Pengalaman Teuku Rifnu Wikana 2 Bulan Ngamen di Jalan Sudirman


Pengalaman Teuku Rifnu Wikana 2 Bulan Ngamen di Jalan Sudirman

teuku-rifnu-markuat
Teuku Rifnu (Markuat/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

NAMANYA kerap membayangi Lukman Sardi dalam banyak produksi layar lebar. Dalam catatan kami, cowok kelahiran  3 Agustus ini telah membintangi 14 film dengan peran bervariasi. Dari sekadar menumpang lewat, peran pendukung hingga peran utama.

9 Naga, Mendadak Dangdut, Pocong, Maaf Saya Menghamili Istri Anda, XL: Antara Aku, Kau & Mak Erot, serta Melodi. Terakhir, ia memerankan Dayan, pejuang asal Bali dalam dwilogi Merah Putih. Teuku Rifnu Wikana (30) tinggal menunggu waktu untuk diakui sebagai yang terbaik.

“Dari suaranya, pasti situ orang teater,” duga kami saat bertemu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, di akhir pekan. Wika, begitu kami menyebutnya, berkenalan dengan dunia teater sejak kelas 4 SD. Wika kerap tampil dalam pertunjukan teater menjelang 17 Agustus atau perayaan Maulid Nabi di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ia selalu dipercaya memerankan tokoh utama.

Terpilih jadi pemeran utama karena, selalu juara satu lomba membaca pusisi. “Saya tidak pernah bertanya mengapa. Saya baru tahu setelah dewasa. Pembaca puisi harus aktor, agar bisa memainkan teks. Teks dalam pusisi penuh metafora. Kalau bisa memahaminya, kita bisa menjelma jadi penyair. Itu bisa dirasakan penonton,” tuturnya. Bintang Laskar Pemimpi kali pertama membawakan Aku karya Chairil Anwar.

Kiprahnya diakui di daerah Timbanggalung dan Simalungun, Sumatera Utara. Anehnya, ketika dipanggil untuk lomba baca puisi tingkat pusat, selalu batal. Dua kali masuk grand final, dua kali pula tidak terlihat batang hidungnya. “Beberapa kali tidak jadi karena saya mau memancing belut. Moody, begitulah saya. Merasa sudah jago, sudah menang. Jadi enggak perlu lomba-lomba lagi,” kenang Wika.

Kiprahnya berlanjut dengan menyiar di Radio CAS FM, Pematang Siantar. Di sana, suami Aida Fuady sempat duduk di kursi Station Manager. “Pernah juga jadi tenaga marketing. Sialnya selalu gagal meyakinkan klien. Saya pernah melobi klien. Lha kok malah saya yang diyakinkan klien,” tutur mantan mahasiswa Institut Teknologi Medan Jurusan Planologi ini.

Lepas dari rasa malu pada klien, Wika menjajal dunia lain. Putra Teuku Syariffudin dan Cut Rosda Afriani ini menggelar Parade Musik dan Lomba Tanding Winning Eleven (play station). Bukannya untung, Wika buntung 2,8 juta rupiah.

Lawan main Tukul Arwana dalam Otomatis Romantis dikejar-kejar sponsor. “Intinya, Planologi bukan tujuan hidup. Seharusnya, hidup saya ada di IKJ bergaul dengan orang-orang seni. Hanya, orangtua saya punya banyak anak. Tidak mampu kalau harus kuliah lintas pulau,” ujar Wika.

Kuliah hancur. Wika merasa gagal membahagiakan orangtua. Yang tersisa hanyalah tekad berbalut nekat untuk pindah ke Jakarta. Kembali ke dunia seni yang telah ditinggalkan.

Pada 2003, stasiun televisi ngetop menggelar Festival Film Independen Indonesia (FFII). Saat itu, Rifnu berpikir, sekaranglah saatnya kembali ke dunia teater. Ia meracik naskah berjudul nyentrik: Tumino, Tumini, Tomorrow.

Wika turun tangan menjadi pemain, penulis naskah merangkap sutradara. Karya Wika menembus 16 besar dan menerima piagam dari Christine Hakim. Merasa mendapat titik cerah, Wika mantap menetap di Jakarta.

“Saya tujuh kali diusir dari kos karena tidak mampu bayar. Padahal bayar kos waktu itu hanya 150 ribu. Tapi mau bayar pakai apa, mengingat saya tidak memiliki penghasilan sama sekali. Akhirnya, saya memilih alternatif terakhir, jadi pengamen di Jalan Sudirman. Lumayan buat makan. Saya ngamen di bus Mayasari Bhakti,” sambungnya.

Dalam hati terucap doa, semoga pendengar radio di Medan tidak ada yang bekerja di Jakarta.

