Jonas Rivanno Seimbangkan Pendidikan dan Karier Sinetron

Jonas-Rivanno-Anggie-BI-1
Jonas Revanno (Hernowo Anggi/BI)
TABLOIDBINTANG.COM -

DEBUT Jonas Rivanno (26) dimulai pada 2007 ketika memenangkan kontes model gelaran majalah remaja Ibu Kota.

Vanno membawa pulang piala "The Best Catwalk". Kemenangan ini berbuah manis. Ia berkenalan dengan Johandi Yahya. Johandi membawa Vanno ke ruang audisi rumah produksi Sinemart.

Tidak perlu menunggu lama, hanya dalam hitungan minggu, aktor setinggi 187 cm ini dipercaya mendampingi Velove Vexia di sinetron Khanza (2008). "Saat ikut screening test, sutradara mengkritik begini: 'Ah! Lo enggak bisa apa-apa!' Yang membuat saya terharu, di belakang, sutradara meyakinkan produser bahwa saya bisa berakting. Itu luar biasa. Tidak akan saya lupakan,” kenangnya.

Vanno memulai karier dari kontes model Ibu Kota. Sebenarnya, modeling bukan hal baru bagi Vanno. Sebelum ke Jakarta, ia sering dipanggil untuk menjadi model freelance di Surabaya. Ia tinggal di Surabaya sejak kelas 1 SD hingga semester 5 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

"Pindah ke Kota Pahlawan karena mengikuti perjalanan dinas Papa. Papa bekerja di perusahaan komunikasi. Sebelum pindah ke Surabaya, saya menetap beberapa bulan di Balikpapan," ungkap lawan main Agnes Monica di sinetron Kawin Massal. Ada banyak kenangan di Surabaya. Salah satunya, ketika kelas 2 SMA. Vanno berencana untuk membolos ke luar kota. Ke Malang.

Tak main-main, Vanno merencanakan pembolosan bersama sebelas teman. Rencananya begini, Vanno dan kawan-kawan berangkat dari rumah, pamit kepada orang tua untuk bersekolah. Sampai di sekitar sekolah, bablas ke Malang. Sialnya, salah satu guru melihat Vanno dan sebelas temannya di sekitar sekolah. Curiga, guru itu menelepon satu per satu orang tua dari 12 murid ini. Sialnya lagi, dari 12 orang tua yang ditelepon guru, hanya satu yang mengangkat telepon.

Satu-satunya orang tua yang mengangkat telepon itu ialah Leony Pattipeilohy, ibunda Vanno. "Apes. Mama marah besar. Mama mendiamkan saya dua bulan! Maklum, ketika menerima telepon dari sekolah, Mama sedang di kantor. Sebagai hukuman, saya diminta mengisi buku kredit absensi. Itu kali pertama saya membolos, dan gagal!" Vanno bercerita.

Tidak berhenti sampai di situ, Leony terpaksa mendatangi pihak sekolah. Ia menjelaskan bahwa putranya anak baik-baik. Baru sekali "belajar" bolos. Alasan Vanno membolos adalah lelah dan jenuh sekolah melulu. Akhirnya guru memahami dan menyarankan, kalau lelah atau jenuh, ia diizinkan untuk pulang lebih awal. Kemarahan ibunda membuat Vanno sadar, ia mengecewakan orang tua.

Sejak itu, ia tidak pernah bolos lagi. "Saya belajar dari kesalahan. Berusaha bersikap bijaksana dan mencari cara membuat orang tua bangga. Setelah lulus SMA, saya mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Pilihan pertama, Teknik Arsitektur Universitas Indonesia. Pilihan kedua, Elektronik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Saya diterima di ITS. Dua tahun berikutnya ikut SPMB lagi dan lolos Jurusan Teknik Lingkungan ITS," lanjutnya.

Vanno menjalani dua kuliah untuk dua gelar sarjana. Satu gelar sudah didapat. "Satu gelar lagi masih dikejar. Sejak SMA memang menyukai matematika dan biologi. Nilai fisika jeblok. Tapi mulai bagus nilainya setelah kuliah. Berhubung saya mengambil jurusan elektronik industri, mau tidak mau saya harus cerdas fisika," pungkasnya. Intinya, pendidikan dan karier bagi Vanno sama pentingnya.

(wyn/adm)