The Sorcerer and The White Snake, Dongeng Cinta Berbalut Efek Canggih

the-sorcerer-and-the-white-snake.v2
TABLOIDBINTANG.COM -

TAK sedikit legenda, dongeng atau cerita klasik dari dataran Cina yang terkenal di Indonesia. Melalui film dan serial TV Mandarin, masyarakat Indonesia menjadi akrab dengan kisah-kisah Pendekar Rajawali, Golok Pembunuh Naga, Kera Sakti dan Ular Putih.

Anda yang tumbuh di pertengahan era 90-an, mungkin akan langsung mengaitkan legenda Ular Putih dengan serial Taiwan produksi 1992 yang tayang tahun 1994 di SCTV: White Snake Legend.

Banyak hal yang memorable dari serial ini. Pertama, kalimat “istriku” dan “suamiku” yang sering ada di dialognya.

Kedua, pemeran tokoh suami di sini bukan pria, melainkan seorang aktris cantik yang didandani seperti laki-laki: Cecilia Yip.

Selain White Snake Legend, masih ada film bioskop produksi tahun 1993 berjudul Green Snake yang dibintangi Maggie Cheung, Joey Wong dan Vincent Zhao/Zhao Wen Zhuo. Selain tayang di bioskop Indonesia, saya ingat pernah menonton film ini di SCTV dengan dubbing bahasa Inggris.

Terakhir, masih ada serial Madam White Snake (2001), serial Singapura yang ditayangkan Indosiar dengan judul Siluman Ular Putih.

Dalam versi apa pun, legenda ular putih mengusung cerita yang sama. Seekor siluman ular putih yang bisa mengubah wujud jadi manusia, jatuh cinta dengan manusia, atau tepatnya tabib lugu.

Kisah cinta mereka terhalang dengan biksu yang hendak menangkap si ular putih. Ular putih memiliki adik perempuan; ular hijau yang juga bisa berubah wujud jadi manusia.

The Sorcerer and The White Snake juga mengusung kisah yang sama.

Xu Xu (Eva Huang) seekor siluman ular putih yang dapat berubah wujud jadi manusia. Suatu hari, dia menyelamatkan nyawa Xu Xian (Raymond Lam), seorang tabib peracik obat tradisional yang nyaris mati tenggelam akibat ulah Qing Qing (Charlene Choi), siluman ular hijau yang tak lain adik Xu Xu.

Singkat cerita, setelah penyelamatan itu, Xu Xu dan Xu Xian saling jatuh cinta. Mengira Xu Xu seorang gadis biasa, Xu Xian pun menikahinya. Keduanya hidup bahagia sampai muncul biksu bernama Fa Hai (Jet Li).

Fa Hai bersama Neng Ren (Wen Zhang), muridnya adalah biksu pembasmi siluman. Di sinilah cinta Xu Xu dan Xu Xian diuji.

Menit-menit pertama penonton sudah disuguhi efek CGI yang canggih dan memanjakan mata. Tidak ada lagi ular-ularan dari kulit seperti di White Snake Legend versi istriku suamiku.

Semua ekor ular disuguhkan dengan efek CGI. Melihat dua ular cantik meliuk-liuk mengitari hutan nan asri kesannya tidak seram, malah terlihat cantik seperti dongeng Disney.

Berbeda dengan versi sebelum-sebelumnya, dalam The Sorcerer and The White Snake peran siluman ular hijau bukan sekadar tempelan yang selalu mengikuti ular putih pergi.

Qing Qing saling jatuh cinta dengan Neng Ren, murid Fa Hai. Awalnya Neng Ren jelas menghindar, karena sebagai biksu dilarang berpacaran.

Sampai suatu ketika Neng Ren digigit siluman kelelawar, hingga mengubah pria konyol itu menjadi siluman kelelawar juga.

Nuansa dongeng semakin terasa kental dengan adanya karakter (animasi) siluman kura-kura, kelinci dan tikus yang bisa bicara. Adegan yang memperlihatkan Xu Xu dan Qing Qing dengan kura-kura, kelinci dan tikus ini langsung mengingatkan saya pada film Hollywood jenis Alvin and The Chipmunks.

Meski mengusung nama Jet Li, tapi The Sorcerer and The White Snake bukan film silat klasik atau wuxia. Sebagian besar adegan fighting di sini mengandalkan efek spesial CGI. Maka Anda akan melihat sosok Jet Li bertarung dengan animasi siluman kelelawar yang sekilas mirip Goblin. Meski begitu, adegan-adegan ini masih jauh lebih enak dilihat dibandingkan adegan fighting rekayasa Jet Li dalam film The One.

Gestur tubuh dan mimik Eva Huang sang pemeran ular putih, dalam beberapa angle, seperti paduan Joey Wong dan Cecilia Cheung semasa muda. Chemistry yang dibangunnya dengan Raymond Lam sukses membuat saya menitikkan airmata 2 kali sepanjang film ini.

Karakter Xu Xian dibuat tidak culun, nerdy atau selemah karakter yang sama di versi-versi lainnya. Xu Xian di The Sorcerer and The White Snake memang masih lugu, tapi terlihat cerdas dan tegas. Raymond Lam membawakan karakter ini dengan apik. Kabarnya Raymond menyingkirkan kandidat kuat lainnya: Peter Ho, Ethan Ruan dan Marc Chao.

Chemistry antara Qing Qing dan Neng Ren terbangun dengan manis. Gaya Qing Qing saat memanggil Neng Ren memakai sebutan “Peng You” (teman), dengan intonasi manja, terdengar khas dan menggemaskan. Ditambah lagi dengan ekspresi muka Neng Ren yang polos dan malu-malu mau, membuat pasangan ini tampil tak sekadar tempelan.

Beberapa bintang tamu juga dihadirkan di sini. Jika Anda jeli, tentu akan mengenali sosok Vivian Hsu, Miriam Yeung, Chapman To dan Sonija Kwok yang tampil beberapa menit di film ini.

Dalam The Sorcerer and The White Snake, sutradara Tony Ching menampilkan legenda ular putih sebagai dongeng cinta dari 2 insan berbeda. Bukan beda status sosial, tapi beda alam. Hanya saja kali ini tampil dengan efek yang modern, yang sedap dipandang mata.

Indonesia terbilang beruntung sudah bisa menyaksikan The Sorcerer and The White Snake sejak 30 September lalu, hanya terlambat 1 hari dibandingkan Hong Kong dan RRC. Menurut Wikipedia dan IMDB, film ini baru menyapa Singapura pada 6 Oktober dan Taiwan pada 14 Oktober mendatang.

The Sorcerer and The White Snake tayang di belasan bioskop di Jakarta. Lebih beruntung, dibandingkan My Kingdom yang hanya tayang di kurang dari 10 bioskop, itu pun di kawasan Jakarta Utara dan Barat saja. Semoga saja ke depannya bioskop-bioskop di Jakarta makin banyak sering menayangkan film Mandarin.

(ray/gur)