Cinta Tapi Beda: Cinta yang Didasari oleh Dua Mahacinta

cinta tapi beda-2012
Adegan Cinta Tapi Beda. (dok. MVP Pictures)
TABLOIDBINTANG.COM -

SAYA membayangkan perasaan Diana (Agni Pratistha) dan kegamangan ibunya, Uni (Jajang C. Noer) di film Cinta Tapi Beda (CTB).

Sebagai pemeluk Katolik, tinggal di provinsi di mana jarang sekali menemukan sesama Katolik. Dua anak Uni sebelumnya, menikah dengan non-Katolik. Awalnya, mereka berjanji tidak akan pindah keyakinan. Apa boleh buat, di tengah jalan mereka berbalik haluan.

Uni, ibu dengan perasaan seperti ibu-ibu lain. Ia tidak ingin ditinggalkan anaknya. Tidak ingin menjaga iman seorang diri. Takut kesepian. Konflik bermula ketika Diana mengikuti kursus tari di Sanggar Merak Jingga, pimpinan Dyah Murtiwi (Nungky Kusumastuti). Dyah bibi Cahyo (Reza Nangin). Di sinilah Diana jatuh hati pada Cahyo, seorang Muslim taat. Konfliknya jelas dan kuat. Dimulai ketika ibu Cahyo (Sitoresmi) melihat kalung salib yang menggantung di leher Diana, yang diperkenalkan sebagai calon menantu sementara ibu Cahyo berhijab.

Perkenalan terjadi saat keluarga Cahyo menggelar hajatan sunatan. Tensi film meninggi ketika keadaan berbalik. Cahyo diperkenalkan sebagai calon menantu di hadapan Uni. Tema beda iman dalam masyarakat kita tidak ubahnya seperti membahas seks atau slip gaji. Riskan dan cenderung dibahas dengan pola membisik. Saya ingat, saat tetangga hendak menikah. Mempelai perempuan berbeda iman, sedangkan anggaran nikah hanya cukup untuk pesta lokal. Tidak interlokal (baca: ke luar negeri). Seorang ibu menyelinap ke dapur rumah saya lalu berbisik, “Akhire sing wadon melu agamane bojone! (Akhirnya si perempuan ikut agama calon suami-red)”.

Dibutuhkan keberanian dari penulis naskah pun sineas yang tidak “bisik-bisik” memaparkan tema sensitif ke layar lebar. Berani mengusung dan berani tidak memihak. Film-film tentang beda iman selama ini selalu, memilih jalur mainstream. Mengalahkan iman si minor, hanyut ke pilihan mayor.

Ending macam ini selama ini dianggap benar dan sah. Hestu tampak mencoba mencari jalan alternatif untuk menghindari klise. Ada sedikit kelemahan dari sektor latar belakang Diana. Presentasi peribadatan memang memenuhi standar. Hanya, beberapa dialog Uni menyamarkan identitas antara Katolik dan Protestan. Ini masalah riset penulis naskah. Di luar itu, CTB mengalirkan masalah secara realistis.

Konflik dimulai, menggunung sampai menit akhir. Akhir film pun menyisakan sejumlah tanya. Jelas, Hanung dan Hestu tidak memihak. Kinerja CTB didasari kebinekaan, seperti ajaran Guru Bangsa. Sikap tidak memihak memberi amanat kepada penonton.

Intinya, tidak mudah melaksanakan pernikahan beda agama. Sistem di Indonesia tidak memberi dukungan pada cinta yang didasari dua Mahacinta. Ini pesan CTB. Untuk kita renungkan.

Words To Remember: “Jawaban itu ada di hati. Sama seperti kegelisahan itu datangnya dari hati.” (Stella, diperankan Ayu Diah Pasha). 

Pemain: Reza Nangin, Agni Pratistha, Choky Sitohang, Jajang C Noer, Nungky Kusumastuti
Sutradara: Hestu Saputra, Hanung Bramantyo
Penulis: Taty Apriliyana, Novia Faizal, Perdana, Kartawiyudha
Produser: Raam Punjabi
Produksi: MVP Pictures
Durasi: 97 menit

Foto: Dok MVP Pictures

(wyn/ade)