Minus Karoba, disukai John De Rantau Membawa Keberuntungan Kariernya

minus-karoba-mark
Minus Karoba (Markuat/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

SEBERAPA istimewa sosok bernama Minus, hingga namanya dijadikan judul sitkom yang dibintanginya, Keluarga Minus, seperti pernah dialami aktris ngetop Nikita Willy dengan sinetronnya yang berjudul Nikita?

Ternyata di balik keterlibatan Minus, ada peran sutradara John De Rantau yang kurang-lebih memberinya koneksi khusus ke pihak Trans TV. Karena sutradara nyentrik ini sempat beberapa kali kerja bareng Minus dalam proyek layar lebar, antara lain Mencari Madonna dan Denias. Proyek komsit Papua? Siapa lagi kandidat yang lebih cocok kecuali Minus?

“Waktu itu saya lagi ada di Jakarta mengerjakan FTV bareng Ari Sihasale. Terus ketemu John di IKJ. Dia bilang sama saya lagi ada rencana bikin proyek sinetron yang bernuansa Indonesia satu. Insya Allah kalau ke depannya lancar, saya mau bikin Keluarga Minus. Jadi kalau nanti sudah waktunya main, kamu balik lagi ke sini (Jakarta) untuk main. Begitu kata John,” cerita Minus.

Waktu berselang, proyek KM rupanya jadi dikerjakan. Minus yang tengah menanti masa pra jabatan PNS manut ketika diminta datang ke Jakarta kembali oleh John dan memulai syuting.

“Saya tidak menolak karena ini kan dikerjakan John dan saya pasti mau kerjasama dia. Tapi ini pengalaman bagus juga, pertama kali main sinetron,” kata Minus yang lulusan IT dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura.

“Dan peran yang saya mainkan tidak jauh dari karakter asli saya sendiri yang orang Papua dan berdialek Papua. Saya memang harus menampilkan itu di sini. Termasuk dengan MOB-MOB andalan saya,” imbuhnya.

Bagi yang belum paham, MOB dalam penjelasan Minus berarti Menipu Orang Banyak. Seperti sebuah rangkaian cerita yang sengaja dibuat lucu sekaligus mengajak pendengarnya berpikir logika. Minus yang di kampusnya terkenal sebagai raja MOB memberi salah satu contoh.

“Ada seorang petinju menjemur jaketnya. Di jaket, dia menulis: Jaket ini milik petinju. Jadi tidak ada seorang pun yang akan mencuri. Lalu dia istirahat. Setelah itu muncul pencuri. Dia ambil jaketnya, kemudian tulis lagi: kalau jaketnya hilang, jangan kejar. Karena pencurinya juga pelari nasional. Hahaha. Yang lucu-lucu seperti itu,” tutur Minus yang oleh orangtuanya sengaja diberikan nama “berbeda”.

Lantas, apa sih yang membuat John begitu menyukai Minus hingga mengajaknya selalu dalam proyeknya? Di Denias pun, John mengajak Minus yang akhirnya kedapatan peran sebagai Enos. Padahal sebelumnya tidak ada karakter tersebut dalam naskah. Dalam pengetahuan Minus, (dulu) John menyukai tingkahnya yang polos. Disuruh apa saja, walau tidak pengalaman, dia akan melakukannya tanpa malu.

“Dulu saat beradegan katanya polos. Sekarang sih sudah tidak (polos) lagi. Hahaha,” seloroh Minus yang kelahiran 5 Mei 1985.

minus-john-de-rantauBermain komsit stripping memberi Minus pengalaman berbeda yang membuatnya tidak “sepolos” dulu lagi. Kini penggemarnya semakin banyak. Tidak terbatas mereka yang mengenal sosok Enos di Denias saja.

Kewajiban untuk melayani media dan wawancara pun meningkat. Minus yang dulu benci difoto, kini harus pandai-pandai berpose manis demi penggemar. Ketika kami menemuinya di lokasi syuting saja, entah berapa kali ibu-ibu atau anak-anak yang ada di sekitar lokasi mengajak sosok laki-laki bertubuh gempal ini foto bareng.

“Ternyata terjun di film itu wajib foto,” ujar Minus yang mengawali karir akting lewat film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja di tahun 2003.

Selain itu, kesempatan bermain di KM membuatnya lebih banyak belajar akting. Dari lawan-lawan mainnya seperti Melvy Noviza atau Mas Paijo, Minus belajar akting yang lebih nyata dari sekadar tampil polos apa adanya, seperti yang biasa dilakukannya dulu. “Iya, saya banyak belajar akting dengan teman-teman di sini. Mereka sudah lebih berpengalaman di dunia sinetron. Senang sekali,” kesannya.

Sudah nyaman dengan dunia akting, banyak belajar dari rekan sesama pemain, apakah Minus akan konsisten di akting hingga waktu kelak? Sayangnya, tidak ada rencana itu dalam pikirannya. Minus yang di tahun 2009, selepas lulus kuliah, pernah coba-coba terjun ke dunia politik di Papua, rupanya masih ingin mengejar ambisinya tersebut. Diam-diam, Minus menargetkan jabatan bupati sebagai profesinya kelak.

“Saya pengin jadi bupati,” aku Minus. Lagi pula, tinggal di Jakarta tidak terlalu membuatnya bergembira. Dia bosan melihat tembok beton di mana-mana. Hampir setengah tahun di Jakarta – rekor terlama Minus tinggal di Jakarta – selalu kangen dengan pemandangan indah kampung halamannya di tanah Papua.

“Kalau kangennya tidak ketahan, saya biasa ke PGC (Pusat Grosir Cililitan). Di sana banyak teman-teman Papua. Bisa nongkrong bareng dan tukar cerita.”

Hingga kangennya pun sedikit terobati.

Ya, sementara KM masih akan berepisode panjang, bolehlah sambil menjaring penggemar, sambil mengumpulkan massa untuk pemilihan bupati nanti. Hehehe.

(wida/gur)