“Tutur Tinular 2011”: Banyak Binatang dan Buah Bisa Bicara (Makin Absurd, Rating Makin Bagus?)

tutur-tinular-2011
TABLOIDBINTANG.COM -

KEHADIRAN sinetron berlatar kolosal, memberi warna baru di industri sinetron stripping.

Sinetron kolosal sebenarnya bukan hal baru di dunia sinetron. Tahun 90-an kita punya Misteri Gunung Merapi, Angling Dharma, dan Tutur Tinular versi 1997. Kala itu konsepnya masih sinetron mingguan, dengan durasi 60 menit. Sehingga penggarapannya terbilang rapi.

Syahdan, di tahun 2011 muncul Tutur Tinular versi 2011 (selanjutnya disingkat TT 2011). Tentu ini warna baru bagi penikmat sinetron, mengingat era sinetron harian didominasi oleh genre drama. Namun eksekusinya bukan tanpa masalah. Dari awal, banyak netizen di forum-forum yang mengeluhkan setting dan kostum tidak sesuai dengan zaman kerajaan Singasari – Majapahit. Belum lagi sisipan lagu dangdut bak film India, yang tidak relevan di era Hindu – Buddha.

Namun ternyata ratingnya kokoh di 10 besar, sehingga episodenya terus bertambah. Durasi yang mulanya 60-90 menit, ditambah jadi 120 menit sekali tayang.

Pengembangan cerita kian menyimpang. Legenda Misteri Gunung Merapi; Mak Lampir dan Gerandong, disertakan di sini. Demikian juga kisah Ramayana; Little Krisna, diceritakan berkonflik dengan Mak Lampir.

Belakangan karakter-karakter “cross-over” ini tak lagi tampak. Tapi ya bukan berarti ceritanya membaik. Penonton disuguhi kisah-kisah yang tak ada hubungannya dengan Kamandanu atau cerita Tutur Tinular versi sandiwara radio.

Dewi Padmini berubah jadi burung dan bisa bicara. Mak Lampir juga menjelma jadi tongkat yang bisa bicara. Burung bukan satu-satunya binatang yang bisa bicara. Ada anjing, marmut, kupu-kupu, kelinci, dan kodok yang bisa ngomong. Tak sampai di situ, sandal dan buah kelapa pun bisa ngomong.

Tayangan Minggu (10/6) memperlihatkan seekor marmut yang bisa bicara, bernyanyi, dan berjoget bareng manusia. Tayangan Selasa (12/6) lebih absurd lagi. Ada kelinci dan kodok yang bisa bicara, mengaku sebagai jelmaan Arya Putra, anak Arya Dwi Pangga (Ridwan Ghany). Kelinci dan kodok keukeuh jelmaan Arya Putra. Arya Dwi Pangga lantas menyuruh keduanya main seruling, karena anaknya jago main seruling. Ternyata keduanya sama-sama tak bisa meniup seruling, dan hanya suruhan bopo Laras.

Kurang absurd? Ada adegan di mana Bajang Putra hendak menyerang Manguntur. Kamandanu cs minta bantuan pada buah kelapa yang bisa bicara. Kelapa berwarna merah ini lantas memanggil teman-temannya, sekelompok kelapa yang berwarna hijau.

Bingung? Ya, bayangkan saja buah kelapa beterbangan di udara. Lalu mereka berdiskusi: “Kita harus mencegah Bajang Putra menyerang Manguntur. Kalau tidak, pohon kelapa akan ditebangi dan kita akan punah.” Dialog ini diucapkan buah kelapa.

Tidak sampai di situ. Adegan penutupnya lebih heboh. Mirnawati (Vista Putri) hendak membunuh Palastri (Rosnita Putri) yang sedang hamil. Tiba-tiba Mirnawati diserang sosok tak dikenal sampai lari tunggang-langgang. Eh, ternyata yang menyerang Arimbi (Kylla Nuraver) yang bisa mengecil jadi liliput. Mengingatkan pada Ony Syahrial di Tuyul dan Mbak Yul yang bisa membesar dan mengecil.

Cerita mungkin tidak masuk akal, dan tidak sesuai versi aslinya. Mengapa masih bertahan? Ya, karena ratingnya oke. Tayang sejak September 2011, TT 2011 sudah bertahan lebih dari 200 episode.

Ini merupakan sinetron yang paling lama tayang saat ini. Pada Senin (11/6), TT 2011 menduduki peringkat 5 dengan TVR 4 dan share 17,2 (ALL). Sementara Selasa (12/6), pada rentang waktu 21.00-21.59 WIB, Indosiar meraih TVR dan share tertinggi nomor 2, hanya kalah dari Trans 7. Ini jelas menunjukkan TT 2011 masih menjadi salah satu acara yang banyak ditonton, lebih tepatnya, acara dengan rating paling tinggi di Indosiar.

Masyarakat bukannya tidak mengeluh. Maret 2012, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bahkan pernah memanggil Indosiar terkait banyaknya aduan yang masuk. Tidak ada teguran, karena TT 2011 tak melakukan pelanggaran. KPI hanya mengimbau soal pakaian yang terlalu terbuka dan cerita yang melenceng.

Ya, selama rating masih tinggi, sepertinya masih banyak kesempatan bagi binatang, buah, atau benda lain untuk turut andil. Penonton tak bisa melawan hukum alam. Lagi-lagi pilihan ada pada Anda. Kalau suka ya silakan menonton. Kalau tidak, tinggal ganti saluran. Beres, kan?

(ray/ade)