Sang Pialang: Film "Main Saham for Beginners"

Sang-Pialang-5
Adegan film "Sang Pialang". (dok. ist.)
TABLOIDBINTANG.COM -

"And please, speak as you might to a young child. Or a golden retriever."

                                     â€”John Tuld (diperankan Jeremy Irons) di film Margin Call (2011)—

SANG Pialang, sebuah film menjanjikan dari Asad Amar, dibuka dengan pengenalan pada para pialang saham.

Kita melihat mereka berpenampilan necis, memakai gadget canggih, makan siang di kafe atau restoran mahal, dan malamnya clubbing. Kita tentu langsung bisa menebak, pekerjaan jadi pialang saham tentulah bergaji besar.

Penggambaran di awal itu langsung membawa saya pada sebuah buku lama yang ditulis Paul Ormerod, The Death of Economics  (terbit pertama 1994, saya baca terjemahannya terbitan KPG berjudul Matinya Ilmu Ekonomi yang berwujud cergam tahun 1998. Sebuah buku bagus untuk mengenal teori-teori ekonomi). Di bagian awal buku itu Ormerod menguraikan sebuah fenomena menarik.

Sejak 1980-an, tulisnya, mahasiswa yang mengambil fakultas ekonomi meningkat 10 kali lipat di Universitas Harvard. Begitu pun di universitas Princeton, fakultas ekonomi kian diminati.

Ini artinya, akan semakin banyak lulusan fakultas ekonomi yang mencari pekerjaan. Anehnya, semakin banyak orang yang belajar ekonomi, malah semakin tinggi nilai ijasah fakultas itu, misalnya, untuk mencari pekerjaan di pasar modal Wall  Street.

Sebaliknya, tulis Ormerod, semakin sedikit orang berminat jadi guru, justru semakin rendah gajinya. Hal ini bertentangan dengan hukum ekonomi dasar permintaan dan penawaran.

Sang-Pialang9Kita juga berkaca sambil bertanya: Kenapa orang yang kerjanya jadi pialang saham dengan kenyamanan hidup di kota besar digaji lebih tinggi daripada, misalnya, guru yang rela mengajar di daerah terpencil di Papua atau pelosok Kalimantan?

Pertanyaan semacam di atas juga pernah mengusik James Tobin, peraih Nobel untuk ilmu ekonomi (1981) yang mempertanyakan apakah mengalirnya tenaga muda ke sektor keuangan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial. Pertanyaan yang sama juga pernah diajukan teoritikus ekonomi abad kemarin Sir John Maynard Keynes pada 1930-an.

Jawaban Keynes, dapat! Alasannya, kebanyakan orang yang tertarik dengan pekerjaan di bidang keuangan berwatak suka berkuasa, bahkan mengidap kelainan jiwa. Jika tidak dapat menyalurkan energi mereka di bidang keuangan, bisa saja mereka terang-terangan menjadi penjahat.

Di pengantar buku 50 Gagasan Ekonomi yang Perlu Anda Ketahui (juga saya baca edisi terjemahannya terbitan Erlangga, tahun 2011) ditulis Edmund Conway, ilmu ekonomi, pada inti mendalam, adalah studi tentang manusia. Kata Conway, “Ekonomi menyelidiki apa yang mendorong manusia untuk melakukan apa yang mereka lakukan, dan melihat bagaimana mereka bereaksi ketika dihadapkan dengan kesulitan atau keberhasilan.”

Sang-Pialang-3Budaya pop, lewat film-film tentang korporasi, kemudian merumuskan perilaku manusia saat mempraktekkan ilmu ekonomi di kehidupan. “Greed is good—serakah itu baik,” kata film Wall Street (1988) karya Oliver Stone. Atau sebuah film kecil yang mencuri perhatian tahun 2011, Margin Call, tentang satu hari sebelum krisis keuangan melanda dunia tahun 2008, seorang tokohnya, John Tuld (Jeremy Irons) mengatakan begini, “There are three ways to make a living in this business: be first, be smarter, or cheat—Ada tiga jalan agar bisa hidup dari bisnis ini: jadi yang pertama, jadi yang lebih pintar, atau main curang.”

***

Saat menonton Sang Pialang hendaklah kita mempersiapkan diri bahwa dunia di mana ilmu ekonomi dipraktekkan, terutama di pasar saham, kita akan bertemu dengaan karakter manusia yang menganggap serakah itu baik dan mereka akan bersedia bermain curang demi meraih tujuannya.

