'[masih] Dunia Lain' Acara Hantu yang Mengajak Kita Tak Takut Hantu

ngeri-gak-sendirian-dan-gelap-gelapan-di-tempat-seperti-ini
TABLOIDBINTANG.COM -

BEBERAPA tahun lalu, Trans TV mempunyai satu program acara yang cukup hit, Dunia Lain. Sebuah program reality uji nyali seseorang di tempat yang diduga berhantu. Peserta diminta bergelap-gelapan di satu titik terseram di tempat itu, hanya ditemani beberapa kamera infra merah yang akan merekam seluruh gerak-gerik di tengah kegelapan, syukur-syukur ikut merekam juga “penampakan”, sementara kru memantau di kejauhan melalui monitor.

Saking hit-nya, memperoleh penghargaan bergengsi Asian Television Awards sebagai Best Reality Programme tahun 2004. Kesuksesan itu memicu lahirnya program sejenis yang nyaris tidak terhitung jumlahnya, yang akhirnya berganti menimbulkan polemik. Pemerintah mengkhawatirkan kecenderungan musyrik akibat terus dijejali tayangan berbau klenik.

Kini, Dunia Lain kembali hadir di layar Trans 7 dengan nama [masih] Dunia Lain. Tidak banyak perbedaan berarti. Toh, judulnya saja masih dunia lain. Hehehe.

“Kata ‘masih’ hanya untuk membedakan dengan yang dulu. ‘Masih’ itu, kan kata yang umum, simpel, dan mudah diingat orang. Dulu ada Dunia Lain, kan? Oh, masih. Masih ada Dunia Lain,” kata Agung Suripto, produser.

Namun, ada sedikit perbedaan konsep. “Sekarang kami lebih meminimalkan hal-hal berbau klenik. Kami lebih memberi pendidikan kepada masyarakat, keberadaan jin dan sebangsanya itu dapat dibuktikan secara ilmiah,” imbuhnya.

Dalam pengertian sederhananya, hal-hal berbau klenik adalah saat acara tentang hantu mulai terlihat ekstrem, berlebihan, dan menakut-nakuti pemirsanya. Bagi Agung, [masih] Dunia Lain lebih sebagai reality game show.

“Ini game show. Karena menantang seorang peserta untuk diam di satu lokasi menyeramkan sendirian. Berani tidak dia? Jadi sama saja dengan game show lain. Nah, kalau sampai muncul hal-hal di luar tantangan itu (penampakan), ya itu reality.”

Karena program yang memberi hadiah uang tunai 2 juta rupiah untuk pesertanya ini lebih fokus pada game show-nya, maka lebih banyak menampilkan adegan uji nyali. Bisa dikatakan bagian uji nyali sampai 90 persen dari durasi tayangan.

“Karena porsi tantangan di [masih] Dunia Lain itu dua malam, dengan masing-masing durasi tantangan selama 4 jam setiap malamnya.

Inilah mengapa saya berani menyebut [masih] Dunia Lain sebagai game show. Sisanya yang 10 persen itu berisi pembahasan dari Citra dan Dicky.”

Dicky-Rudi-CitraYa, selain host Rudi Kawilarang, [masih] Dunia Lain juga menampilkan dua paranormal Dicky Zainal Arifin dan Citra Prima yang baru bergabung di episode ke-10.

Rudi sempat berseloroh, “Hanya saya di sini yang normal. Lainnya paranormal. Hehehe,” canda host yang disebut penggemar memiliki wajah perpaduan Lord Voldemort dan Zinedine Zidane.

Dicky sebagai konseptor. Dia sudah terlibat di program ini ketika judulnya Dunia Lain. Lelaki yang pernah mengisi program ceramah di ANTV ini mengobrol dengan pihak Trans 7 dan mengusulkan membuat program Dunia Lain versi baru dengan misi senada, diutarakan Agung berjudul Trans Dimensi. Akhirnya disepakati menggunakan judul [masih] Dunia Lain.

“Tidak masalah, karena yang terpenting adalah kesempatan kami untuk memberi pesan kepada masyarakat agar jangan sampai mereka takut pada hantu melalui acara ini,” kata Dicky.

“Kami akan memberi penjelasan logis, jadi tidak ada mistis. Karena fenomena gaib sesuatu yang logis dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Contohnya keberadaan jin. Jin itu dibuat dari api yang sangat panas. Nah, berarti jin itu energi. Keberadaan energi tentu saja bisa ditangkap (kamera atau pun alat pendeteksi energi).” 

Mengenai hal itu, paranormal yang akrab disapa Kang Dicky mengajarkan langsung kepada kami bagaimana caranya menangkap energi jin. Kebetulan kami membawa kamera digital pocket dengan kekuatan 10 megapiksel.

