Cara Najwa Shihab Memandang Sebuah Isu

TABLOIDBINTANG.COM -

SUKSES dengan dua program talk show Kick Andy! dan Just Alvin yang dikawal Andy F Noya dan Alvin Adam, Metro TV kemudian menargetkan seorang anchor-nya untuk melakukan hal serupa. Najwa Shihab, yang telah bergabung sejak awal berdiri Metro TV sekitar 9 tahun silam, ditantang mengawal sebuah talk show dengan menggunakan nama pribadi, Mata Najwa.

“Istilahnya, saya menjadi program owner,” kata Najwa. “Seorang senior diharapkan punya program dan mengelola program sendiri,” terang wanita kelahiran Makassar, 16 September 1977 ini.

Walau sama-sama berlatar jurnalis, sedikit berbeda dengan dua pendahulunya, Najwa di dalam Mata Najwa lebih mengedepankan karakter sebagai anchor. Feel-nya pun lebih bernuansa politik sesuai bidang studi yang digelutinya.

“Akar saya politik, jadi (lebih banyak) seputar isu itulah bahasan Mata Najwa,” kata Najwa.

Beberapa yang diangkat seperti “Mempansuskan Pansus”, "Century for Dummies”, “Mahkamah Pemakzulan”, atau “Republik Maling” ketika publik dihebohkan istilah makelar kasus. Sangat bernuansa politik.

Namun, topik-topik seperti ini rentan basi, karena di pemberitaan pun terbilang sering dibahas. Di sinilah perbedaan sekaligus kekuatan program berformat talk show.

“Akan ada perbincangan. Bukan sekadar bincang-bincang, melainkan sebuah investigasi mendalam dari para narasumber yang dihadirkan,” beber Najwa.

Bagaimana melakukan perbincangan mendalam, mengandalkan kemampuan sang host.

“Seperti orang telah banyak tahu, saya kalau mewawancarai seseorang sangat kritis, dengan cara bicara cepat, mengulik, dan selalu menggali lebih tajam. Gaya seperti itu yang saya tampilkan di Mata Najwa yang sekaligus menjadi keseluruhan karakter program ini,” aku Najwa.

Jadi, sebagaimana ciri talk show yang menggunakan nama host sebagai judul, peran Najwa sangat besar. Tidak hanya saat sesi bincang-bincang dengan narasumber, Najwa mengakui keterlibatannya dalam produksi adalah sejak awal hingga akhir. Dari mulai penentuan tema, penentuan narasumber, dan sasaran liputan. 

“Tim kami berenam. Dua produser, dua staf produksi, dan seorang reporter. Kami melakukan rapat mingguan. Di dalam rapat semuanya boleh mengajukan usulan. Hanya saja keputusan akhir tetap ada pada saya,” papar Najwa.

Standar yang ditetapkan Najwa beserta tim adalah bagaimana topik dan narasumber bisa disuguhkan kepada pemirsa dengan cara yang berbeda.

“Paling tidak ada keunikan,” kata Najwa.

Oleh karena itu dilakukan pendekatan yang tidak biasa dalam menyuguhkan informasi. Kadang menampilkan kartun, fragmen wayang, atau juga seperti trailer film.

“Pokoknya cara kami menghadirkan informasi tidak melulu pakai cara biasa. Harus sekreatif mungkin. Kami tidak mau dari minggu ke minggu Mata Najwa terlihat sama dan mudah ditebak alurnya. Talk show hanyalah format, tapi kami masih bisa memberi diferensiasi pada setiap episodenya agar senantiasa terasa segar,” imbuhnya.

Dalam melakukan bincang-bincang dengan nara sumber, tidak terbatas lokasinya di studio. Bisa saja dilakukan di tempat lain. Salah satunya, Mata Najwa pernah menghadirkan bincang-bincang bersama Anggodo dan si pelaku mutilasi anak-anak Babeh dari balik terali besi!

“Tidak menghadirkan mereka ke sini (studio), tapi kami yang ke sana,” ceritanya.

Tidakkah itu rumit untuk dilakukan? Terkait sistem perizinan mungkin rumit, tapi sama sekali tidak mengganggu proses talk show. “Karena one on one interview, tidak melulu harus di studio. Yang penting ada Najwa dan seorang narasumber yang ditatap untuk diajak berbincang-bincang,” kata Najwa.

