkesan?

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya banyak membeli buku tahun ini tapi banyak yang tak saya baca sampai tuntas. Percaya deh, doa setiap kutu buku adalah: Ya, Tuhan, setelah Kau beri kami rezeki untuk mampu membeli buku, harap Kau juga memberi kami kekuatan dan kecepatan membaca semuanya.

Namun, sepanjang 2012 ini, saya menemukan bacaan-bacaan yang sangat bagus. Memandang lemari buku saya di hari Minggu (16/12) yang indah, saya terpikir membuat daftar membagi kepada sidang pembaca sekalian buku-buku apa saja yang paling berkesan buat saya, yang saya baca tahun ini. Ada yang masih saya belum tuntas baca, tapi lebih banyak yang sudah saya tuntaskan. Tapi semuanya punya kesamaan: buku-buku ini meninggalkan kesan mendalam waktu dibaca.

Sebelum Anda baca daftar terpilih versi saya, Anda harus tahu saya tidak memasukkan buku-buku yang mungkin setahunan ini sangat laris, seperti biografi Chairul Tanjung Si Anak Singkong, Pak Moer-Poppy: the Untold Story, segala buku tentang Jokowi, atau novel dari kisah masa kecil Dahlan Iskan, Sepatu Dahlan. Saya tidak baca buku-buku itu. Maaf.

Membeli dan membaca buku adalah murni masalah selera yang sangat subjektif. Bahkan kadang lebih subjektif ketimbang memilih tayangan TV dan nonton film di bioskop. Anda biisa terpaksa menonton tayangan TV atau film yang tak Anda suka, tapi buku tidak begitu. Penyuka buku motivasi atau manajemen akan mengisi lemari bukunya dengan buku-buku jenis itu. Penyuka sastra, akan lebih sering baca novel bernilai sastra. Dan seterusnya.

Anda tak bisa salahkan pilihan bacaan saya, begitu pun saya tak bisa memaksakan agar Anda baca buku-buku yang saya baca. Kalaupun saya bikin daftar ini di penghujung tahun, well, let say, saya sedikit beruntung karena situs ini memberi tempat saya menulis.

Saat menyusun daftar ini pula, saya kesulitan waktu menentukan yang terbaik dari nomor 10 sampai posisi pertama. Bagi saya, semua buku-buku ini sangat berkesan. Semuanya yang terbaik di mata saya. Jadi, saya menghilangkan penomoran dan ranking. Semula pula, saya ingin membuat daftar berisi buku-buku yang lahir dari penulis Indonesia dalam bahasa Indonesia. Tapi, melihat rak buku saya, ternyata tak banyak buku dengan kriteria seperti itu. Akhirnya, saya putuskan mengubah kriteria menjadi buku apa saja, entah karya asli atau terjemahan, dalam bahasa Indonesia, yang terbit entah tahun ini atau kapan pun, pokoknya yang saya baca tahun ini.

Maksud IMHO, in my humble opinion, dalam tanda kurung memberi Anda peringatan bahwa daftar ini murni lahir dari opini saya. Tidak ada campur tangan orang lain. Anda juga bisa memiliki daftar serupa. Silakan isi kolom komentar dan berbagi, buku apa yang paling berkesan bagi Anda tahun ini. Saya pastikan akan memberi perhatian pada pilihan Anda, dan mungkin, jika ada buku yang Anda rekomendasikan, akan saya baca pula.