Kalau toh ada pekerjaan lain, jadi pengisi suara iklan. Wika sempat dipanggil ke Kantor Swanten di Sahardjo, Jakarta Selatan.

“Uangnya tidak bisa langsung dicairkan. Biasanya baru cair dua minggu kemudian. Itu pun kalau hasil iklannya di-ACC. Kalau enggak, ya… enggak digaji. Makanya saya ngamen,” jelasnya.

Lumayan, ngamen sehari dapat 80 ribu. Setelah dua bulan, Wika sampai pada kesimpulan, ternyata hidup itu susah! Haruskah kembali ke rumah orangtua?

“Nak, bagaimana keadaanmu di Jakarta?” tanya Teuku Syariffudin dari ujung telepon.

“Alhamdulillah, saya sehat di Jakarta,” jawab Wika menipu diri sendiri.

Padahal Wika sudah dua hari tidak makan. Tapi jika fakta sebenarnya diungkap, ayahnya pasti syok. Wika bingung harus berbuat apa lagi demi uang halal.

Di luar seni, sebenarnya ia pintar memasak dan memangkas rambut. Apakah harus menjadi juru masak atau kapster salon? Sampai di sini, Wika masih yakin rezeki itu pasti datang dari dunia seni.

Hidup Wika bagai berjalan di titik nadir. Bukan Wika namanya jika tunduk pada nasib. Suatu ketika, ia  bergabung di komunitas seni di Jakarta. Di sana, Wika bertemu salah satu tokoh teater, Jose Rizal Manua.

Entah di mana daya tarik Wika, Jose langsung memberinya tiga peran. Jose meminta Wika kos di depan rumah. Semua buku tentang seni peran milik Jose dialihkan ke kos Wika. Gratis!

teuku-rifnu-markuat-Ja-Thumnbanil-Off-yaUsai pementasan, Jose menyuruh Wika mengantar anaknya, Nusa, ikut kasting film Mengejar Matahari. Niko, asisten sutradara Rudy Soedjarwo, menyapa Wika. Ia menyuruh Wika sekalian ikut kasting.

“Oke Wika, kamu peragakan adegan ini. Ada orang lewat di depanmu. Lalu kamu memanggil orang itu dan kamu minta duit ceban. Setelah itu kamu pukuli dia. Enggak lama kemudian, si korban memanggil teman-temannya dan mereka balik memukuli kamu,” pinta Rudy.

“Ceban berapa, Bang?” tanya balik Wika.

“Astaga, 10 ribu.”

Diam-diam, mata Rudy terus mengawasi gerak-geriknya. Wika pulang ke kos. Ponselnya mati, charger baterai ponsel rusak. Bagian kepala charger patah. Ia berinisiatif memotong kepala charger. Kumparan kabelnya langsung dihubungkan ke dalam lubang colokan. Tak lama kemudian terdengar ledakan dari dalam kamar. Induk semang kos murka. Wika diusir.

Di sela nasib naas, kabar baik datang dari rumah Jose. Nusa lulus kasting tahap pertama. Lagi-lagi, Wika diminta mengantar Nusa ke kantor Rudy. Sampai di sana, salah satu asisten Rudy menghampiri.

“Mas, ke mana saja sih? Dihubungi lewat ponsel susah sekali. Mas lolos, dan sekarang diminta ikut kasting berikutnya,” beri tahu si asisten.

Wika menjalani kasting tahap lanjutan tanpa banyak cakap, tanpa banyak harap. Beberapa hari berlalu. Tanpa kabar.

Menjelang malam, di Gedung Pemuda, Rawamangun, Jakarta. Wika berdiskusi dengan teman-temannya soal produksi teater karya Remi Silado.

Nusa menitipkan ponsel padanya. Muncul niat usil Wika, mengganti kartu Nusa dengan kartu selulernya. Selang beberapa menit, ponsel itu berbunyi. Suara dari ujung sana memberi kabar.

“Halo, dengan Mas Wika. Kami dari Kipas comm mengucapkan selamat. Mas terpilih menjadi salah satu kasting untuk film Mengejar Matahari. Besok mohon datang ke kantor kami jam 13, ya.”

Mendengar pemberitahuan ini, Wika bergegas meninggalkan meja diskusi. Ia berlari ke masjid. Sujud syukur di sana. Bersimpuh, mencium sajadah. Ketika salah satu jemaah naik, mendekati corong pengeras suara hendak mengumandangkan adzan, Wika beringsut, meminta jemaah itu mundur untuk digantikannya.

Ia naik. Sesat kemudian, terdengar suara Wika menusuk udara. “Allahu akbar, Allahu akbar…,” Wika menyerukan asma Allah, sambil berurai air mata.

(wyn/gur)