Titien Wattimena: "Modal Jadi Penulis, ya Harus Cinta Menulis"

Titien Wattimena
Titien Wattimena (Markuat/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

SELAMA delapan tahun berkarya, cerita yang dirangkai Titien Wattimena kerap membuat juri-juri festival kesengsem.

Ia dinominasikan untuk Skenario Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) berkat Mengejar Matahari, Tentang Dia, Minggu Pagi di Victoria Park, dan ? (Tanda Tanya). Uniknya, ia justru membawa pulang Piala Vidia untuk kategori yang sama lewat FTV Sebatas Aku Mampu di FFI 2006. Prestasi tidak membuatnya lengah.

Titien sadar roda regenerasi terus menggelinding. Kelak, "tinta-tinta" baru bermunculan. Untuk melahirkan tunas baru, ia mengajar di Serunya Screen Writing milik Perdana Kertawiyudha. "Modal jadi penulis, ya harus cinta menulis. Kalau tidak ada itu, buat apa menulis hanya untuk kejar uang. Saya selalu menanamkan dalam diri murid-murid, kalau sehari tidak menulis satu kalimat saja, kalian harus merasa pusing. Tiada hari tanpa menulis. Apa pun itu," urai penulis skenario In The Name Of Love.

Cinta biasanya akan dihalangi bosan atau bad mood. Jika ini yang terjadi, Titien melarikan diri dengan bermain game atau melakukan hobi lainya, fotografi.

Menulis membutuhkan hati. Dengan hati, menulis naskah film bisa tuntas dalam dua pekan. Itu terjadi saat Titien menggubah cerita film.

"Menjadi penulis amat menjanjikan. Jumlah penulis skenario sedikit, mungkin karena karena film biasanya dikenal lewat sutradara atau pemain. Bukan siapa yang nulis naskah. Mereka di bawah bayang-bayang sutradara. Kerap dilupakan. Padahal naskah itu nyawa film. Selain itu, banyak penulis naskah yang maunya instan. Uang itu akibat kecintaan kita ketika menulis. Jika menulis dengan hati, hasilnya pasti bagus. Kalau hasilnya bagus, honor mengikuti kualitas yang Anda berikan," pungkasnya.

(wyn/adm)