Potong Bebek Angsa: "The Hangover and the White Swan"

Potong-Bebek-Angsa-2
TABLOIDBINTANG.COM -

TERUS terang saya tidak memiliki referensi apapun saat menonton Potong Bebek Angsa (PBA), kecuali dibintangi Olivia Jensen, Ricky Harun, dan Boy William.

Akhirnya saya menonton pekan lalu. Begini, Sasha (Olivia Jensen) tengah mengurus paspor untuk pergi ke Perancis. Dua hari sebelum terbang, ia diundang teman ke pesta. Sungkan menampik undangan sahabat, Sasha mengajak kakaknya, Masen (Boy William) dan sahabat Masen, Otong (Ricky Harun). Di dalam pesta, mereka bermain kostum.

Otong menjadi pocong. Masen memakai baju bebek. Sasha tampil bagai ratu angsa. Keesokan harinya, tiga sekawan ini terjaga sekaligus terdampar di pantai. Berikutnya, gembong mafia memburu dan menembaki mereka. Belum sepenuhnya sadar, tapi Sasha, Masen, dan Otong paham nyawa mereka dalam bahaya. Bowo (Oka), polisi yang melacak kasus ini mengabari Papa (Ferry Salim) dan Mama Sasha (Dewi Rezer) bahwa putrinya terlibat jaringan narkotika kelas kakap.

Segera setelah menyaksikan adegan Otong, Sasha, dan Masen terjaga di bibir laut, saya sadar film kedua Alyandra ini turunan pemenang Golden Globe 2010, The Hangover. Disebut turunan karena kualitasnya merosot jika dibanding film yang ditiru. Alyandra mengaku terinspirasi The Hangover.

Entah jika status “terinpirasi” berarti seorang sineas berhak mengadopsi plot naskah secara utuh dan meniru sebagian besar teknik penuturan. “Adaptasi bebas”, “terinpirasi”, atau “versi lokal dari film anu” sebenarnya bukan fenomena baru. Film Lagu Untuk Seruni (Labbes Widar, 1991), kisahnya persis drama peraih 5 Oscar, Kramer Vs Kramer (Robert Benton, 1979).

Atau Love (Kabir Bhatia, 2008) yang mengingatkan kita pada Love Actually (Richard Curtis, 2003). Love sendiri versi lokal dari Cinta yang dirilis dua tahun sebelumnya di Malaysia. Meski begitu, Seruni maupun Love mampu mendekatkan diri dengan logika penonton.

Seruni mapan dari apek penceritaan, suara, dan tajam untuk penampilan Tio Pakusadewo. Love bukti kegemilangan akting Acha dan jadi penampilan terakhir Sophan Sophiaan. PBA menyeret logika ke area yang hampir mustahil dijamah dengan nalar.

Status dan kinerja Bowo tidak jelas. Ia seolah sendiri. Sementara ponsel yang dipinjamkan Ivan untuk Sasha tiba-tiba kehilangan fungsi. Tengok juga tumpukan uang dollar yang terlihat palsu karena kamera (tanpa sengaja) merekam tumpukan kertas putih. Lalu pertikaian di restoran Padang. Di mana pemilik dan karyawan ketika terjadi perkelahian Otong dan antek mafia Afro-Amerika di sana?

Artistik dan naskah yang bodong menjadi problem mendasar bagi Alyandra dan tim. Xia Aimei masih lebih baik berkat tema menyentuh. PBA yang diharapkan bikin penonton tergelak atau tersentuh berkat persahabatan Otong-Masen terasa ngelantur. Kasus plagiator Opera Van Java sebagai sempalan cerita PBA pun gagal mencapai penyelesaian.

Catatan: Kritik dalam resensi ini tanda cinta lho, ya! Bukan bermaksud nyinyir terhadap karya.

Pemain : Ricky Harun, Boy William, Olivia Jensen, Ferry Salim, Dewi Rezer, George Rudy
Sutradara : Alyandra
Penulis : Away Martianto, Hilman Mutasi
Produser : HB Naveen, Frederica
Produksi : Falcon Pictures
Durasi : 75 menit

Foto: Dok. Falcon Pictures

(wyn/ade)