Kami disuruh mengarahkan kamera ke satu titik yang diduga ada “penunggunya”, saat mengikuti syuting salah satu episode [masih] Dunia Lain di Kodim Lama, depan Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Lalu diarahkan untuk memotret titik itu sebanyak 3 kali berturut-turut tanpa pindah tempat, hanya untuk memastikan penampakan yang nanti didapat bukan efek sinar atau cahaya lampu. Ya, benar saja. Gambar energi pun tertangkap kamera.

“Itu orbs, penampakan awal jin. Masih berbentuk bulatan saja. Lebih dari itu akan ada ektoplasma (penampakan sudah memanjang dan bergerak), dan cortex (penampakan sudah berwujud bayangan hitam dan dapat menyebabkan poltergeist atau hantu ribut (membuat suara atau menggerakkan barang),” terang Dicky Kang Dicky menyebutkan, jin dan sebangsanya itu makhluk lemah.

“Mereka tidak bisa mencelakakan kita dan mereka itu makhluk yang benar-benar membutuhkan bantuan kita untuk eksis. Ada sebagian manusia yang meminta perlindungan dari kelompok jin. Itu hanya akan menambah kesombongan mereka.”

Sementara Citra, paranormal yang mendapatkan kemampuannya setelah mengalami mati suri ini, berfungsi kebalikan dari Dicky.

“Fungsi Citra, selain sebagai psikolog yang melihat karakter peserta, dia juga akan membantu memberi gambaran kepada pemirsa apa saja yang ada di sekeliling peserta yang orang awam tidak lihat. Bahwa oh, di sini ada ini, di situ ada itu,” kata Agung.

“Sekaligus memberi tahu peserta. Bukan maksudnya menakut-nakuti, tapi paling tidak peserta siap menghadapi yang ada di dalam. Hahaha. Itulah serunya,” kelakarnya.

Citra tidak keberatan dengan fungsinya mengecek keberadaan penunggu dan melihat-lihat duluan makhluk jin dan sebangsanya di lokasi syuting terpilih.

“Aku bukan tipe penakut. Semakin menurut orang satu tempat itu menakutkan, aku malah semakin penasaran. Selama ini aku berhubungan dengan dunia astral pun, aku tidak pernah ketakutan,” aku Citra.

Keberanian Citra ini kami buktikan sendiri. Saat syuting di Kodim Lama, Citra begitu percaya diri mencari toilet saat kepengin buang air kecil. Padahal lokasi terlihat begitu angker.

Omong-omong soal lokasi, [masih] Dunia Lain tidak memilih lokasi angker yang sudah umum atau sering digunakan sebagai lokasi uji nyali sebelumnya. Studio Alam Depok atau bangunan tua di Pulo Gadung pun jadi. Dan menemukan tempat-tempat angker itu terbilang mudah, cukup dari omongan mulut ke mulut, tim akan mendatangi tempat itu untuk survei.

“Syarat pertama bangunan yang bisa menjadi pilihan, sudah memiliki tampilan yang seram. Syarat kedua, saat kami telusuri ke dalam, ada rasa merinding. Tentu kita yang awam pun bisa merasakan, walau tidak bisa melihat. Terakhir baru kami mengurus masalah teknis. Apakah memungkinkan satu lokasi dipasangi kamera dan control room,” kata Agung.

Sejauh ini, tanggapan pemirsa terhadap [masih] Dunia Lain cukup positif dengan perolehan rating terakhir 2,2 dengan share 20,1 persen. Acara yang tayang setiap malam Jumat ini pun masuk top ten program favorit di Trans 7. Tetapi mereka -- pemirsa setia [masih] Dunia Lain -- mulai menuntut adanya penampakan. Hal yang rentan  terkait “penampakan” adalah kecurigaan bahwa itu palsu.

“Satu hal perlu saya garisbawahi, tidak mudah menghadirkan penampakan. Karena kami tidak mau ini menjadi program yang palsu. Sengaja memunculkan sesuatu yang bikin orang takut atau apa, kami tidak mau,” kata Agung.

“Di luar (negeri) ada program Paranormal Activity atau Ghost Hunter dan kedua acara itu menghadirkan penampakan. Lalu pemirsa mulai membandingkan, kok [masih] Dunia Lain tidak ada penampakannya? Secara pribadi, saya juga mau ada penampakan. Kasarnya, berapa paranormal saya panggil ke sini untuk bisa menghadirkan penampakan, tetapi memang tidak semudah itu. Kami berusaha membuat program ini benar-benar 100 persen reality. Lebih baik kami bersabar sampai muncul sendiri penampakan betulan. Ketimbang “diada-adain” lalu pemirsa tahu itu bohong, nanti malah kecewa,” bebernya.

Kang Dicky berujar senada. Terkait misi [masih] Dunia Lain yang ingin mencerdaskan pemirsa, kalau penampakan tidak ada, ya tidak usah dibuat-buat. “Jadi kami tidak pernah merekayasa. Apa yang kami dapat, itu yang disuguhkan kepada pemirsa,” tegas Kang Dicky. Semoga tetap real ya!

(wida/gur)