"Jack the Giant Slayer", Dongeng Baru Cerita Usang

jack-the-giant-slayer-89
Adegan "Jack the Giant Slayer". (dok.ist.)
TABLOIDBINTANG.COM -

USAI nonton Jack the Giant Slayer tempo hari, saya berkicau, "Jack the giant slayer: suka, seru, asyik,walo endingny terlalu ngada2, ups gak mau spoiler. :D #shortreview."

Buat saya, saat ditonton filmnya memang terasa mengasyikkan. Setiap unsur bekerja dengan baik, lancar menghibur. Tapi dari sini kemudian saya memikirkan lebih dalam ketika hendak menuliskan ulasan ini. Kenapa filmnya demikian lancar, enak diikuti, dan pada gilirannya menghibur?

Kemudian pula, saya ketahui raihan box office film yang katanya berbudget hampir AS$ 200 juta ini di pekan pertamanya "hanya" meraih AS$ 27,2 juta. Jelas merugikan. Lalu, kenapa pula sebuah film yang beralur lancar, penuh aksi dan efek khusus malah ternyata diemohi penonton?

Nah, ulasan yang tadinya hendak saya isi dengan pujian pada filmnya kemudian saya belokkan mencari jawab atas pertanyaan di atas.

Dan jawabannya, sidang pembaca budiman, justru terketak pada ceritanya yang asyik itu. Saking lancarnya, film ini malah terlihat tak memberi kabaruan pada jenis film semacam ini.

***

Mengangkat cerita dongeng lama lalu mengemasnya jadi tontonan seru sedang tren di Hollywood. Setelah Snow White (jadi Snow White and the Huntsman), Little Red Riding Hood (jadi Red Riding Hood), Alice in Wonderland (film berjudul sama), Hansel and Gretel (jadi Hansel and Gretel: Witch Hunters), kini giliran kisah Jack and the Beanstalk atawa Jack dan Pohon Kacang.(Nanti juga masih ada cerita versi baru Wizard of Oz.)

Seperti halnya tren film-film superhero di dekade lalu, berbagai jenis film superhero lahir, mulai dari yang biasa-biasa saja lalu dilupakan orang, yang keren, sampai yang menembus batas antara film superhero dan film kelas Oscar, seperti The Dark Knight (2008). Nah, untuk film-film dari cerita dongeng hal semacam ini rasanya belum kejadian.

Jack-the-Giant-Slayer2Jack the Giant Slayer pun terbilang tak istimewa dari segi penceritaan. Sebagai sebuah cerita dongeng versi baru dari dongeng lama, kisahnya terlalu familiar. Yakni tentang orang biasa yang akhirnya menjadi bangsawan (diperankan Nicholas Hoult), seorang putri yang terkekang oleh kehidupan istana dan ingin bebas bertualang (diperankan Eleanor Tomlinson), pengawal yang setia dan penuh dedikasi pada tugasnya (Ewan McGregor), raja yang begitu menyayangi putrinya, bangsawan yang memendam hasrat ingin jadi penguasa, makhluk-makhluk buas yang siap berperang. Itu semua resep usang yang dipakai oleh sutradara Bryan Singer (dua film X-Men dan Superman Returns).

Dengan resep itu, Singer tinggal meramunya dengan teknologi perfilman mutakhir: efek khusus dahsyat dan kamera 3D. Hasilnya, jadilah Jack the Giant Slayer tontonan memanjakan mata tapi dengan kisah yang sudah terlalu sering dikisahkan ulang.

Sejak Hollywood dengan amat baik menerjemahkan buku The Lord of the Rings awal 2000-an silam, para sineas di sana rasanya tak kesulitan menyuguhkan pertarungan spektakuler manusia dengan makhluk dongeng nan buas. Hal ini rasanya yang kemudian diambil sebagai jalan mudah untuk menerjemahkan ulang dongeng lama bagi penonton baru, yakni: beri mereka tontonan pertarungan spektakuler yang berbahan dasar teknologi animasi komputer canggih atawa CGI.

Saya bilang ini cara mudah bikin mata penonton dibuat kagum. Siapa yang tak asyik menonton pertarungan dahsyat antara raksasa dan manusia seolah nyata terjadi di depan mata? Namun, rasanya sineas Hollywood belum menyadari sepenuhnya pelajaran yang dipetik dari kesuksesan Christopher Nolan lewat The Dark Knight yang dikatakan mendefenisi ulang genre film superhero. Bila menontonnya kembali, kelihatan fokus Nolan bukanlah pada pamer efek khusus canggih melainkan pada cerita.

Ketika kampanye pemilu presiden tahun 1992, Bill Clinton fokus pada masalah ekonomi sampai-sampai harus mengingatkan dirinya sendiri, "It's the economy, stupid." Saya rasanya jadi ingin meminjamnya untuk mengingatkan para sineas di Hollywood sana, bukan efek khusus yang penting. Tapi cerita. "It's the story, stupid."

(ade/ade)