Bagaimana Simon Cowell Membuat Kontes Bakat "The X Factor" yang Mendunia

Simon Cowell
Simon Cowell (Foto:Dok.Ist)
TABLOIDBINTANG.COM -

DIADAPTASI dilebih dari 40 negara membuat The X Factor – cikal bakal X Factor Indonesia – menjadi salah satu ajang kontes menyanyi terbesar di dunia. Lahir dari hasil kreasi si Raja Televisi, Simon Cowell.

Pada pengujung 2001, muncul kontes bakat bertajuk Pop Idol di Inggris. Kontes ini berbeda dengan kontes lain yang sudah lebih dulu ada.

Misalnya saja, untuk menjaring penonton, Pop Idol keliling Inggris untuk mencari talenta-talenta baru. Tak cuma yang punya suara menawan, yang punya suara pas-pasan atau sama sekali tak bisa menyanyi juga ditayangkan dalam paket acara Pop Idol dengan tujuan untuk menghibur penonton.
Perbedaan lainnya, Pop Idol menampilkan juri yang sangat kapabel di dunia tarik suara, seperti produser musik Pete Waterman, Simon Cowell – kala itu menjabat Artist and Repertoire di Sony Music Entertainment – yang dikenal dengan komentarnya yang tajam cenderung kejam, serta promotor musik Nicki Chapman dan penyiar radio Neil "Dr" Fox.

Namun, yang paling membedakan Pop Idol dengan kontes sebelumnya adalah penentuan pemenang kontes yang sepenuhnya berada di tangan penonton. Penonton bisa menentukan pemenang kontes dengan cara voting via panggilan telepon dan juga lewat website – baru setelah di season kedua menggunakan voting lewat pesan pendek. Format kontes yang segar membuat cikal bakal American Idol ini digemari.

Setelah musim kedua, Pop Idol sempat hiatus. Penyebabnya, Simon memilif fokus pada acara sejenis yang dikreasinya, The X Factor. Simon, yang kini digelari Raja Televisi karena kerap membuat program televisi yang sukses, memutuskan membuat The X Factor karena ingin punya sebuah acara kontes menyanyi yang hak siarnya dimilikinya. Nama The X Factor dipilih Simon karena ingin menjaring kontestan yang punya "sesuatu yang belum terdefinisikan", yang membuat seseorang bakal menjadi bintang. Program ini diproduksi oleh Thames (yang dimiliki FremantleMedia) dan SYCOtv, rumah produksi kepunyaan Simon, dan ditayangkan di jaringan televisi ITV.

Meski "sejenis", kemasan The X Factor berbeda dengan Pop Idol. Di The X Factor, penyanyi para peserta dimasukkan dalam beberapa kategori. Di musim pertamanya, The X Factor menampilkan para peserta yang terbagi dalam 3 kategori: kategori penyanyi solo usia 16-24, penyanyi solo di atas 25 tahun, dan kategori grup atau duet. Dalam perjalanannya, pembagian kategori ini terus mengalami perubahan. Yang menarik, di The X Factor, para juri tak hanya bertugas untuk menilai suara para kontestan tapi bertindak pula sebagai mentor.

Sejak mengudara kali pertama pada September 2004, The X Factor langsung membetot atensi publik Inggris. Hampir setiap musim tayangan ini dipirsa kurang lebih 10 juta penonton. Puncaknya terjadi pada musim keenam. Di musim itu ada sekitar 200 ribu peserta yang mengikuti audisi. Sementara di babak final ada sekitar 19,7 juta penonton, dengan share sekitar 63,2 persen, yang memelototi tayangan ini. Tercatat ada 10 juta suara yang masuk dalam final musim keenam yang memunculkan Joe McElderry sebagai pemenang. Catatan ini membuat The X Factor tercatat sebagai acara kontes musik terbesar di Eropa.

Sampai kini, The X Factor Inggris sudah memasuki 9 musim. Para pemenang masing-masing mendapat kontrak rekaman senilai 1 juta poundsterling dengan Syco Music, perusahaan rekaman milik Simon yang berasosiasi dengan Sony Music Entertaintment. Selama 9 musim, The X Factor Inggris juga memberikan kontribusinya pada dunia musik. Tayangan ini menghasilkan penyanyi rekaman yang cukup sukses seperti Leona Lewis dan juga sensasi pop paling anyar, One Direction.

Sukses di Inggris membuat tayangan ini diadaptasi di berbagai negara. Pada 2005, Australia menggelar acara serupa. Sayangnya, karena ratingnya tak memuaskan, The X Factor Australia diberhentikan. Baru lima tahun kemudian program ini kembali mengudara. Italia juga ikut mengadaptasi tayangan ini pada 2008. Di sana, program ini sudah berlangsung selama 6 musim dan menghasilkan penyanyi terkenal seperti Giusy Ferreri, dan Marco Mengoni. Tak hanya di Eropa dan Australia, tayangan ini juga diadaptasi negara-negara di Afrika dan banyak negara di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Di sini program yang tayang di kanal RCTI baru memasuki musim debutnya.

bin/berbagai sumber

(bin/adm)