Ya, salah satu ciri Mata Najwa, tidak berbincang dengan lebih dari satu narasumber secara bersamaan. Najwa beralasan, kalau hal itu dilakukan maka tidak akan ada perbedaan dengan program lain yang pernah dikawalnya seperti misalnya Today’s Dialogue.

“Di sana (Today’s Dialogue) peran saya lebih seperti seorang moderator yang mengoper pertanyaan dari satu narasumber ke narasumber lainnya dan secara bergantian mendengarkan jawaban mereka. Sedangkan talk show, kan prinsipnya bukan sekadar tanya-jawab. Jadi posisinya harus setara agar saya lebih nyaman bertanya secara spesifik, pun si narasumber bisa lebih leluasa memberikan jawab. Lagi pula kalau one on one, jadi benar-benar 'mata' Najwa. Orang-orang menitipkan saya untuk bertanya kepada orang yang diwawancara,” ucapnya panjang.

Ada satu hal lucu terkait metode one on one interview. Sebetulnya, hampir semua narasumber yang dihadirkan pernah sekali waktu berhadapan dengan Najwa. Baik itu di masa-masa Najwa menjadi reporter atau pembawa acara berita. Uniknya, saat mereka dihadirkan di Mata Najwa, ada rasa grogi dalam diri mereka yang ditangkap Najwa.

“Yang saya ingat, tangan mereka lebih dingin. Hahaha,” tawa Najwa berderai.

“Sangat berbeda dengan misalnya, saat saya melakukan pre-interview. Mungkin karena suasana yang lebih intens. Ditambah seting studio yang intimate, dengan lampu dan kamera (yang menyorot tajam), semua itu, kan bisa sangat mengintimidasi.” Perbedaan lainnya, narasumber tidak punya kesempatan lama untuk berpikir dalam memberikan jawaban. Begitu pertanyaan disampaikan, mereka harus langsung menjawab. Maka pemilihan narasumber pun patut dipertimbangkan matang-matang. “Jadi sejak awal harus dipastikan, si narasumber seseorang dengan perspektif mendalam tentang sesuatu yang sekiranya bisa dibagi kepada pemirsa. Kan spesial banget kalau ada seseorang yang bersedia datang ke sini dan mau berbagi tentang hal yang tidak umum diketahui," papar putri Dr. Quraisy Shihab ini.

Di antara sekian kemasan yang dinamis dan bisa berubah-ubah sesuai situasi dan kebutuhan, ada segmen “Catatan Najwa” sebagai benang merah. Segmen yang memaparkan pandangan Najwa tentang topik yang telah dibahas ini muncul dalam bentuk ucapan lisan Najwa disertai running text. Segmen ini muncul setiap akhir acara. Sekaligus menyiratkan kesimpulan si empunya acara, Najwa Shihab.

“Catatan Najwa ini adalah komentar, ulasan, sebuah perspektif dari host atau saya selaku program owner terhadap topik yang diangkat,” kata Najwa.

“Karena judulnya 'catatan' dan ada embel-embel Najwa-nya, jadi kemungkinan subyektifitas ada. Kalau orang tidak sependapat dengan apa yang saya paparkan, tidak apa-apa. Pada awal acara juga selalu saya jelaskan intinya, semua orang bebas berpendapat tentang suatu isu. Tapi berhubung ini acara saya, maka 'catatan Najwa' dihadirkan sebagai penutup. Jadi orang pun bisa tahu bagaimana pandangan seorang Najwa,” papar Najwa lagi.

Sebagai program yang baru berjalan sekitar 3 bulan, Najwa menilai masih banyak catatan perbaikan sana-sini yang harus dilakukan. Membuat perbandingan dengan Kick Andy! yang baru menemukan spiritnya sebagai sebuah program ketika menginjak tahun ketiga, Mata Najwa masih harus melewati perjalanan panjang.

“Evaluasi akan terus dilakukan. Penyesuaian-penyesuaian, apakah akan dibuat lebih intens dan lainnya,” analisis Najwa.

Menghadapi persaingan program sejenis, dengan narasumber yang kurang lebih sama, Mata Najwa yang hadir di layar Metro TV setiap Rabu pukul 22.00 WIB ini optimistis bertahan. Najwa  menegaskan lagi, talk show yang menggunakan nama host-nya, dengan sendirinya memiliki kekuatan.

“Yang disodorkan kepada pemirsa, ya host-nya. Dan acaranya sendiri tentu sudah sejak awal disesuaikan dengan karakter si host,” pungkas Najwa.

(wida/gur)