Petualangan Singa Pemberani 2: Kisah Mencari Es Krim Berlanjut

Petualangan Singa Pemberani 2
TABLOIDBINTANG.COM -

SEBAGAI sebuah produk, es krim ini memang legendaris.

Saya ingat, es krim rasa cokelat ini saat SD harganya Rp 500. Ia berada di jajaran es krim medioker, mengingat di bawah Paddle Pop masih ada Solo dan Apollo, masing-masing di kisaran Rp 200 dan Rp 400. Sementara es krim dengan segmentasi pelasure seekers kala itu harganya Rp 2.000. Maaf, bukan bermaksud promosi.

Nyatanya, hampir dua puluh tahun setelah itu ketika beberapa merek mulai gugur, Paddle Pop tetap berada di fitrahnya, di kelasnya, dan mengembangkan berbagai citarasa selain mempertahankan rasa klasik sekaligus basic, cokelat. Menariknya, bertahan saja tidaklah cukup baginya.

Karenanya, ia menjadikan merek sebagai sesuatu yang lebih bisa dilihat konsumen. Tak sekadar kudapan melainkan sosok yang bisa dijadikan idola bagi konsumen, anak-anak. Brand dihidupkan. Merek dijadikan nama. Petualangan Paddle Pop (Giring Ganesha) mencari tiga es krim dilanjutkan.

Bersama Liona (Putri Titian), ia menjelajahi Hutan Tanpa Batas, Minions, dan daratan salju untuk mencari es bertekstur pelangi. Di tengah hutan, mereka bertemu Rascal (Coboy Junior). "Meskipun namaku Rascal, tapi aku bukan anak nakal," Rascal memperkenalkan diri. Usai memperkenalkan diri sebagai kawan, Rascal mendadak jadi lawan. Ia mencuri es krim milik Paddle Pop lalu menghilang.

Rupanya, Rascal punya motif terhadap es krim ini. Ia ingin mengembalikan Hutan Tanpa Batas yang tandus menjadi hijau kembali. Seperti dulu. Di sisi lain, Shadow Master menyusun rencana agar Paddle Pop gagal. Ia mengutus paman Paddle Pop, Rex mendekati keponakan. Paddle Pop termakan rayuan Rex. Sementara Liona sejak awal menaruh curiga.

Mengapa Rex sekonyong-konyong datang dan menawarkan bantuan tepat pada saat Paddle Pop dan Liona pingsan di kutub? Kemana saja Rex selama ini? Melanjutkan jilid sebelumnya, dengan kru serta plot cerita yang dibuat sejak sekuel pertama dirancang, membuat Petualangan Singa Pemberani 2 (PSP2) memiliki kualitas yang tidak jauh dari pendahulunya.

Teknik animasi dan kelembutan grafis pun sama. Kurang rapi, kurang halus, dan pada beberapa garis masih terlihat agak pecah. Bagian kumis Liona misalnya, atau ketajaman gambar saat Liona jatuh ke dalam air dan beberapa adegan yang butuh tingkat kedetailan lebih. Mungkin, anak-anak tidak akan ambil pusing soal teknis. Yang membuat film ini berat memikat penonton, penuturan serta pembagian babak cerita. PSP2 memulai cerita dengan kilas balik, menjembatani cerita dari jilid pertama ke kedua.

Sesudahnya, konflik kerusakan Phoenix, pesawat Liona yang desainnya dirancang sang ayah. Puncaknya, pertarungan Paddle Pop bersama prajurit yang selama ini dipenjara dengan tentara Shadow Master. Di sinilah dilema terbesar bagi penulis Judah Ruiz dan Firman Halim.

Tak ada yang salah dengan plot peperangan sebagai klimaks cerita. Hanya, eksekusi adegan ini di layar lebar tanggung. Duo Salvador-Lee membuat adegan ini anti-klimaks, kurang kolosal padahal cerita menakdirkan Paddle Pop berada di lingkungan kerajaan singa. Yang tergambar pada layar hanya beberapa kelebat kegiatan yang kurang meyakinkan untuk disebut peperangan maupun baku hantam.

Selebihnya, adegan perang dipresentaasikan dalam bentuk asap dan kepingan puing. Salvador-Lee mungkin riskan menampilkan scene ini lebih detail, mengingat adegan kekerasan kurang pas untuk dikonsumsi anak-anak. Tapi percayalah, asap dan kepingan kehancuran bukan satu-satunya jalan menggambarkan peperangan ini.

Akhirnya, jalan yang dipilih dua sineas ini membuat cerita gagal mencapai klimaks. Selain persoalan klimaks, film kartun identik pula dengan dua hal: Lagu tema yang keren dan selera humor.

Lagu, salah satu alternatif untuk membuat khalayak selalu terkenang. Itu sebabnya, "Reflection”"(Christina Aguilera), "Can You feel The Love To Night" (Elton John), "A Whole New World" (Alan Menken), dan kebesaran tembang "Beauty And The Beast" (Alan Menken) sampai kapan pun melekat pada filmnya masing-masing. Begitu terdengar penggalan lirik "I can show you the world..." orang segera ingat pada kebesaran film Aladdin.

Semestinya, PSP2 juga punya persiapan ke arah sana. Jika filmnya terasa biasa-biasa saja, lagu tema bisa jadi penolong. Rumus lagu tema dan film memang klasik, tapi kerap efektif membangkitkan memori penonton (bahkan masyarakat yang tidak menonton sekalipun) pada film tertentu. Yang tidak nonton pun setidaknya sadar, bahwa lagu A adalah soundtrack film B. Ini soal awarness.

Kendala kedua, PSP2 terganjal keringnya selera humor. Ini penting, jangan sampai anak-anak terlalu serius menonton dan lupa pada aspek kegembiraan, yang sebenarnya menjadi tujuan utama sejak mereka datang dan membeli tiket bioskop. Semoga jilid ketiga lebih dahsyat!

Pemain: Giring Ganesha, Putri Titian, Coboy Junior
Produser: Lucky Lukman Hakim, Genesis Timotius, Christopher Santosa
Sutradara: Salvador Simo, Lee Croudy
Penulis: Judah Ruiz, Firman Halim
Produksi: Batavia Pictures, Pop Up 3D Production
Durasi: 85 menit

(wyn/ade)