Arti Sahabat: Mengikat Remaja dengan Cerita, Dialog, dan Emosi yang Kuat

Arti-Sahabat
TABLOIDBINTANG.COM -

SAAT sinetron stripping lainnya jatuh bangun membangun eksistensi agar panjang umur--jumlah episode sebanyak-banyaknya--Arti Sahabat justru melenggang mulus tanpa hambatan berarti hingga memasuki usia 8 bulan penayangan di Indosiar.

Sinetron remaja produksi Rapi Films itu meraih atensi yang tidak putus-putus dari para penonton setianya para remaja.

Forum-forum diskusi di laman internet masih saja ramai membicarakan bagaimana kira-kira kelanjutan cerita cinta dari pasangan Ajeng dan Yudha.

Sampai beralih menjadi sebuah harapan kalau pemeran aslinya artis belia Yuki Kato dan Stefan William betulan jadian di kehidupan nyata seperti halnya pasangan dari sinetron berepisode (sangat) panjang Cinta Fitri, Wisnu-Shireen.

Mengandalkan sentuhan berbeda

Menetapkan genre Arti Sahabat sebagai sinetron remaja -- alih-alih sinetron keluarga -- pilihan yang berani. Pasalnya, menjaring penonton remaja terbilang lebih sulit ketimbang penonton ibu-ibu.

“Karakteristik penonton ibu-ibu cenderung lebih loyal. Kalau mereka sudah menonton satu judul, mereka akan mengikutinya terus sampai selesai. Tidak seperti penonton remaja yang lebih kritis dan “tidak setia” ketika mulai ada yang tidak disukai pada tayangan yang mereka tonton,” ungkap sutradara Rudi Aryanto yang kami temui di lokasi syuting Kampung Artis, Jakarta Timur belum lama ini.

“Dalam membuat karya, kami tidak sengaja membatasi penonton. Tapi kalau sampai berhasil membuat penonton remaja setia, itu sesuatu yang bagus,” imbuhnya.

Meski sempat mengalami perombakan besar di awal pembuatan, Arti Sahabat akhirnya menemukan formula yang pas. Rudi yang bergabung di minggu kedua produksi membangun ulang fondasi sinetron, terutama dalam konsep eksekusinya di lokasi syuting.

“Sinetron remaja itu butuh sentuhan yang berbeda,” ujar Rudi.

“Upaya tersebut sudah terlihat pada produksi awal, namun tidak begitu kuat untuk bisa berumur panjang,” sutradara jebolan IKJ itu beranalisis.

Dalam kesimpulannya kemudian, penonton remaja (diduga) lebih menyukai gambar-gambar yang dramatis namun tidak njlimet. Adegan-adegan percintaan yang panjang tanpa perlu dialog lebar. Serta gaya akting para pemain yang sebisa mungkin natural.

Bagi penonton setia Arti Sahabat tentu mengenali spesifikasi yang disebutkan Rudi tersebut. Tidak ada akting meledak-ledak ataupun mata pemain yang sampai melotot-melotot penuh emosi. Gambar-gambar yang disajikan pun sekelas FTV dengan sudut-sudut fotografi yang tidak biasa.

Menonton adegan romantisnya Ajeng dan Yudha? Remaja mana tidak dibuat kesengsem karena dramatisasinya yang manis. Apalagi ada sisipan musik dan tari sebagai penghantarnya yang semakin membangun emosi penonton.

“Hal yang seperti di Glee (serial remaja Amerika yang tengah hit) itu ternyata disukai juga oleh penonton remaja Indonesia. Saya temukan penggemar yang saling berbagi potongan adegan semacam itu di internet. Adegan favorit katanya,” beber Rudi yang lebih aktif sebagai sutradara FTV.

Mengikat penggemar fanatik, chemistry Ajeng-Yudha dioptimalkan

Sejak di episode ke-15, Arti Sahabat menemukan pola genre remaja yang diinginkan.

“Kami bekerja keras untuk itu. Terutama para pemain hingga mereka mendapatkan karakter masing-masing yang kuat. Sekarang sudah lebih enak, tidak terlalu kerja keras lagi,” Rudi memberi gambaran. 

Mengintip syuting salah satu episodenya, kami membuktikan pernyataan Rudi. Bagaimana adegan demi adegan dalam Arti Sahabat dibuat serius dalam suasana yang santai.

Misalnya adegan romantis Ajeng-Yudha di tengah hujan. Kendati membutuhkan persiapan yang lama, hasilnya sepadan. Empat mobil tangki didatangkan untuk membuat efek hujan yang senyata mungkin. Dengan penyemprotan selang dari berbagai arah, tetesan air pun jatuhnya merata. Gambar yang dihasilkan dijamin tidak katro! Hehehe.

Keseriusan para pemain yang menyempatkan reading terlebih dulu sebelum pengambilan gambar dilakukan yang membuat dramatisasi adegan semakin maksimal.

“Mereka membaca naskah dulu untuk mendapatkan emosi dari adegan yang akan dibuat. Itu lebih penting dari sekadar menghapal dialog. Karena dialog masih bisa dibantu -- dengan pengulangan adegan atau dibisiki kru -- tapi ekspresi emosi cuma bisa dibangun oleh pemain sendiri,” terang Rudi yang mengakui Arti Sahabat sebagai proyek stripping pertamanya.

Omong-omong, sejak awal kami melulu menyebutkan Ajeng-Yudha. Tidak bisa dipungkiri, dua karakter tersebut yang memang paling menyita perhatian di Arti Sahabat. Pada sinetron yang kini hadir setiap harinya pukul 17.00 WIB itu, chemistry antara kedua pemainnya Yuki-Stefan menjadi favorit penggemar.

“Based on data sih demikian. Banyak yang meminta adegan mereka diperbanyak,” bocor Rudi.

“Dan yang saya lihat sekarang ini porsi mereka berdua diperkuat. Setelah sempat membagi porsi yang cukup banyak ke (karakter) teman-temannya, kami mencoba mengembalikan fokus ke mereka sebagai leading role. Tentu dengan problematika yang berbeda. Itu dipikirkan terus oleh sang mastermind cerita, Bu Sonya (Rapi Films),” ucapnya pasti.

Tidakkah berisiko mengikuti keinginan penggemar? Rudi meyakini, pro-kontra penonton justru memberi dinamika positif terhadap pengembangan cerita. Kalau memang menjual, kenapa tidak? Selama idealisme dirinya sebagai sutradara tidak dikesampingkan.

“Kalau soal cara eksekusi kan mempertaruhkan nama saya sendiri. Maka itu yang akan tetap dipertahankan,” Rudi berprinsip. Bagaimana dengan Yuki-Stefan, apakah mereka justru akan mengikuti keinginan penggemar untuk jadian betulan? Hmmm.

(wida/gur)