Kirana Larasati Tinggalkan Dunia Artis, dan Buka Toko Aksesoris


Kirana Larasati Tinggalkan Dunia Artis, dan Buka Toko Aksesoris

kirana-larasati-ryan-bi
Kirana Larasati (Ryan/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

Kirana Larasati (24) yang pernah terjerumus miras dan obat-obatan, memilih keluar dari dunia artis. Dia berhenti akting sejak 6 bulan lalu. Kini dia membuka toko gadget, aksesori, dan tempat refleksi.

Banyak yang menyayangkan keputusan bintang Purple Love ini. Tujuh tahun akting menjadi penghasilan utamanya. Dari profesi ini ia bisa membantu kehidupan keluarga dan dirinya sendiri. Puluhan juta bisa datang dalam hitungan hari. Tapi itu kebahagiaan dunia. Hatinya tidak bahagia. Ia mulai terbawa dalam kehidupan palsu, kesenangan palsu yang menyertai gemerlap dunia hiburan.

“Walau pertama mencoba bukan dengan teman-teman artis, saya mengonsumsi obat dan miras ketika sudah menjadi artis. Dunia hiburan memang ada sisi gelapnya. Kalau enggak kuat, kita akan 'dimakan'. Kenapa saya keluar (dari dunia akting), karena saya sadar, saya enggak cukup kuat,” ungkap Kirana.

Orang yang melihat dari luar mungkin bingung, tiba-tiba Kirana mengatakan mundur. Ia terpuruk dalam arus pergaulan menyesatkan. Di kamera tampak baik-baik saja. “Yang sakit jiwanya. Gara-gara minum, badan saya memang tidak terkena penyakit apa pun. Saya enggak kecanduan. Memang dari dulu saya kurus. Hati dan jiwa saya menjerit. Saya tahu kalau sebenarnya apa yang saya lakukan enggak benar. Dunia hiburan banyak tekanan, dan kita pikir lewat barang-barang itu kita bisa senang, itu bohong.”

Karena itu enam bulan lalu, ia memutuskan menyudahi semuanya. “Saya tidak mau mengulangi kesalahan yang dulu. Saya mau berubah,” tegas Kirana. Apa pun yang terjadi setelah keluar dari dunia akting, ia pasrahkan kepada Tuhan.

Untuk hidup sehari-hari, kini ia mendapatkan penghasilan dari toko yang dibuka bersama sahabatnya, Deddy Cobuzier dan kawan-kawannya di Ratu Plaza, Jakarta Selatan. Ada toko gadget, Fosfor, toko beraneka ragam perlengkapan dan aksesori Wicked, dan tempat refleksi Foot Step. Kirana juga mengajak sang ayah bergabung. “Jujur, godaan banyak datang. Penghasilan dari toko, jauh dibanding penghasilanku dulu. Dan semakin banyak tawaran sinetron, film, dengan tawaran tarif tinggi. Saya tetap pada keputusan saya,” tegas Kirana. Uang bukan segalanya.

Kini ia merasa bahagia. Senin hingga Minggu melayani pembeli, kadang mungkin hanya mendengarkan obrolan mereka. “Saya tetap bisa makan enak kok, tetap bisa modis. Dan saya lebih bahagia.” Ia menyebut toko Wicked sebagai “a place of hope”, lokasi penuh harapan. Di sana ia berjualan aksesori, jas-jas unik, buku, pernak-pernik, properti, boneka, bertema gothic. Di sana ia menerima teman atau tamu untuk mencurahkan isi hati.

“Mengapa saya suka menggambarkannya sebagai a place of hope, karena barang-barang ini bukan kebutuhan primer. Tapi orang mungkin beli, karena barang ini mengingatkan dia akan sesuatu yang dia senangi. Membuat orang yang tadinya sedih, bisa punya harapan baru lagi,” ungkap Kirana.

(val/yb)