Mengenal Lucky, MasterChef Indonesia Pertama


Mengenal Lucky, MasterChef Indonesia Pertama

LUCKY-AKROM-TEEN
Lucky, dinobatkan sebagai MasterChef Indonesia pertama. (foto: Akrom/Teen)
TABLOIDBINTANG.COM -

SELAMA ajang MasterChef Indonesia (MCI) bergulir, tidak ada yang menyebut nama Lucky (31) sebagai kandidat pemenang. Tapi justru ia yang akhirnya jadi juara. 

Nama yang beredar di bursa unggulan tak jauh dari Albie, Fero, Santiana, dan tentu saja Agus Batik. Tapi ketika perhelatan menyisakan 5 peserta, Lucky tiba-tiba menyeruak. Dari sosok yang semula dikenal jago untuk masakan Barat dan Asia, Lucky tiba-tiba menang pada tantangan masakan lokal. “Kuncinya harus sabar, mau banyak mendengarkan masukan, dan mengontrol emosi,” jelas Lucky dengan wajah semringah.

Lucky maklum, kalau pada awal lomba tidak dijagokan. “Saya masuk 8 kali babak eliminasi. Emosi saya kurang terkontrol, sehingga saya banyak mengalami kendala. Selama episode demi episode mungkin saya sudah tahu apa yang saya lakukan, tapi tekniknya bisa saja salah. Hasilnya tidak seperti yang dikehendaki,” kenang Lucky akan penampilannya yang lampau.

Penampilan Lucky juga tak bisa diprediksi. “Kalau habis menang, minggu depannya saya pasti masuk babak eliminasi. Kenapa bisa seperti itu karena saya emosional. Pada saat memberi reaksi pada komentar juri, di Twitter banyak yang bilang saya sombong. Padahal bisa jadi sikap keras saya waktu itu menutupi kelemahan saya. Dan lagi orang harus tahu, apa yang ada di televisi itu merupakan hasil editing. Aslinya saya tidak seperti itu,” urai pria asli Malang ini.

Setelah mampu mengontrol emosinya, Lucky melihat hasil yang lebih baik. “Itu semua proses. Saya banyak belajar, melihat, dan saya tidak lagi mudah menyerah. Hasilnya, saya bisa menang di 4 tantangan terakhir,” terang pria yang sangat mengidolakan masakan neneknya ini.

Tubuh yang besar banyak menggiring orang pada kesan yang salah. Selain dikira sombong, banyak yang menyangka Lucky sudah berprofesi tukang masak. “Pendidikan saya marketing, lulusan sebuah universitas di Australia,” beri tahu Lucky. Keluarga Lucky bergelut di bidang furnitur sejak berbilang tahun. “Makanya begitu lulus, saya bergabung dengan perusahaan furnitur sepupu saya. Setelah beberapa tahun, saya mencoba usaha sendiri.” Karena hasratnya pada dunia kuliner begitu menggelegak, Lucky memberanikan diri ikut MCI. “Saya berhenti bekerja dan fokus di sini. Syukur, hasilnya sepadan,” jelas Lucky.

Soal hobi memasak, dalam penjelasan Lucky sudah dilakukannya sejak kelas 3 SD. “Masakan pertama saya adalah telur dadar campur saus tomat dan kecap. Hasilnya? Enak,” kata Lucky terkekeh. Dari situ dia mengembangkan minatnya. “Pasalnya saya suka makan, keluarga juga suka makan. Kalau nanti ada VT pulang kampung, bisa dilihat kalau badan anggota keluarga saya besar-besar,” jelas Lucky dengan tawa berderai.

Hanya saja, Lucky sejak awal sudah mengambil jalur berbeda. “Karena nenek, ibu, tante saya semuanya ahli masakan Indonesia, saya tertarik untuk mencoba masakan asing. Pikir saya, ngapain belajar masakan Indonesia kalau semua orang sudah bisa melakukan,” ulasnya. Tak dinyana, kebiasaan itu terbawa hingga saat Lucky kuliah di Australia. “Di sana saya mencoba banyak masakan dan sering bertelepon dengan nenek saya untuk mencari tahu resep andalannya,” kenang pemilik nama Lucky Andreono ini.

Gelar Papa Bear dan Tragedi Fero
Lucky masih tidak menyangka bisa masuk babak 2 besar. “Perasaan saya jelas senang, enggak menyangka banget. Target saya awalnya 15 besar, naik lagi jadi 10 besar. Ketika masuk 5 besar memakai jaket chef, saya pengin mendapat gelar juara,” katanya antusias. Gelar juara dan hadiah tidak sebanding dengan pengalaman yang didapat. “Di Galeri MasterChef, saya bisa belajar dari para chef master hebat dan bisa  mendapat nama. Ini promosi yang tak ternilai harganya,” terang Lucky.

Akan tetapi berkompetisi dengan rekan-rekannya di MCI juga merupakan bagian terbaik. “Kami tidak cuma saling bersaing menunjukan kemampuan terbaik, tapi juga berkawan baik.” Dari situ juga panggilan Papa Bear ditujukan. “Sebenarnya panggilan itu sudah ditujukan kepada saya sejak kuliah, karena badan saya besar dan suka menerima curhat. Eh di MCI semua kembali memanggil saya dengan sebutan itu. Awalnya karena Priscil,” ingat Lucky.

Bukan berarti semuanya mulus-mulus saja. Lucky juga pernah kena hardik banyak penggemar MCI, karena terlibat dalam tragedi eliminasi Fero. “Yang orang lihat hanya bagian akhirnya saja. Padahal semua itu ada prosesnya dan karena saya berada di situ, mau tidak mau saya terlibat. Tapi syukurlah hubungan saya dengan Fero masih baik. Setidaknya saya masih berbicara dengan Fero dan Fero mengaku cukup tersanjung ditakuti para pria,” jelas Lucky.

Predikat finalis MCI dipergunakan Lucky sebaik mungkin. “Saya senang setidaknya bisa memiliki modal materi dan citra.“ Lucky telah melihat sejumlah peluang untuk masa depan. “Saya berniat membuat resto sendiri. Konsepnya easy dining. Sekarang ini banyak orang ingin makan enak harus mengeluarkan uang banyak, namun tidak kenyang. Seperti pengalaman saya kalau makan di restoran sejenis itu, pulang-pulang pasti lapar dan ujunga-ujungnya beli martabak manis dan martabak telur. Saya pengin buat resto yang harganya terjangkau, enak, dan pulangnya pengunjung kenyang,” harap Lucky.

Selain itu Lucky berambisi untuk memiliki acara sendiri. “Temanya juga tidak sama dengan acara lain. Saya tidak ingin memasak di dapur studio atau alam. Saya justru ingin mendatangi dapur masyarakat awam. Di sana pasti akan menemukan banyak tantangan. Ada yang peralatannya mungkin canggih seperti di hotel, tapi pasti ada yang sederhana. Nah, intinya saya ingin memberi tahu, apa pun bentuk dapurnya, kita tetap bisa memasak dengan enak,” urai Lucky.*** hari

(hari/ade)