Silakan tengok pilihan saya.

dangdut4373Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia, oleh Andrew N. Weintraub, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), cetakan pertama, April 2012.
Akhirnya dangdut mendapat tempat terhormat sebagai kajian akademis. Lewat buku ini, Andrew N. Weintraub, profesor musik di University of Pittsburgh, tak hanya mengkaji dangdut secara akademis mulai dari sejarah hingga aspek antropologisnya. Namun, terutama, betapa buku ini adalah wujud kecintaan penulisnya pada musik dangdut. Weintraub tidak hanya meneliti, tapi juga terlibat sebagai penggemar dangdut nomor wahid. Alhasil, ini bukan buku penelitian yang kering, melainkan sebuah tuturan pengalaman dan surat cinta yang manis untuk dangdut.

how-to-comic-hikmatHow to Make Comics: Menurut Para Master Komik Dunia, oleh Hikmat Darmawan, Plotpoint Publishing (PT Bentang Pustaka), cetakan pertama, Mei 2012.
Hikmat Darmawan adalah salah seorang pengamat budaya pop yang setiap tulisannya saya kagumi. Ia fasih menulis perihal budaya pop, entah film dan terutama komik. Hikmat jago mengulas komik apa saja, mulai dari komik Eropa, Amerika, Indonesia, hingga manga. Nah, lewat buku ini, ia tak sedang mengulas komik sebagai fenomena budaya pop. Hikmat kembali ke asal, menceritakan dengan pengetahuan referensinya akan komik sejagad, bagaimana membuat komik. Setiap langkah pembuatan komik dituturkannya mulai dari ide mentah sampai bagaimana menerbitkannya. Dengan pengetahuan Hikmat yang teramat luas akan komik, buku ini kemudian tak sekadar jadi panduan bikin komik, tapi juga ulasan komik dari para master komik dunia.

buku-dilema-PKSDilema PKS: Suara dan Syariah, oleh Burhanuddin Muhtadi, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), cetakan pertama, Maret 2012.
Mungkin inilah buku kajian politik terbaik tahun ini, atau malah salah satu buku kajian politik terbaik yang pernah ditulis. Sebagai sebuah kajian akademis, Burhanuddin Muhtadi telaah berhasil menjaga jarak dengan subjek kajiannya. Buku ini tidak jatuh menjadi demiikian benci pada Partai Keadilan Sejahtera, namun juga tidak membela habis-habisan PKS. Kita tahu, PKS adalah partai Islam yang unik. Pendukungnya kebanyakan kaum muslim kota terdidik. PKS juga menyatakan diri sebagai partai terbuka. Tapi di saat bersamaan, partai ini juga memiliki pandangan konservatif yang kontroversial bagi masyarakat Indonesia yang majemuk. Belum lagi soal citra bersih yang PKS dengungkan, pada gilirannya tercoreng juga berbagai kasus. Buku ini merekam segala dilema yang dihadapi PKS, antara memegang teguh idealisme ideologisnya atau mengikuti arus utama politik nasional.

jadi-penulis-remyJadi Penulis? Siapa Takut!, oleh Alif Dansya Munsyi (Remy Sylado), Kaifa, cetakan pertama Maret 2012.
Di buku ini, ia memakai nama Alif Dansya Munsyi. Bukan Remy Sylado. Apapun nama yang dipakainya (ia juga sering pakai nama Japi Tambayong), pak tua ini adalah salah satu novelis favorit saya. Ia piawai meramu fakta sejarah menjadi cerita yang asyik. Nah, buku ini adalah momen ketika Remy membagi ilmunya pada pembaca. Ibarat sebuah buku resep, saatnya kita mencuri resep Remy lewat buku ini.

amba-laksmiAmba, oleh Laksmi Pamuntjak, Gramedia Pustaka Utama, 2012.
Saya belum tuntas membaca Amba. Tapi, saya sudah berani bilang, sejak Ayu Utami menerbitkan Saman tahun 1998 silam, inilah novel dari penulis wanita yang signifikansinya nyaris menyamai novel Ayu tersebut. Mengambil latar peristiwa 1965 dan buntut kejadian setelahnya saat orang-orang yang dituduh PKI dibuang hingga ke Pulau Buru di Maluku, Laksmi Pamuntjak berhasil menghidupkan suasana Pulau Buru dan pergolakan tahun 1965 dengan sangat baik. Saya tak sabar untuk menuntaskan membaca novel ini, lalu membandingkannya dengan Saman.