Di Sang Pialang, kita bertemu Kevin (Christian Sugiono) yang mewakili sisi buruk dari pialang saham dan Mahesa (Abimana Aryasatya) yang mewakili sisi baik. Kevin ingin menunjukkan kalau ia yang terbaik bermain saham dibanding Mahesa, sahabatnya. Dengan filosofi harimau di gunung, Kevin tak mau ada satu gunung dengan dua harimau. Ia ingin jadi satu-satunya harimau di gunung. Sebagai pemanis konflik, persaingan itu tak sebatas di lantai bursa, tapi juga memperebutkan cinta Analea (Kamidia Radisti), satu-satunya cewek di kelompok mereka.

Itu saja sebetulnya inti Sang Pialang. Namun, karena ini adalah film tentang orang-orang yang bekerja sebagai pialang saham, maka konflikpun berkutat di seputar pasar saham. Dan sepengetahuan saya, ini film Indonesia pertama yang berlatar dunia saham.

Di sini kemudian kita bertemu dengan masalah yang menghinggapi filmnya. Karena negeri ini tak akrab dengan film bertema korporasi semacam Wall Street dan sekuelnya Wall Street: Money Never Sleep, Margin Call, atau dokumenter Enron: The Smartest Guy in the Room (2005) dan Inside Job (2011), filmnya kemudian mengambil langkah rasional sebuah film yang menawarkan sub genre baru: filmnya seolah-seolah jadi semacam edukasi, yang boleh dan tak boleh dilakukan, dan ditujukan bagi yang awam.

Pendek kata, Sang Pialang menjadi “main saham for beginners” buat saya.

Sang Pialang 5 9Tengok saja bagaimana Mahesa yang mengenalkan investasi saham pada ayahnya (Slamet Rahardjo). Kehadiran ayah Mahesa ini 
mewakili penduduk Indonesia kebanyakan yang belum percaya betul berinvestasi di pasar saham. Atau tengok juga perbuatan curang yang dilakukan Kevin. Momen Kevin melakukan kejahatannya digambarkan begitu sederhana, kilat, dan terkesan konyol (bermain di komputer orang dengan mengelabui minta dicarikan office boy untuk bikin kopi? Oh, please. Saya pikir itu cuma ada di sinetron, bukan film bioskop yang skenarionya ikut ditulis Titien Wattimena).

Tengok juga info dari mulut ke mulut yang disebarkan soal kelakuan bejat Kevin di perusahaan sekuritasnya. Sekali lagi, terlihat terlalu disederhanakan. Atau tengok juga saat seorang pekerja Bapepam, badan pengawas pasar modal, yang menjawab telepon sambil menguraikan lagi pelanggaran Kevin, seolah penonton perlu diingatkan lagi pelanggaran tersebut.

Di luar dunia saham yang tampaknya ditujukan bagi pemula, film ini malah lebih senang berlama-lama memperlihatkan Kevin, Mahesa dan kawan-kawannya bersenang-senang di kafe atau clubbing.

***

Seusai nonton saya mencari jawab kenapa filmnya mengambil pendekatan “for beginners” begitu. Tentu karena ini film pertama tentang dunia saham bikinan anak negeri—sebuah langkah yang patut dihargai tentu, di saat keragaman tema susah ditemukan di bioskop. Yang pertama selalu punya kecenderungan menjelas-jelaskan dari awal dan dari hal yang mudah dimengerti.

Masalahnya kemudian, apakah penonton awam kemudian merasa terkoneksi dengan cerita dunia sahamnya? Jangan-jangan, saya duga, filmnya akan dianggap terlalu canggih bagi penonton awam, namun bagi penonton yang sedikit banyak paham ilmu ekonomi dan dunia saham, filmnya malah dianggap dangkal.

Kedangkalan seputar setting cerita tak saya temukan saat nonton Margin Call, misalnya. Film tersebut merekam menit demi menit bagaimana orang-orang di sebuah korporasi lembaga investasi hendak memutuskan mengakali untuk menjual investasi yang tak ada lagi nilainya. Di situ ada perang moral di antara mereka tanpa perlu menjelas-jelaskan pada penonton.

Sang Pialang hanya berhasil meniru Margin Call lewat bagaimana Christian Sugiono memainkan pulpen di depan layar komputer. Usai nonton, saya berkicau di akun Twitter saya @a_irwansyah: Sang Pialang “bisa dinikmati. Tapi tak senikmat Margin Call, tentu.”

(ade/ade)