Gending Sriwijaya: Kisah Tiga Abad Setelah Kejayaan Sriwijaya Lewat ...

GendingSriwijaya-Stills011
Adegan "Gending Sriwijaya" (dok.ist.
TABLOIDBINTANG.COM -

GENDING Sriwijaya (GS) genre baru dalam filmografi. Hanung Bramantyo (37) mereka kisah fiktif dengan sejarah sebagai latar.

Hanung mendirikan kerajaan baru, 300 tahun setelah kejayaan Sriwijaya lewat. Kisah dimulai dengan membangun Kedatuan Bukit Jerai, dipimpin Dapunta Hyang (Slamet Rahardjo) dan Ratu Kalimanyang (Jajang C. Noer).

Pada masa tua, Dapunta memikirkan pengganti. Ia memiliki dua anak, Awang Kencana (Agus Kuncoro) dan Purnama Kelana (Sahrul Gunawan) yang baru saja pulang belajar dari China. Awang cakap bela diri. Purnama genius soal pola pikir dan strategi politik. Dapunta memilih Purnama sebagai pengganti.

Keputusan ini ditentang permaisuri. Mengangkat bungsu sebagai Raja melanggar tradisi, mengundang petaka. Beberapa hari setelah keputusan itu, Dapunta tewas. Bukti-bukti kudeta mengarah ke Purnama. Akibatnya Purnama dibuang ke luar istana. Awang naik takhta. Dalam pembuangan, Purnama bertemu Malini (Julia Perez) dan Ki Goblek (Mathias Muchus).

Kisah seperti ini membuat penonton membayangkan setting kolosal dan nostalgia pada film-film silat yang menjejali bioskop pada dekade ‘80-an. Penulis terkenang pertama kali berkenalan dengan bioskop lewat Saur Sepuh 2: Pesanggrahan Keramat (1988). Kala itu, penulis berusia 4 tahun. Artistik bangunan keraton, peperangan di belantara, dan perabotan perak-emas sudah ada dalam bayangan sebelum film dimulai. Hanung menjadikan penonton pembaca babat. Layar ibarat buku. Adegan demi adegan ibarat lembar halaman. Diperkuat 40 penata artistik dan delapan tim makeup, set istana pada abad 16 cukup meyakinkan penonton.

Bagian yang paling menentukan menurut penulis, yakni para pemain, koreografi, dan penggambaran momen-momen penting yang berpotensi membuat mulut penonton menganga. Julia Perez pilihan yang mengundang risiko. Hebatnya, si belah duren sanggup membuktikan diri sebagai bad-as* yang layak diperhitungkan. Penghitaman kulit, kostum pendekar jalanan, dan refleks dalam merespon gerak tubuh lawan main adalah daya tarik kuat GS.

Nyaris tidak ada masalah dengan para pemain, kecuali bahasa yang digunakan. Tidak semua aksen Palembang dilafalkan demikian. Jika riset logat dan aksen nyaris mustahil dilakukan, alangkah baiknya, dialog disiasati dengan Bahasa Indonesia formal. Patut disayangkan pula, momen penting yang seharusnya menjadi big scenes dalam film malah “dikorbankan”.

Hanung memilih teknik animasi dalam menggambarkan peristiwa yang kelak dicatat sejarah. Upacara pembakaran jasad Dapunta, Awang Kencana naik takhta, pembantaian para penolak kebijakan dengan meriam dan mesiu yang didatangkan dari China tidak digambarkan nyata. (Mungkin), jika dieksekusi secara riil butuh pemeran pengganti, figuran, dan set dekorasi yang terlampau besar. Entah jika sutradara punya pertimbangan lain soal ini.

Catatan Penulis: GS terasa kurang maksimal minus scene-scene besar tadi. Meski begitu, film ini tetap penting. Memberi warna baru dalam karier Hanung. Melalui GS, Julia Perez membuktikan diri bukan sekadar media darling. Riset soal bentuk mesiu generasi pertama juga layak diberi pujian.

Pemain: Agus Kuncoro, Sahrul Gunawan, Julia Perez, Mathias Muchus, Jajang C Noer
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis: Hanung Bramantyo
Produser: Dhoni Ramadhan, Dian Permata Purnamasari, Irene Camelyn Sinaga
Produksi: Putaar Production, Pemda Sumatera Selatan
Durasi: 141 menit

(wyn/ade)