hugoThe Invention of Hugo Cabret, oleh Brian Selznick, Mizan Fantasi, cetakan pertama, Januari 2012.
Saya begitu menyukai film Hugo (2011) yang dibesut Martin Scorsese. Tapi, setelah membaca novel darimana filmnya berasal, saya lebih jatuh cinta pada bukunya. Brian Selznick sangat kreatif membikin bukunya. Novelnya memadukan gambar ciamik dan tulisan. Membaca novelnya, saya seperti diajak membayangkan diri sedang duduk dalam gelap, seakan sedang menonton film. Kita diajak mengikuti petualangan Hugo, bocah yang tinggal di stasiun kereta, memecahkan misteri yang ditinggal mendiang ayahnya dan juga menyusuri sejarah awal sinema. Kecintaan pada film tak pernah ditampilkan seasyik ini dalam sebuah novel untuk anak-anak.

jalan-berlikuJalan Berliku Menjadi Orang Indonesia: Kisah Tujuh Perempuan Tionghoa Korban Diskriminasi, oleh Rebeka Harsono & Basilius Triharyanto, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), cetakan pertama, November 2008.
Saya menemukan buku ini di tumpukan buku diskon di pojok kecil buku-buku Gramedia di Ramayana Cimone, Tangerang, tak jauh dari tempat saya tinggal. Harganya cuma Rp 10 ribu. Saya kemudian merasa telah menemukan harta karun. Buku ini aslinya adalah hasil advokasi pada sejumlah warga Tionghoa miskin yang didampingi saat menuntut hak-hak kewarganegaraan mereka (memiliki KTP dan bukti kewarganegaraan lain). Yang kemudian didapat dari buku ini adalah sebuah laporan jurnalistik bernilai sastra dan juga rasa simpati pada para korban diskriminasi. Buku ini tak sekedar hendak menghapus mitos kalau semua warga Tionghoa hidup berkecukupan. Lebih dari itu, buku ini adalah gugatan dan bukti ketidakadilan rasial masih ada, menggerogoti mereka yang terlahir sebagai kaum minoritas yang miskin.

RIN-TIN-FB-OKERin Tin Tin: Perjalanan Hidup Seekor Anjing pada Perang Dunia I, oleh Susan Orlean, Ufuk Fiction, cetakan pertama, Mei 2012.
Buku ini diberi subjudul dan cover yang kurang tepat. Tapi saya maklum, subjudul dan cover tersebut tepat dari segi marketing. Sebab, bagian Perang Dunia I cuma ada di awal buku ini. Selanjutnya, buku ini merentang panjang hingga puluhan tahun, tak cuma menceritakan satu ekor anjing bernama Rin Tin Tin tapi juga keturunan dan penerusnya, serta bagaimana seekor anjing mengubah wajah Hollywood di jagad film dan TV mulai dari era film bisu. Susan Orlean, penulis majalah New Yorker yang bukunya The Orchid Thief menjadi dasar film Adaptation (2002), mengisahkan kisah hidup anjing hebat bernama Rin Tin Tin selayaknya sebuah novel. Pada akhirnya, buku ini bukan saja jadi sebuah karya jurnalisme sastra tapi juga kisah persahabatan paripurna manusia dan anjingnya.

Beatrice-Virgil-FBBeatrice and Virgil, oleh Yann Martel, Ufuk Fiction, cetakan pertama, Agustus 2012.
Sejak jatuh hati pada Life of Pi, saya juga jatuh cinta pada cara bertutur Yann Martel. Saya membayangkan, sukses Life of Pi pasti membuatnya tertekan untuk melampaui novel tersebut. Nah, novel ini, seperti curhat colongan Martel. Saya membayangkan Henry, novelis yang jadi tokoh di novel ini adalah Martel, yang ingin menelurkan cerita tentang Holocaust, pembantaian warga Yahudi oleh Nazi pada Perang Dunia II dengan cara berbeda. Seperti kata Henry di novel ini, sudah banyak cerita tentang Holocaust. Inovasi apalagi yang tersisa untuk menceritakannya dengan cara berbeda? Ah, ternyata, dengan jenius Martel menemukannya dengan meminjam format drama fabel seekor kedelai, Beatrice, dan monyet, Virgil.

