Ketika Nikita Mirzani Jadi “Nenek Gayung”

nenek-gayung12
Nikita Mirzani, jelmaan Nenek Gayung. (foto-foto dok.Movie Eight)
TABLOIDBINTANG.COM -

URBAN legend alias legenda kota diangkat jadi sebuah film, bukan hal baru. Hal berbau mistis masih sangat dipercaya sebagian besar masyarakat kita.

Produser pun sungguh jeli. Nenek Gayung, urban legend horor yang merebak di Jakarta akhir 2011, kini sudah ada versi filmnya.

Sesuai dengan desas-desus yang beredar, sosok Nenek Gayung dalam film ini digambarkan sebagai seorang nenek tua renta, membawa tikar, dan gayung. Nenek Gayung akan mencari korban laki-laki untuk dimandikan, yang kemudian meninggal 7 hari setelah dimandikan.

Di tangan sutradara Nuri Dahlia dan penulis skenario Bono Sutisno, cerita ini dikembangkan. Tersebutlah Duta (Zaky Zimah), pemuda yang bekerja sebagai pengantar burger. Suatu hari, ia menolong nenek-nenek renta yang hampir ditabrak mobil di sebuah traffic light.

Usai menolong nenek yang kemudian menghilang misterius, Duta harus menerima kenyataan saat Pamela, pacarnya yang bertubuh subur, memutuskannya demi pria yang lebih tampan dan kaya tepat di hari anniversary mereka.

Patah hati, Duta hendak bunuh diri di sebuah jembatan. Namun niatnya ini dicegah oleh cewek seksi yang belakangan mengaku bernama Dewi (Nikita Mirzani). Setelah mendengar alasan Duta yang ingin bunuh diri, Dewi menawarkan diri jadi pacarnya. Duta pun setuju dan membatalkan niatnya bunuh diri.

nenek-gayung13Duta tidak tahu, bahwa perempuan cantik yang dipacarinya itu adalah jelmaan Nenek Gayung yang diselamatkannya tempo hari.

Suatu hari, ibunda Duta (Yurike Prastika) hendak menjodohkan Duta dengan perempuan pilihannya dan membawa putranya pergi dari kontrakan. Mendapati Duta tak lagi mengapelinya, Nenek Gayung pun meneror teman-teman Duta.

Mampukah Duta dan teman-temannya lolos dari teror Nenek Gayung? Siapa dan apa yang sebenarnya dicari Nenek Gayung?

***

Sebagai film yang memproklamirkan diri sebagai horor komedi, unsur komedi Nenek Gayung jauh lebih kuat dari horornya. Banyak adegan yang mampu mengocok perut ketimbang membuat merinding. Misal, dalam sebuah adegan Nenek Gayung diperlihatkan sedang berjoged "Iwak Peyek" saat karakter yang dibawakan Yadi Sembako mengubah lirik lagu Trio macan itu menjadi: “Iwak peyek, Iwak peyek nasi jagung. Ada nenek, ada nenek bawa gayung.”

Terlepas dari sensasinya, Nikita Mirzani cukup berhasil membawakan Dewi, jelmaan Nenek Gayung. Nikita yang di infotainment atau acara talk show dikenal ceplas ceplos dan nyablak, berubah menjadi dingin, tenang, dan elegan saat memerankan Dewi. Intonasi suara Nikita yang berkesan nakal dan manja ketika di TV, seolah lenyap dalam film ini.

Kalau Zaky Zimah, sih, sudah tak perlu diragukan. Sejak tema horor komedi menjamur 2 tahun lalu, Zaky telah membintangi 9 film bergenre serupa. Ekspresi ketakutan ditunjukkannya dengan wajah lucu yang menjadi ciri khasnya.

nenek-ghayung12Satu yang patut diapresiasi, meski mengusung genre horor-komedi, Nenek Gayung tidak melecehkan sosok setan. Kalau Anda menonton film-film produksi K2K Productions atau film yang disutradari Nayato, tentu familiar dengan adegan pocong ditendang, disembur air, dikencingi, sampai disemprot sambal. Ya, sosok setan dalam film K2K atau Nayato dipaksa ikut melawak. Sehingga memupus kesan seram yang seharusnya menjadi daya tarik setan.

Nenek Gayung, selain ikut bergoyang "Iwak Peyek" dalam sebuah adegan, tidak di-bully manusia. Meski sedikit, kemunculan Nenek Gayung cukup menyeramkan, atau setidaknya mengagetkan.

Selain komedi dan horor, Nenek Gayung juga mengobral dada dan paha seperti film-film sejenis. Mendampingi Nikita, Nenek Gayung juga menampilkan Tata Sivek dan Kartika Putri yang dikenal sebagai pengisi acara Kakek-Kakek Narsis (KKN) di Trans TV. Jangan buru-buru meninggalkan bioskop saat film selesai. Di credit title, Zaki Zimah dll berjoged Iwak Peyek bersama Trio Macan dan Fifie Buntaran (yang memakai nama Fifie Barbie).

Kami tidak menyebut Nenek Gayung sebagai film terbaik. Tapi plot yang jelas, ritme yang pas, pemunculan setan yang tidak berlebihan, penyelesaian yang tidak asal-asalan, membuat Nenek Gayung unggul di-“kelas”nya.***

(ray/ade)