21 Jump Street, Film Semua "Umur"

21 jump street (2012) studi
TABLOIDBINTANG.COM -

YA, 21 Jump Street adalah film yang bisa dinikmati segala “usia.”

Tapi tentu, klaim ini saya beri tanda petik untuk menandakan yang saya maksud bukan berarti filmnya bisa disaksikan anak-anak,melainkan filmnya bisa dinikmati generasi yang berbeda.

Entah apa Anda termasuk ke dalam generasi saya, yang tumbuh saat RCTI memutar serial 21 Jump Street yang dibintangi Johnny Depp di tahun 1990-an, atau Anda tergolong generasi setelah era 1990-an yang sama sekali tak pernah mendengar nama 21 Jump Street apalagi menontonnya.  

Kabar baiknya, 21 Jump Street yang saat ini masih diputar di bioskop adalah film untuk semua “umur.” Kita semua bisa tertawa menikmati suguhan film besutan duo Phil Lord dan Christopher Miller ini. Lord dan Miller baru pertama bikin film live-action. Sebelumnya mereka bikin film animasi kocak Cloudy Chance with a Meatballs. Sutradara animasi hijrah ke live-action lagi marak. Andrew Stanton, alumni Pixar, membuat John Carter dan gagal. Brad Bird, juga alumni Pixar, membuat M:I Ghost Protocol dan lumayan berhasil. Nah, Lord dan Miller ini bisa dikatakan sukses besar.

Kesuksesan sineasnya di mata saya, utamanya, karena telah membuat filmnya tak sekadar remake alias buat ulang dari materi lama. Sudah sejak sepuluh tahun terakhir Hollywood dituding semakin kehilangan ide segar. Yang mereka lakukan kebanyakan membuat cerita lanjutan dari film sukses (sekuel), membuat kisah awal alias asal muasal cerita sukses (prekuel), atau membuat ulang film/serial TV sukses di masa lalu (remake, reboot).

21-jumph12Saat pertama mendengar 21 Jump Street akan dibuat versi layar lebarnya, saya tak terlalu berharap banyak. Ah, ini pasti cara gampang Hollywood meraup uang dari generasi lama yang ingin bernostalgia dengan tontonan lawas di masa kecil, sekaligus meraih penonton baru. Begitu pikir saya dulu.

Well, saya ternyata salah. Saya menikmati setiap detik filmnya. Tak lama selesai nonton, saya berkicau di Twitter, “21JumpStreet, tafsir segar nan jenaka, nakal, dan liar #shortReview.”

Saya katakan tafsir segar karena filmnya tidak sekadar buat ulang dari serial lawas. Skenario Michael Bacall (menulis film asyik Scott Pilgrim Vs. the World) dengan cerdas sekadar meminjam premis utama serialnya lalu menjadikannya kisah miliknya sendiri.       

Yang dipinjam 21 Jump Street versi film adalah konsep ceritanya—polisi bertampang remaja ditugaskan menyamar ke SMA untuk menggulung penjahat, memberantas peredaran narkoba di sekolah.  Tapi kemudian, premis awal ini tidak jatuh jadi kisah serius apalagi kisah klise polisi menyamar demi membongkar kasus kejahatan.

Kisahnya dimulai dengan prolog tahun 2005 saat kita dikenalkan dengan Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum) ketika masih SMA. Keduanya bernasib sama. Sebagai geek, Schmidt tak dapat teman kencan untuk pesta dansa kelulusan (prom night). Sedang Jenko, siswa paling populer, dihukum oleh sekolah tak boleh datang ke prom night.       

Syahdan, keduanya sama-sama masuk akademi kepolisian dan sepakat jadi sahabat. Setelah membuat kekacauan (Jenko tak hapal kalimat yang harus diucap saat menangkap penjahat. “You have a right to remain an attorney,” katanya) Schmidt dan Jenko kemudian ditugaskan ke divisi “21 Jump Street”, ditugaskan menangkap gembong narkoba jenis baru yang meracuni siswa SMA.   

21 jump street (2Kisahnya berkembang membongkar segala konvensi film aksi polisi. Filmnya membentur sana-membentur sini, berkelakar, menyindir segala hal, dan menyuguhkan lelucon yang nakal dan liar (lihat potongan penis!).

Bagi saya, pencapaian terbaik 21 Jump Street versi film adalah ketika ia tidak jatuh jadi sekadar film aksi polisi. Film ini pas disebut salah satu film remaja SMA atawa high school movie terbaik, dapat disejajarkan dengan Mean Girls di pertengahan 2000-an ataupun Sixteen Candles dari era 1980-an.

Di antara petualangan aksi Schmidt dan Jenko ada sub-teks selayaknya film remaja klasik Hollywood: persahabatan, perlombaan ingin jadi yang paling populer di sekolah, hingga cinta remaja. Schmidt dan Jenko seakan megulang lagi masa remaja mereka saat menyamar jadi siswa SMA. Lelucon yang paling kena buat saya saat Schmidt bergumam, “Environmental awareness, being tolerant… andai saya lahir 10 tahun kemudian,” atau ketika Jenko mengecam Glee (“Fu** you, Glee!”).     

Dengan segala lelucon kasar, liar, dan nakal saya masih bisa merasakan suasana batin patah arang Schmidt dan Jenko saat keduanya berpisah karena konflik khas remaja anak sekolahan. Untuk rasa sentimentil itu yang bisa timbul di tengah segala kelakar, saya angkat gelas tinggi-tinggi buat sineasnya.

My Favorite Scene:
SPOILER ALERT! Tentu saat ada kejuatan manis dari cameo 2 bintang asli serial 21 Jump Street. Melihat keduanya nongol sebentar seperti sebuah tribute, tidak saja bagi serial aslinya tapi juga bagi generasi saya yang tumbuh dengan serial itu.   

Images credit: Columbia Pictures

(ade/ade)