50-gagasan50 Gagasan Luar Biasa yang Mengubah Dunia, oleh John Farndon, Gramedia Pustaka Utama, Desember 2011.
Saya suka bikin daftar, memilah apa yang kira-kira terbaik di antara yang lain. Proses memilah dan memilih ini sangat mengasyikkan. Nah, buku ini ibarat daftar pamungkas alias daftar hal-hal terbaik dari segala hal terbaik yang pernah dibuat manusia di muka bumi. Penulisnya, John Farndon memiliki tugas maha berat sekaligus maha asyik: membuat daftar 50 gagasan paling luar biasa yang pernah dilahirkan manusia sepanjang masa. Hasilnya, terpilih oleh Farndon dan tim juri, 50 gagasan dan tersusun mulai dari peringkat 50 (perkawinan) sampai nomor wahid (internet). Di antara itu ada: bahasa China yang disederhanaakan (peringkat 29), kapitalisme (42), marxisme (27), harapan (11), roda (13), kontrasepsi (33), kopi dan teh (35), menulis (2), roti (18), telepon (16), universitas (30), monotesime (46), musik (4), dan macam-macam lagi. Buku ini ibarat Wikipedia yang akan menjadi panduan awal mengenal gagasan dimaksud. Tapi, terutama buku ini adalah daftar yang asyik.

antara-tawa-bahaya-senoAntara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor, oleh Seno Gumira Ajidarma, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), cetakan pertama, November 2012.
Ah, andai buku ini terbit pada 2002 saat saya sibuk mengerjakan skripsi tentang comic strip Doyok. Tapi sudahlah. Saya sangat bersyukur Seno Gumira Ajidrama mengumpulkan tulisannya tentang kartunis dan karikaturis di media cetak tanah air dalam sebuah buku yang komplit. Buku ini tidak sekadar mengenalkan kita pada para kartunis di balik karya-karya yang menghiasi surat kabar dan majalah (mulai dari GM. Sudarta, Keliek Siswoyo, Dwi Koen, Ade R., Basuki, Benny dan Mice, serta lainnya), tapi juga sedikit banyak Seno mendedah karya-karya mereka. Plus ia memberi konteks pada bagaimana humor dalam kartun bekerja serta bahaya yang (mungkin) mengintai dari sebuah lelucon gambar.

henrietta-lacksKehidupan Abadi Henrietta Lacks, oleh Rebecca Skloot, Gramedia Pustaka Utama, 2011.
Saya pertama tahu buku ini saat di edisi akhir tahun 2010, majalah Entertainment Weekly menobatkannnya menjaadi buku non fiksi terbaik. Akhirnya, pada 2011 Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahannya. Saya tak sempat beli waktu terbit tahun lalu, dan kemudian buku ini hilang dari toko buku ketika saya hendak membelinya. Belum lama ini, saya menemukan buku ini di Perpustakaan Pemda DKI Jakarta, Kuningan, Jakarta Selatan. Terselip, menunggu dipinjam anggota perpustakaan. Saya percaya, buku ibarat jodoh. Jika berjodoh, kita akan menemukan buku yang kita incar. Buku ini akhirnya berjodoh dengan saya. Dan ah, saya tak kecewa. Buku karya Rebecca Skloot ini adalah jodoh yang tepat. Inilah bukti nyata jurnalisme sains yang dituturkan secara pop selayaknya mengunyah novel. Karya yang asyik.

(ade/ade)