Bangun Lagi Dong Lupus: Lupus di Tengah Perubahan Zaman

bangunlagidonglupus-h7
Adegan dari "Bangun Lagi Dong Lupus". (dok. Komando Pictures)
TABLOIDBINTANG.COM -

JAMBUL dan permen karet mewakili mereka yang menghabiskan masa remaja di dekade '80-an.

Lupus tokoh fiktif sekaligus personifikasi penulisnya, Hilman Hariwijaya. Tokoh ini mulanya mengisi kolom cerita bersambung majalah remaja Ibu Kota.

Pada 1987, Lupus dilirik Sudwikatmono, R Soeharso, dan Hatoek Soebroto. Tiga produser ini mengangkat Lupus ke layar lebar dengan Ryan Hidayat dan Nurul Arifin sebagai ikon. Ditanggapi baik masyarakat tapi memicu komentar kritis pengamat film. Lupus disebut: tidak ada jalur lurus. Ceritanya berjalan ke sana kemari. Lupus 2 malah divonis sebagai cerita yang tidak jelas juntrungannya.

Jilid ketiga makin dicerca. Karakter utama dinilai tidak memiliki kejelasan aktivitas tiba-tiba fasih bicara demokrasi dan keadilan sosial. Dan 22 tahun setelah Lupus V: Ich, Serem! dibuat, Hilman mengupayakan perbaikan cerita sebelum diproyeksikan kembali melalui proyektor digital.

Setelah ditinggal mati ayah, Lupus (Miqdad Addausy) hidup bersama ibu (Ira Maya Sopha) dan adiknya, Lulu (Mella Austen). Lupus diterima di SMA Merah Putih. Hari pertama, ia bertemu Poppie (Acha Septriasa) yang diturunkan pacarnya, Daniel (Kevin Julio), di tengah jalan setelah bertengkar di mobil.

Perkenalan Lupus dan Poppie terjadi di dalam bus Transjakarta. Hari pertama di sekolah, Lupus berteman dengan Boim (Alfie Alfandy), Gusur (Jeremy Christian), dan Anto (Fabila). Kedekatan Lupus-Poppie memicu kecemburuan Daniel. Puncaknya, ketika Poppie memutuskan hubungannya dengan Daniel.

Menyadari problem naskah yang diidap sejak 1987, Hilman dan Benni mati-matian memberi bobot pada skenario Lupus era 2013. Ini terlihat dari belasan adegan yang menjelma menjadi medium dakwah di awal cerita. Lupus berceramah soal tawuran memicu jatuhnya korban jiwa, soal bersyukur, sayang keluarga, salat, dan setumpuk pesan moral lain.

Di republik yang menjunjung pesan moral dalam film di atas segalanya, Bangun Lagi Dong Lupus (BLDL) di segmen awal terkesan agak menggurui. Atau dalam bahasa yang lebih lembut, terlalu sering mengingatkan penonton. Pesan moral yang disampaikan secara verbal sedikit mencederai konsep "gambar bicara" jika kita bicara identitas film sebagai gambar bergerak.

Yang patut diapresiasi, kepekaan dalam memilih bintang yang didapat di ruang audisi. Miqdad menyatu dengan Lupus. Sebagai figur yang merakyat di kalangan anak muda pada zamannya, Lupus masih merakyat. Wajah dan perangai Miqdad pas untuk melakonkannya. Ketampanan membumi tadi diperkuat dengan karakter pendukung yang mampu menghidupkan suasana.

Satu lagi, Acha yang asyik. Raihan Citra tahun lalu tak membuatnya super-picky memilih peran atau mengkhususkan diri pada film berat. Saat ditantang menjadi Poppie, ia tampil menjawab dengan level akting yang pas. Tidak "membanting" penampilan pendatang baru yang menjadi lawan mainnya.

Berkah yang Mengancam: Boim di tangan Alfie berkah sekaligus ancaman bagi Lupus. Berkah, karena hidup Lupus tanpa cowok dengan tingkat percaya diri 110 persen ini tidak akan penuh warna. Ancaman karena Boim adalah scene stealer. Bisa jadi ia lebih dikenang ketimbang karakter utamanya.

Pemain: Miqdad Addausy, Acha Septriasa, Kevin Julio, Jeremy Christian, Alfie Alfandy, Fabila
Produser: Eko Patrio
Sutradara: Benni Setiawan
Penulis: Hilman Hariwijaya, Benni Setyawan
Produksi: Komando Pictures
Durasi: 100 menit
Foto: Dok Komando Pictures

(wyn/ade)